Monkeys Attack

Rosiana Quraisin
Chapter #2

1 - Dream Island

“Pemirsa, diinformasikan hingga sampai saat ini tim SAR masih belum bisa menemukan keberadaan lima siswa yang diduga hilang secara misterius sejak lima tahun silam di kepulauan Kalimantan. Proses pencarian pun harus dihentikan sejak setahun yang lalu, karena terkendala oleh kondisi cuaca yang ekstrem.” 

IDN News, 2035

_____________

Dream Island, 14.00 WITA.

DUA buah bus tur elektrik tanpa supir berjalan dengan tenang di atas rel sepanjang tiga kilometer membelah hutan. Suhu hari ini berkisar 25°-30°C. Suhu yang terbilang cukup normal bagi sepuluh wisatawan asing asal Jepang dengan tujuan berlibur di bus kedua. Ada pula sepuluh siswa elite asal Jakarta berada di bus terdepan, yang akan melakukan study tour

“Waaah ….” 

Happy mendongak dan mendesah kagum. Matanya sempat tidak berkedip menatap pemandangan hutan yang indah di samping kanan dan kiri. Sebuah pemandangan yang justru jarang ditemukan di Jakarta. 

Terik cahaya matahari mencoba menerobos melalui celah dedaunan pohon pinus yang menjulang tinggi. Namun, netra Happy masih belum lepas dari kaca jendela bus transparan, memperlihatkan deretan pohon-pohon yang berjajar rapi. Rungu Happy pun tidak henti dimanjakan oleh merdunya cericit burung-burung yang bernyanyi dan saling bersahut-sahutan dengan suara kerih Siamang. Monyet-monyet itu juga terlihat melompat, lalu berayun dari satu pohon ke pohon lain. Tidak hanya itu, beberapa ekor rusa bertubuh besar dan gemuk pun berlarian dari balik pohon yang menyatu dengan semak. 

Senyum Happy terkembang. Dia tidak pernah mengira, jika hutan yang selama ini selalu dianggap menyeramkan, ternyata memiliki sisi yang indah. 

“Halo. Aku Sally. Apa Susi ingin bermain denganku?” 

Atensi Happy langsung teralihkan kala mendengar suara boneka Sallydoll yang akhir-akhir ini sering didengarnya. Dia menoleh ke samping kanan, di seberang kursinya ada sebuah boneka berwajah anak perempuan dengan rambut hitam berkepang dua, tengah berada di pangkuan sang pemilik, Susi. Boneka setinggi balita berusia satu tahun itu akan berbicara dan bergerak seakan hidup jika disentuh. 

“Tidak, saya mengantuk. Kalo su mo sampai, kas tau saya ee,” pinta Susi. Gadis berkulit hitam dan berambut pendek keriting itu berbicara dengan dialek Papua. (Nggak, saya mengantuk. Kalau sudah mau sampai, kasih tahu saya, ya.)

Sally mengangguk. “Tentu. Sally akan memberitahu Susi kalau sudah mau sampai.” 

Happy tersenyum kecil melihat pola tingkah boneka itu yang begitu menggemaskan. Smart doll, pikirnya. Pandangannya pun beralih ke arah depan kursi milik Susi. Ada Rindu yang tengah asyik bercermin sembari memoleskan bedak ke arah wajah putih mulusnya. 

“Sstt … diam! Kau berisik kali. Nanti dia bisa bangun.”

“Saya teh yakin kalau si gendut nggak akan bangun.”

Meski suara itu terdengar lirih, tetapi Happy masih bisa mendengar keributan yang berasal dari kursi di belakang. Dia menoleh dan menemukan Ardi serta Teddi yang sedang mencoret-coret wajah Bobi yang sedang terlelap tidur. Happy hanya bisa menggeleng melihat keusilan mereka. Namun, sapuan tatapan Happy terhenti ketika akan menoleh kembali ke depan dan menemukan seorang laki-laki yang sedang asyik mendengarkan musik melalui headphone sembari bersenandung kecil. Laki-laki itu ialah Always. Satu-satunya murid terpandai dan yang paling berbeda dari sembilan siswa elite, yang memiliki pekerjaan paruh waktu sebagai ojek online.

Melalui ekor mata, Always yang selalu disapa Awes bisa melihat Happy yang tengah menatap ke arahnya. Awes pun memilih untuk menghentikan senandungnya. Lalu, manik cokelat Awes beralih ke arah gadis yang sangat disukainya itu. Ada debaran jantung yang tidak wajar tiap kali menatap manik indah Happy. Hingga tanpa sadar seulas senyum terbit di sudut bibirnya.

Namun sayang, senyum Awes perlahan pudar ketika sosok Raja datang dan menghalangi pandangannya. Laki-laki itu ialah kekasih Happy. Yang saat ini dengan sengaja memperlihatkan kemesraan dengan merangkul gadis itu di hadapannya. Lalu, tatapan Raja yang seolah mengintimidasi ke arahnya. Awes tidak peduli. Dia pun memilih untuk kembali bersenandung, melanjutkan hobinya.

Lihat selengkapnya