Banyak orang berkata, “yang penting happy.”
Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan terasa seperti nasihat hidup yang bijak. Seolah-olah tujuan utama manusia memang hanya satu: mengejar kebahagiaan.
Namun ada sesuatu yang jarang disadari. Manusia sebenarnya membutuhkan stres. Jika kebahagiaan dijadikan standar wajib kehidupan, jika seseorang merasa ia harus selalu senang, selalu puas, selalu menikmati hidup, justru di situlah keseimbangan sistem saraf mulai terganggu. Dalam kondisi tertentu, dorongan untuk terus merasa bahagia bahkan dapat merusak otak hingga perlahan mengikis nurani.
Al-Qur’an pernah menggambarkan kondisi manusia seperti ini:
"Pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?"(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Ayat ini terasa sangat relevan jika dilihat dari sudut pandang neurosains modern.
Stres, yang sering kita anggap sebagai musuh, sebenarnya adalah sistem biologis yang dirancang untuk mempertahankan hidup. Tanpa stres, manusia tidak memiliki mekanisme survival mode untuk menghadapi bahaya.
Ketika stres muncul, tubuh akan mengaktifkan berbagai reaksi otomatis: jantung berdetak lebih cepat, fokus meningkat, dan tubuh bersiap untuk bertindak.
Bayangkan manusia purba bertemu seekor singa di padang terbuka. Jika manusia tidak memiliki sistem stres, mereka tidak akan merasakan ketakutan. Mereka tidak akan memiliki dorongan untuk lari. Dan kemungkinan besar, mereka akan dimakan.
Dengan kata lain, stres bukan sekadar emosi negatif. Ia adalah alarm biologis yang menjaga manusia tetap hidup.
Namun dalam budaya modern, muncul keyakinan lain: bahwa tujuan hidup adalah mengejar kesenangan tanpa batas. Dalam psikologi, pola ini disebut hedonic pursuit, keyakinan bahwa kebahagiaan berasal dari akumulasi kesenangan.
Masalahnya, sistem saraf manusia tidak dirancang untuk menerima kesenangan tanpa henti.
Secara biologis, kapasitas reseptor dopamin dalam otak manusia terbatas. Dopamin adalah neurotransmitter yang berkaitan dengan rasa senang, motivasi, dan sistem penghargaan.
Ketika seseorang terus membombardir otaknya dengan kesenangan instan, seperti konsumsi berlebihan, belanja mewah, validasi media sosial, atau perilaku impulsif, otak akan mengalami fenomena yang disebut downregulation.
Dalam kondisi ini, reseptor dopamin mulai menutup diri karena kewalahan menerima stimulasi kesenangan yang terus-menerus.
Akibatnya, sesuatu yang dulu terasa luar biasa menyenangkan perlahan menjadi terasa biasa saja. Inilah yang kemudian memicu efek toleransi.
Seseorang mulai merasa membutuhkan dosis kesenangan yang lebih tinggi untuk merasakan sensasi yang sama. Kemewahan yang dulu terasa istimewa menjadi normal. Lalu muncul dorongan untuk mencari hal yang lebih besar, lebih ekstrem, dan lebih memuaskan.