Banyak orang berkata, “jodoh adalah cermin diri.” Namun kalimat ini sering disalahartikan.
Ketika seseorang yang baik justru menikah dengan pasangan yang zalim, orang langsung berkata, “kok gak adil ya? mana definisi jodoh cermin diri?"
Padahal makna cermin tidak sesederhana itu. Mari kita luruskan dulu makna cermin di sini.
Seperti cermin yang kita lihat setiap hari. Cermin selalu jujur. Ia tidak menghakimi, tidak memuji, tidak pula menipu. Ia hanya menampakkan apa adanya. Cermin memperlihatkan letak tahi lalat yang tidak bisa kita lihat langsung. Ia menunjukkan noda di wajah yang mungkin kita tidak sadari. Ia bahkan memperlihatkan luka kecil yang tersembunyi.
Begitulah jodoh.
Jodoh bukan selalu berarti kamu kalem maka pasanganmu pasti kalem. Kamu sabar maka pasanganmu pasti sabar. Tidak sesederhana itu. Jodoh adalah cermin yang memperlihatkan bagian-bagian dalam diri kita yang sering tidak kita sadari.
Cermin dalam jodoh setidaknya memiliki tiga bentuk: cermin jati diri, cermin luka dan trauma, serta cermin penyakit hati.
Pertama, cermin jati diri.
Ada orang yang dipertemukan dengan pasangan yang justru menampakkan potensi terbaik dalam dirinya. Bersama orang itu, ia menjadi lebih dewasa, lebih sabar, lebih bijak. Pasangan seperti ini seperti cermin yang memantulkan siapa sebenarnya dirimu ketika kamu berada pada versi terbaikmu.
Kedua, cermin luka dan trauma.
Di sinilah banyak orang keliru memahaminya.