Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #43

#43 Allah menguji tidak melampaui batas kemampuan manusia? Lalu kenapa banyak yang depresi?

Aku pernah mendengar seseorang bertanya, suaranya lirih tapi menggema di kepalaku sejak hari itu:

“Kalau Allah menguji sesuai batas kemampuan, kenapa ada yang sampai depresi?”

Pertanyaan itu tidak terdengar seperti protes. Lebih mirip kelelahan yang akhirnya jujur. Dan jawabannya, yang sering dilemparkan begitu saja "kurang iman", terasa terlalu mudah, terlalu dangkal, untuk luka sedalam itu.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Aku teringat pada penjelasan seorang ustaz. Katanya, Allah tidak memberi kekayaan pada sebagian orang karena Dia tahu mereka tidak sanggup menghadapinya. Ujian selalu disesuaikan dengan kemampuan. Penjelasan itu masuk akal. Tapi entah kenapa, hatiku menolak berhenti di sana.

Karena dari yang kulihat, Allah justru sering menguji manusia tepat di titik yang paling mereka takuti.

Bukan karena Allah ingin menyiksa, tapi karena di situlah manusia selalu bersembunyi. Di situlah rasa aman palsu dibangun. Di situlah keberanian belum pernah dilatih.

Aku teringat kisah seorang sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf. Seorang saudagar besar, hartanya melimpah, namanya disegani. Tapi justru kekayaan itulah yang ia takuti. Ia takut hisabnya berat. Takut harta menyeretnya jauh dari Allah. Maka ia memilih jalan yang, bagi banyak orang, terasa tidak masuk akal: menyedekahkan hampir seluruh hartanya.

Ia membangun pasar tanpa mengambil uang sewa. Ia membeli barang yang dianggap tak bernilai. Ia melepas rasa aman yang selama ini dipegang manusia: harta. Dan yang terjadi justru sebaliknya dari ketakutannya. Kekayaan kembali kepadanya, berkali-kali lipat, seolah Allah sedang berkata pelan, “Sekarang harta ini tidak lagi menguasaimu.”

Dan adapula kisah nabi musa yang diabadikan dalam QS : Al qasas ayat 29-42

Dalam perjalanan pulang bersama keluarganya, Nabi Musa melihat cahaya di lereng gunung. Ia berkata kepada keluarganya bahwa ia melihat api, berharap mendapatkan petunjuk atau bara. Ketika Musa mendekatinya, ia dipanggil:

“Wahai Musa! Sungguh, aku adalah Allah Tuhan seluruh alam."

Lihat selengkapnya