SMA Permata, dua minggu sebelum keberangkatan.
“Teddi Priyatna ….”
“Ardiansyah Chaniago ….”
“Dan yang terakhir, adalah M. Always.”
Gayandra yang selalu disapa hangat ‘Pak Gay’ membacakan sepuluh nama siswa yang dipilihnya untuk mengikuti study tour. Sebuah kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun oleh pihak sekolah. Di mana tahun ini, Dream Island-lah yang terpilih menjadi tempat untuk para siswanya yang beruntung melakukan study tour.
Sayangnya, kelas dua belas yang tenang, mendadak bergemuruh. Mereka yang sebagian besar adalah siswa yang berpengaruh di sekolah protes kala Gayandra menyebut nama terakhir siswa, yaitu M. Always.
Termasuk Raja. Dia telah bangkit dari duduk dan mengutarakan suara ketidaksukaannya. “Kenapa harus Awes? Tukang ojek kayak dia itu nggak pantas buat ikut study tour bareng kita-kita,” protesnya, “Jadi, Pak Gay harus memilih nama lain,” sarannya kemudian.
“Benar banget, Pak.”
“Setuju.”
“Saya lebih pantas daripada tukang ojek kayak dia, Pak.”
Aksi protes sekaligus saran dari Raja pun langsung disambut antusias oleh beberapa siswa yang merasa iri karena namanya tidak terpilih. Sementara, Awes memilih untuk bergeming di kursinya. Dengan harapan, gurunya itu tidak akan mengubah apapun, termasuk namanya.
“CUKUP!” tegas Gayandra. Suaranya yang berat dan menggelegar, membuat seluruh siswa yang protes terbungkam saat itu juga.
“Keputusan yang sudah saya buat sudah tidak bisa diganggu gugat! Mengerti?” cecar Gayandra yang tetap pada pendiriannya. Membuat Raja dan sebagian murid yang memprotes hanya bisa menggerutu kesal di kursi mereka.
“Bapak merasa kalau Awes yang mendapatkan beasiswa di sekolah ini pantas untuk ikut study tour bersama kalian,” imbuh Gayandra. Matanya beralih menatap Awes yang tampak tersenyum senang dengan keputusan yang telah dibuat olehnya.
Rindu mengangkat tangan kanannya ke udara. “Yang saya tahu Dream Island terkenal dengan semua biayanya yang serba mahal. Apa mungkin Awes yang cuma tukang ojek punya uang sebanyak itu? Atau ….” Dia menjeda ucapannya dengan menatap ke arah Awes yang berada di seberang kiri kursinya. Lalu, menoleh kembali ke arah depan kelas. “Jangan bilang Pak Gay menyuruh kita semua yang terpilih buat ngebayarin dia?” sambungnya dengan menunjuk ke arah laki-laki itu yang tertunduk lesu.
“Kamu tenang saja. Tidak ada yang akan mengeluarkan biaya sepeser pun buat study tour kali ini. Karena, study tour kalian akan dibiayai penuh oleh ayah Raja selaku pengembang pulau itu,” beritahu Gayandra.
Seketika, sorak kebahagiaan mewarnai kelas untuk para siswa yang terpilih. Menambah rasa iri dan juga dengki bagi para murid yang tidak terpilih.
Awes memarkirkan motor bebek di depan rumahnya yang minimalis. Bergegas, melepas helm dan berlari ke dalam rumah setelah turun dari motor. Wajahnya begitu ceria. “Nek. Nenek,” panggilnya riang saat telah berada di dalam rumah.
Awes meletakkan helm dan melepas jaket biru—sebuah jaket yang bertuliskan ‘Ojolali’ di bagian punggung serta selalu menjadi teman setia selama bekerja sebagai ojek online—di atas meja ruang tamu. Rumah ini hanya terdiri dari tiga petak ruang saja; ruang tamu, ruang tengah, dan dapur. Meski kecil, tetapi segala perabot tertata dengan rapi di tempatnya.
Satu buah kamar, kasur berukuran single milik Awes, TV 32 inci, kipas angin, dan lemari pakaian langsung menyapa mata Awes kala berada di ruang tengah yang juga merupakan kamarnya. Netra Awes berbinar senang ketika orang yang sedang dicarinya keluar dari sebuah kamar.
“Kenapa kamu teriak-teriak begitu, Wes?” tanya Nek Gadis heran sembari kembali menutup pintu kamarnya.
“Ada kabar gembira yang nenek harus tahu,” sosor Awes kemudian. Dia menggamit lengan wanita berusia 58 tahun itu yang merupakan satu-satunya keluarga Awes untuk duduk di atas ranjangnya.
“Apa itu, Wes?”
“Awes terpilih buat ikut study tour ke Dream Island, Nek,” pekik Awes girang sambil melompat-lompat.
Gadis tersenyum. “Kalau begitu, kamu harus melakukan tugas kamu dengan baik selama berada di sana. Kamu juga nggak boleh merepotkan siapa pun,” pesannya. Yang langsung dianggukkan antusias oleh sang cucu.
***