Monkeys Attack

Rosiana Quraisin
Chapter #8

7 - Sebuah Ancaman

Penginapan, 00.00 WITA. 

Malam ditemani oleh gemerlap bintang dan juga rembulan. Keduanya memancarkan sinar indah di atas cakrawala. Namun, tidak ada satupun para siswa yang berniat untuk menikmati keindahan malam yang selalu bergulir mengikuti keteraturan. Meski telah jatuh pada gigil yang menusuk, keheningan masih setia menemani mereka yang terus bergelung dengan pikiran semrawut masing-masing di ruang tamu. Bahkan, rasa kantuk tidak dirasakan. Terlalu ngeri hanya dengan membayangkan kejadian malam ini. 

Happy terdiam di atas sofa, memasrahkan kepalanya pada sandaran kursi. Gadis itu diam karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Walaupun maniknya terpejam, tetapi pikirannya menerawang jauh. Pikirannya terlalu abstrak memikirkan jalan keluar yang sekarang terlihat seperti sebongkah benang kusut. 

Hingga tidak lama setelahnya, kelopak mata Happy terbuka. Dia menegakkan kepala sebelum mengutarakan sebuah usulan kepada teman-temannya. 

“Kita harus pergi dari pulau ini!” Bagai blitz paparazi yang menyilaukan ketika belasan pasang mata menatap ke arah Happy. 

“Kita nggak tahu hewan apa yang mereka sembunyikan di balik dinding itu, sampai bisa menghabisi dua nyawa sekaligus,” lanjut Happy lagi. 

Panas pada kepala Ajeng yang nyaris beruap sejak tadi, serasa disiram dengan air yang sudah disimpan sewindu lamanya ketika mendengar usulan dari Happy. Nyess! Namun, harus kembali menggelegak kala Rindu menyahut. 

“Kenapa kalian semua terprovokasi sama ucapan Teddi?” Gadis yang berprofesi sebagai model dan aktris itu mengutarakan ketidaksetujuannya. “Belum tentu juga, kan, kalau di balik dinding itu ada hewan buas? Lagian, kalian tahu darimana kalau turis itu mati akibat hewan buas? Bukannya Ajeng bilang sendiri kalau ruangan gelap dan dia nggak bisa lihat dengan jelas? Bisa aja, kan, dia salah lihat! So, mungkin aja mereka mati karena saling membunuh,” hipotesisnya. 

Bagi Rindu, ucapannya barusan lebih masuk akal daripada asumsi semua teman-temannya yang terdengar tidak logis. Hewan buas di pulau yang indah seperti ini? It’s impossible. Pikirnya. Jikalau pun ada, sudah pasti pemerintah tidak akan memberi izin pemilik konservasi untuk melanjutkan pengembangan pada pulau ini, bukan?

Ajeng menahan emosi karena merasa direndahkan oleh Rindu. Sama halnya dengan Teddi. Namun, memilih menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir amarah. Sementara, ruangan sontak bergemuruh bak sarang lebah yang disatroni beruang madu. Mereka saling mengeluarkan asumsi, berdebat satu sama lain.

“Oe rasa ucapan Rindu benar. Lu olang salah lihat, Jeng.”

“Gue kagak salah lihat, Bob!”

“Ko tra usah sudah dengarin kata Rindu, Jeng.”

STOP!” Suara Oriza menggelegar, yang detik itu juga berhasil menghentikan perdebatan di antara teman-temannya. Jujur saja, dia merasa geram karena teman-temannya itu berisik sekali.

“Kita buat polling aja! Biar kita bisa tahu siapa aja yang masih mau tinggal dan siapa aja yang mau pergi dari pulau ini,” usul Oriza. “Gue milih pergi dari pulau ini.”

Sesaat kebekuan melingkup dan tidak ada satupun yang berinisiatif membuka suara, hingga Ajeng pun mengangkat tangan kanan ke udara, lalu berkata, “Gue juga ikut Happy buat pergi dari pulau ini.” Mata sembap Ajeng menatap ke arah gadis yang mencepol rambut menggunakan pengikat rambut pompom berbentuk boneka kelinci yang lucu di atas kepala. Gadis itu duduk di seberang sofanya. 

Teddi berdehem sebentar, menetralisir serbuan kata-kata yang tersendat di tenggorokan. Lalu, juga mengangkat tangan kanannya ke udara. “Saya teh juga mau pergi dari pulau ini,” tuturnya. Setelah itu, diikuti oleh empat temannya yang lain, yang juga memilih meninggalkan Dream Island.

Ajeng tersenyum senang. Sementara, Rindu kalah telak. Membuat gadis dengan bentuk wajah yang menawan itu hanya bisa mendengkus sebal. 

Lihat selengkapnya