Moksha Samsara (Twinflame)

Princess Cindy
Chapter #44

#44 Takdir sudah tertulis, untuk apa ikhtiar?

Malam itu, langit terasa lebih dekat dari biasanya. Ada sunyi yang tidak kosong, seolah semesta sedang menahan napas. Di antara detak jantung dan tarikan napas, manusia kerap bertanya: “Jika takdir sudah tertulis, untuk apa aku berikhtiar? Jika Allah menyukai kebaikan, kenapa semua orang tidak diciptakan baik saja?”

Karena manusia diberi kendali memilih memperbaiki, berubah, melawan kecenderungan buruk.Takdir buruk yang Allah ketahui adalah skenario kemungkinan terbesar, bukan hukuman final.

Berbeda dengan malaikat diciptakan tanpa hawa nafsu, diprogram untuk taat, seutuhnya baik. Manusia dimuliakan justru karena pilihannya.

Allah berfirman: QS. Al-Ankabut: 64

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan.”

Dunia ini bukan tujuan akhir. Ia adalah arena ujian, bukan ruang santai.

Bayangkan sebuah game: Kalau kita hanya menonton, tanpa kendali arah dan strategi, semua hadiah didapat mudah, apakah ada rasa puas? Tidak.

Begitu juga hidup. Jika semua didapat tanpa usaha, rasa syukur akan mati.

Meski sudah mendapatkannya, kamu harus terap memiliki kesadaran bahwa semuanya milik allah dan bagian dari rahmatNya. Masalahnya bukan usaha, tapi ketika seseorang berkata dalam hati: “Yaudah, ini hasil kerja kerasku.”

Karena itu Allah menekankan ikhlas.

Tanpa ikhlas, seseorang bisa rajin beramal tapi hatinya kosong, dan jatuh ke sifat munafik. Akhirnya kalah dalam “permainan” ini.

"Tapi aku gak pernah minta dilahirkan sebagai manusia!" Kata siapa?

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Manusia justru menyanggupi. Bukan karena paling suci, tapi karena ada rasa “aku sanggup”, sedikit congkak yang bahkan sering tak disadari. Karena itulah manusia disebut zalim dan bodoh karena memasukkan diri ke dalam permainan ego sendiri.

Manusia menyanggupi sesuatu yang bahkan semesta enggan memikulnya. Amanah untuk hidup dengan kesadaran, dengan pilihan, dengan konsekuensi. Maka sejak saat itu, hidup bukan lagi tentang bebas tanpa arah, melainkan tentang tanggung jawab jiwa.

JIKA TAKDIR SUDAH TERTULIS, UNTUK APA IKHTIAR?

Begini analoginya. Saat kita berjalan di bumi penglihatan terbatas, hanya melihat beberapa langkah ke depan. Namun jika naik pesawat pandangan luas, jalan terlihat utuh.

Lihat selengkapnya