Monkeys Attack

Rosiana Quraisin
Chapter #3

2 - Dream Island (Part 2)

Desir angin pantai yang berembus tak menyulutkan semangat Ardi untuk menerbangkan quadcopter miliknya ke udara. Dengan remot kontrol berlayar di genggaman, Ardi bisa mengarahkan benda tersebut untuk melihat pemandangan indah dari pulai ini dari atas bukit. 

“Apa itu semacam drone?” Oriza duduk di tepi bukit, tampak tertarik dengan benda itu. Dia juga tengah menikmati pemandangan laut sore.

Ardi bergedik. “Mungkin. Yang aku tahu, quadcopter ini memiliki kamera 16 megapiksel. Batreinya besar. Bisa terbang selama 40 menit. Ketinggian maksimum untuk quadcopter ini 1000 meter dan untuk model ini batasnya 600 meter,” terangnya tanpa menatap gadis itu sedikit pun. Pandangannya terfokus hanya pada layar yang menampilkan keindahan pesona laut.

Oriza mengangguk sembari mengayunkan kedua kakinya yang menjuntai ke bawah. “Apa remot itu pakai bluetooth?

Bluetooth tidak cukup buat jarak jauh.”

Ardi mengarahkan quadcopter-nya turun lebih rendah. Sebab, dia menemukan sesuatu yang lebih indah dari pulau ini, yaitu Happy. Sorot kamera benda itu sengaja terfokus pada wajah ayu gadis itu yang tengah membuat konten bersama rivalnya, Raja. 

“Cantik,” gumam Ardi tak sadar dengan senyum yang terus terkembang. Namun, buru-buru meninggikan quadcopter-nya kala melihat Oriza beranjak dari duduk.

“Gue balik duluan, Bro” kata Oriza sembari melangkah pergi.

Ardi menoleh ke belakang dan mengangguk. Namun, dia tak menyadari, jika quadcopter itu terbang terlalu tinggi dan memperlihatkan sesuatu yang aneh dari pulau ini. Hingga kala Ardi kembali menoleh ke depan, dia tercengang.

“Apa ini?”

***

Happy berjalan santai menikmati embusan angin pantai di sore hari yang berhasil menyibak rambut hitam panjang sebahunya. Desiran ombak pun tak luput menyentuh lembut kaki telanjangnya. Dia telah selesai membuat konten untuk di-upload di instagramnya. Pasalnya, Happy adalah seorang selebgram yang memiliki pengikut jutaan orang di Instagram dan didapuk oleh ayah Raja untuk mempromosikan pulau ini.

“Kayaknya kita nggak bisa live atau upload video ini di Instagram, Py. Soalnya, nggak ada sinyal di sini.”

Happy menoleh. Laki-laki yang selalu mengenakan pakaian branded  itu tampak kesusahan mencari sinyal di layar ponsel transparan dengan mengangkat tinggi di udara. 

“Kalau begitu, nanti kita coba upload di penginapan, Ja. Di sana, kan, sedikit lebih tinggi siapa tahu kita dapat sinyal,” sarannya. 

Raja mengangguk. Lalu, menekan tombol kecil pada bagian atas frame ponsel yang berwarna hitam. Membuat layar transparan itu bergerak secara otomatis ke bagian frame bawah, lalu menghilang kala kedua frame itu menyatu sempurna dan hanya menyisakan bentuk ponsel layaknya bolpoint. Ponsel pintar tercanggih dan terbaru yang hanya bisa dimiliki kaum elit seperti Raja dan kawan-kawannya. Raja pun menyimpan ponselnya itu di saku celana.

“Kita ke sana, sekarang! Kita harus cepat upload video kamu. Aku nggak mau berurusan sama ayahku kalau kita belum meng-upload video itu,” titah Raja kemudian dengan langsung menggamit tangan Happy, tanpa memedulikan jika gadis itu masih ingin berada di pantai ini. 

***

Lihat selengkapnya