Aku fikir kisahku dengan putra sudah berakhir, saat kawanku mengirimkan foto dia mengenakan baju dengan angka 1919 di tanggal 19 february, lagi lagi aku berusaha abai. Aku sudah terlalu lelah mencari jawaban sendiri
Namun hidup seolah tidak membiarkanku berhenti di situ.
Saat malam datang dan aku membuka YouTube tanpa tujuan, mataku terhenti pada satu judul: “Keajaiban Angka 19 dalam Al-Qur’an.” Dadaku terasa menghangat, lalu mengeras. Ada rasa yang sulit dijelaskan, antara ingin menutupnya segera, atau justru menekan tombol putar. “Ada apa ini?” batinku. Aku akhirnya menyerah pada rasa penasaran.
Video itu menjelaskan tentang pola angka 19 yang berulang dan presisi dalam Al-Qur’an, sebuah struktur matematis yang nyaris mustahil disusun oleh manusia. Basmalah terdiri dari 19 huruf. Al-Qur’an diawali dengan basmalah, dan surah pembukanya memiliki kelipatan 19 dalam susunan ayatnya. Jumlah surah, pembagian ayat, bahkan kemunculan kata-kata tertentu mengikuti pola yang konsisten. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Terlalu tepat untuk dikatakan karangan.
Lalu ditampilkan ayat yang membuatku terdiam lama yaitu QS Al-Muddatstsir: 30–31
“Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).”
“Dan tidaklah Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu melainkan sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi Kitab menjadi yakin, dan agar orang-orang yang beriman bertambah imannya, dan agar orang-orang yang diberi Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata, ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan?’ Demikianlah Allah membiarkan sesat orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan (Al-Qur’an) itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.”
Aku membaca ayat itu berulang kali. Bukan karena tak paham maknanya, tapi karena dadaku seperti sedang disentuh oleh sesuatu yang tak terlihat. Angka itu sembilan belas, ternyata bukan sekadar bilangan. Ia adalah ujian. Cermin. Pemisah antara yang percaya dan yang menolak untuk berpikir.
Dorongan untuk membuka Al-Qur’an muncul tiba-tiba. Aku meraih mushafku dengan tangan sedikit gemetar. Namun sebelum sempat mencari apa pun, jariku tersangkut pada penanda yang pernah kusematkan. Aku tertegun. Terakhir kali aku membaca, aku berhenti di surah ke-19. Dadaku semakin sesak saat mataku jatuh pada ayat ke-19.