Always mengusap rambut yang basah dengan handuk sembari melangkah ke luar kamar. Menutup pintu, lalu berjalan menyusuri lorong kamar yang cukup panjang ini. Selama melangkah, tidak henti matanya dimanjakan oleh penerangan lampu gantung yang indah di sepanjang lorong. Tidak hanya itu, lukisan abstrak pun berjejer di sebelah kiri, tepat di depan deretan lima kamar yang tertutup rapat. Awes sengaja memilih kamar di lantai dasar, supaya tidak lelah menaiki tangga utama berputar yang menengahi deretan lima kamar lain di ujung lorong sebelah kiri. Sementara sepuluh kamar lainnya ada di lantai dua.
Ruang tamu yang luas, sofa yang empuk, serta TV besar langsung menyapa netra Awes kala berada di depan tangga utama. Sebuah ruangan yang nantinya akan digunakan Awes dan teman-temannya berkumpul selepas makan malam.
Denting suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring langsung terdengar ketika Awes melangkah masuk ke dalam ruang makan yang menyatu dengan dapur. Maniknya pun mendapati semua teman-temannya yang telah duduk saling berhadapan di kursi meja makan. Tidak hanya itu, perutnya langsung bernyanyi merdu ketika melihat berbagai macam hidangan lezat yang telah tersaji di atas meja makan.
“Hei, Awes. Kenapa Ko orang baru datang toh?” tanya Susi. Gadis berambut keriting itu tengah membawa dua buah piring ceper besar berisi udang asam manis yang baru saja matang ke meja makan dan meletakkannya di sana.
Awes langsung duduk di kursi kosong, tepat di samping kanan Bobi. Laki-laki itu tampak asyik menyantap makan malamnya dengan lahap, tanpa peduli jika lukisan abstrak masih terhias di wajah putihnya. Sementara Teddi, Ardi, dan Oriza duduk di sebelah kiri laki-laki bertubuh gembul itu—yang ayahnya merupakan seorang pengusaha telekomunikasi nomor satu di Indonesia.
“Kamu yang masak ini semua, Sus?” tanya Awes balik sembari langsung menyendokkan nasi ke atas piring.
“Yo saya too. Memasak adalah hobi saya. Makannya saya punya mace dan pace adalah pengusaha katering,” jawab Susi. Gadis itu duduk di samping Raja. Tangannya mulai bergerak untuk mengambil nasi ke atas piring, tetapi harus terhenti ketika menemukan laki-laki itu dan Rindu yang masih saja bergeming di depan meja makan. Dia berdecak, “Ayo, ko orang makan sudah saya punya masakan,” titahnya kemudian.
Sayangnya, perintah Susi tidak diindahkan oleh Rindu. Gadis itu hanya mencibir, lalu memilih untuk mengeluarkan alat makeup-nya dan mulai memoles bedak ke arah wajah mulusnya. Sedangkan Raja sibuk bermain dengan ponsel transparannya.
Susi mendesah pelan melihat tingkah laku dua orang yang terkenal arogan itu. Kendati begitu, dia tidak segan untuk menyendokkan nasi ke atas piring mereka. Tidak memedulikan tatapan keduanya yang menatap Susi tak suka.
“Sus, lo dapat bahan-bahan masakan ini dari mane?” Kali ini, Ajeng ikut menyahut sembari menggigit ayam goreng kesukaannya dengan tangan.
“Saya punya koper isinya bahan makanan buat seminggu,” balas Susi santai. Membuat Awes dan Ajeng tertegun mendengarnya.
Teddi memilih untuk menyuapkan makanan ke dalam mulut dengan menggunakan tangan. Seketika, manik mata Teddi berbinar kala lidahnya merasakan kenikmatan luar biasa pada masakan Susi. “Ini teh enak pisan,” pujinya sungguh-sungguh saat tumis jamur dan nasi hangat berhasil memanjakan lidahnya.
“Iya ee? Semua saya punya masakan dibuat pakai cinta,” sembur Susi. Membuat Ardi yang baru memasukkan tumis jamur ke dalam mulut melotot dan langsung memuntahkannya perlahan.
“Alamak! Makan tuh cinta!” lirih Ardi. Yang langsung disambut kekehan kecil dari Teddi dan juga Awes.
Awes berhenti terkekeh ketika maniknya menemukan Happy yang juga tengah tertawa kecil di hadapannya. Gadis itu sedari tadi asyik saja menikmati santap makan malamnya di samping sang kekasih. Seketika, Awes harus merasakan debaran jantungnya berdetak tidak wajar ketika mata gadis itu yang tak sengaja pula menatap ke arahnya.
“Kalau Ko orang tidak mau makan saya punya masakan. Ko orang boleh sudah makan di luar sana. Di sana semuanya serba mahal toh,” tutur Susi sekenanya yang ditujukan untuk Raja dan juga Rindu.
Ajeng mengangguk setuju. “Tadi, ye. Gue beli pop mie aje harganye gile. Seratus ribu, Cuy.”
“Nah, bagaimana Raja punya pace tidak kaya toh? Di sini semuanya serba mahal,” ejek Susi.
Raja berdecak, “Ayah gue yang kaya! Bukan gue!” Dia berusaha membela diri.
“Iya, dan lo anaknya, kan? Setidaknya lo bisa menikmati uang ayah lo dengan membeli pakaian branded seperti yang lo pakai sekarang. Iya, kan?” Oriza ikut menimpali sembari tersenyum mengejek menatap Raja. Membuat suasana di ruang makan yang cukup luas dan sejuk ini mendadak terasa panas. Bahkan, mereka yang asyik makan pun sengaja meredam suara denting garpu dan sendoknya supaya tidak menambah kegaduhan baru.
Bagai kertas yang tersulut api. Raja menegang. Maniknya yang tajam menatap garang ke arah Oriza. Sayangnya, Oriza masih tetap menampilkan senyum ejekannya hingga membuat emosi Raja memuncak. Bahkan, saat ini kedua tangannya telah terkepal erat di atas meja. Dan ….