Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #40

#40 SAAT AKU MENYADARI: YANG DIPERANGI RASULULLAH ADALAH PATRIARKI

Aku memulainya dari cinta.

Karena aku percaya, dari situlah kebenaran sering membuka pintunya.

Zainab binti Muhammad adalah putri sulung Rasulullah. Ia menikah jauh sebelum kenabian, dengan sepupunya sendiri, Abu Al-‘Ash bin Rabi’. Pernikahan itu bukan pernikahan politik, bukan pula simbol dakwah. Itu murni pernikahan dua manusia yang saling mencintai.

Ketika wahyu turun dan Muhammad diangkat menjadi Rasul, Zainab termasuk orang pertama yang beriman. Ia menerima kebenaran itu dengan keyakinan penuh. Namun Abu Al-‘Ash tidak serta-merta mengikutinya. Ia bukan lelaki zalim. Ia jujur, amanah, dan dihormati Quraisy. Tapi ia memilih tetap pada keyakinan kaumnya.

Dan di titik itu, aku tersentak.

Rasulullah tidak memaksa.

Tidak menjadikan iman sebagai alat pemutus cinta.

Zainab tetap bersama suaminya, meski berbeda keyakinan. Sampai satu peristiwa besar mengguncang seluruh jazirah: Perang Badar.

Aku berhenti membaca sejenak.

Perang.

Mengapa perang?

Maka aku mundur lebih jauh ke belakang, menelusuri kehidupan kaum Quraisy.

Mereka bukan hanya menolak Islam. Mereka adalah penjaga sistem lama: sistem yang menuhankan berhala sebagai simbol kekuasaan, sistem yang menindas budak, sistem yang memperlakukan perempuan sebagai milik, sistem yang mengubur bayi perempuan hidup-hidup, sistem patriarki yang menjadikan status dan darah sebagai ukuran manusia.

Islam datang membawa satu kata yang menghancurkan seluruh fondasi itu: Tauhid.

Dan karena itulah kaum Quraisy memerangi Rasulullah. Bukan karena dakwah menyerang, tapi karena dakwah menggoyang kekuasaan.

Mereka menyiksa kaum muslim, merampas harta, mengusir dari Makkah, dan berkali-kali merencanakan pembunuhan Nabi.

Perang Badar pun terjadi.

Dan di medan itulah, Abu Al-‘Ash berada di pihak Quraisy. Ia tertawan.

Lihat selengkapnya