Tidak semua perjalanan dimulai dengan niat buruk. Sebagian hanya dimulai dengan rasa lelah… dan keinginan untuk beristirahat. Siti Raudah yang akrab dipanggil Odah menutup laptopnya dengan napas panjang. Di luar jendela apartemen kecil mereka, lampu kota masih menyala terang, seolah tak pernah lelah seperti dirinya.
“Kita butuh liburan,” gumamnya.
Andi Rini yang sedang duduk di lantai sambil merapikan kabel gitar hanya tersenyum tipis. “Kebetulan banget. Aku mau pulang kampung sebelum wisuda. Sebulan aja. Kalian ikut?” Nely yang sejak tadi berbaring sambil memainkan ponselnya langsung bangkit. “Ke kampungmu? Yang di Kalimantan Timur itu?”
Rini mengangguk pelan.
“Ada sinyal nggak?” tanya Nely sambil tertawa.
Rini tidak tertawa.
Ia hanya menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Ada. Kadang.”
Jawaban itu menggantung.
Mereka bertiga adalah sahabat sejak awal memasuki Fakultas Pendidikan di luar kota. Sama-sama perantau. Sama-sama bekerja paruh waktu sebagai musisi. Nama mereka cukup dikenal di kota. Jadwal manggung padat. Media lokal sering meliput mereka. Bahkan ada tawaran rekaman.
Namun di balik gemerlap lampu panggung, mereka tetaplah tiga gadis yang lelah. Libur semester terakhir sebelum wisuda terasa seperti hadiah dari semesta. Tanpa banyak berpikir, Odah dan Nely sepakat ikut. Mereka tidak tahu bahwa keputusan itu akan mengubah hidup mereka selamanya.
✓Perjalanan Panjang......
Perjalanan menuju kampung halaman Rini tidak mudah. Dari kota, mereka harus naik pesawat kecil menuju Kalimantan Timur. Lalu perjalanan darat selama enam jam melewati jalanan tanah merah. Setelah itu, mereka masih harus menyusuri sungai menggunakan perahu kayu bermesin kecil.
Odah sudah terlihat pucat sejak di jalan darat.
“Aku nggak enak badan…” bisiknya.
“Kecapekan,” jawab Nely santai.
Namun Odah tahu itu bukan sekadar lelah.
Sejak kecil, ia memang berbeda.
Ia sering melihat bayangan. Mendengar suara tanpa rupa. Kadang ia kerasukan saat emosinya lemah. Ia tak pernah menceritakan detailnya pada orang lain. Kecuali pada Rini dan Nely.
Semakin jauh perahu menyusuri sungai yang keruh dan sunyi, semakin berat dadanya terasa.
Hutan di kiri kanan sungai tampak terlalu rapat. Terlalu gelap. Seolah ada yang memperhatikan.
Nely justru menikmati pemandangan itu.
“Gila… ini keren banget. Natural banget. Kayak belum tersentuh manusia.” Rini tidak menjawab.!!!!!
Ia hanya menatap air sungai yang berwarna kecoklatan.
Seolah mengingat sesuatu.
Menjelang senja, mereka tiba.
Desa itu kecil. Rumah-rumah kayu berdiri di atas tanah yang sedikit meninggi dari sungai. Beberapa rumah bahkan masih bertiang tinggi. Jalan setapak sempit menjadi penghubung antar rumah.
Tak ada kendaraan.
Tak ada toko modern.
Tak ada suara mesin.
Hanya suara angin… dan hutan.
“Kita di mana ini sebenarnya?” bisik Nely.
“Masih wilayah Kabupaten Paser,” jawab Rini pelan. “Tapi desa ini… jarang disebut orang.”
“Namanya apa?”
Rini terdiam sesaat.
“Orang sini menyebutnya Desa Mongkoi.”
Odah langsung berhenti melangkah.
“Mongkoi?”
Rini menatapnya. “Kamu kenapa?”
Odah tidak tahu kenapa kata itu membuat bulu kuduknya meremang. Malam pertama mereka di rumah keluarga Rini terasa canggung.
Rumah itu rumah kayu tua, namun masih kokoh. Lampu hanya dari genset yang dinyalakan beberapa jam saja.
Saat makan malam, ayah Rini yang berwajah keras dan jarang tersenyum akhirnya membuka percakapan.
“Kalian tahu arti Mongkoi?”
Nely langsung tertarik. “Apa itu, Om?”
Ia menjawab pelan.
“Mongkoi adalah keadaan ketika manusia bisa melihat, mendengar, bahkan disentuh oleh makhluk dari alam lain.”
Odah menggenggam sendoknya lebih erat.
“Mongkoi bukan kemampuan,” lanjutnya.
“Itu kutukan.”
Ruang makan terasa mendadak dingin.
“Orang Mongkoi bukan cuma bisa melihat. Mereka bisa diserang. Diganggu. Dicelakai. Bahkan dibunuh.”
“Dibunuh?” bisik Odah.