Blurb
Libur semester terakhir sebelum wisuda seharusnya menjadi momen perayaan bagi Siti Raudah (Odah), Andirini (Rini), dan Nely—tiga sahabat yang dikenal sebagai musisi berbakat di kota mereka. Namun keputusan untuk menghabiskan liburan di kampung halaman Rini, sebuah desa terpencil di pedalaman Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, justru membawa mereka pada teror yang tak pernah terbayangkan.
Desa itu sunyi. Terisolasi oleh hutan lebat dan sungai panjang yang menjadi satu-satunya jalur keluar masuk. Warganya ramah, tetapi menyimpan tatapan penuh rahasia. Di balik keheningan alamnya, tersembunyi warisan kelam yang tak pernah benar-benar mati.
Sejak malam pertama, Odah mulai melihat bayangan di balik pepohonan. Ia mendengar bisikan memanggil namanya saat tak ada siapa pun di sekitarnya. Sentuhan dingin menyentak kulitnya dalam gelap. Warga desa menyebut kondisi itu sebagai Mongkoi—saat tabir antara manusia dan makhluk tak kasatmata terbuka, dan yang terlihat bukan hanya sekadar bayangan, melainkan ancaman yang mengincar jiwa.
Semakin mereka mencoba pergi, semakin kuat desa itu menahan. Sebuah janji lama yang terikat pada Hutan Larangan menuntut pengorbanan. Dan tanpa mereka sadari, salah satu dari mereka telah dipilih sejak lama.
Persahabatan mereka akan diuji. Keberanian akan dipertaruhkan. Rahasia keluarga akan terungkap dalam teror yang membuka celah antara dua dunia.
Di Desa Mongkoi, tidak semua yang hilang benar-benar pergi.
Dan tidak semua yang kembali. . . masih manusia.