Aku berusaha sungguh-sungguh menjauh dari Putra. Menghapus Instagram, menutup pintu-pintu kecil yang biasa membuat namanya menyelinap masuk tanpa izin. Aku ingin tenang, ingin memberi jarak pada hatiku sendiri. Bukan karena cinta itu hilang, tapi karena aku ingin berdiri utuh tanpa bergantung pada tanda-tanda yang sering membuat dadaku bergetar. Kupikir, dengan menghilang dari layar, aku juga akan menghilang dari pusaran rasa.
Namun hidup punya caranya sendiri untuk mengetuk. Suatu hari, seorang kawan mengirimkan tangkapan layar. Tanpa pengantar panjang, hanya satu kalimat: “Ini angka yg sama kan pas Kalian ketemu? 🥹” Di layar itu, Putra berdiri mengenakan baju kuning. Di dadanya tercetak jelas angka 1919. Diunggah pada 19 Februari. Kawanku tahu, angka itu bukan angka sembarang bagiku. Angka pertemuan aku dan dia. Angka yang entah bagaimana selalu kembali.
Jantungku berdetak kencang, seperti dulu. Ritme yang sama, panggilan yang sama. Tapi kali ini aku tidak panik. Tidak ada dorongan untuk menafsirkan berlebihan atau mengejar makna hingga lupa berpijak. Aku menarik napas panjang, menenangkan diri, dan memilih berserah sepenuhnya pada Allah, pada apa pun yang akan terjadi setelah ini. Jika ini pesan, biarlah datang tanpa aku paksa. Jika ini hanya kebetulan, biarlah berlalu tanpa aku kejar.
Meski begitu, hatiku tetap bergumam pelan. Jika ini kebetulan, mengapa begitu presisi? Mengapa waktu, angka, dan peristiwa seperti berbaris rapi seolah tahu jalan pulang ke ingatanku? Aku tidak mencari jawaban pagi itu. Aku hanya memilih tenang, menjaga jarak dari tafsir, dan mendekap keyakinan sederhana: apa yang ditakdirkan akan menemukan jalannya sendiri, tanpa perlu aku kejar, tanpa perlu aku hindari.
Hari-hari kembali berlalu, dimana aku hanya menjalani hidup semampu yang aku bisa, berjalan menatap langit dengan hati penuh kerinduan padaNya.