Belum ada sejalar sinar matahari yang menyilik dari timur sana, Awes bersama Teddi dan Ardi telah berada di luar penginapan. Berjalan kaki, menyusuri bibir pantai sambil ditemani oleh desir angin dingin yang menusuk hingga sampai ke tulang. Tujuan mereka adalah menemui Magdalena.
Sampailah mereka di atas bukit. Sebuah bangunan yang beratapkan rumbia dengan genting di bawahnya, sementara dindingnya sebagian kaca, sebagian lagi dari marmer ukir, menyambut kedatangannya. Dari luar, mereka bisa memperkirakan jika bangunan itu adalah restoran. Mendadak langkah mereka terhenti ketika telah melewatinya. Kali ini, manik Awes terkagum saat melihat deretan penginapan mewah yang berjejer tepat di depan restoran.
Ketiganya mulai melangkahkan kaki, menyeberangi dua jalan beraspal yang cukup lebar. Terdapat pula dua buah jalur mobil elektrik yang melintang di sepanjang tengah jalan.
Sebuah mobil jip elektrik melintas dari sisi kanan dan berhenti tepat di depan sebuah rumah. Langkah Awes dan dua temannya terhenti ketika manik mereka mendapati dua orang pria berseragam turun dari mobil. Tidak lama setelahnya, seorang wanita muncul dengan membukakan pintu untuk polisi tersebut.
“Itu bu Lena!” Ardi menyahut dengan menunjuk ke arah Lena yang tampak menyapa tamunya.
“Ayo, kita samperin ke sana,” ajak Teddi kemudian. Yang langsung disetujui teman-temannya.
“Apa kalian ke sini ingin memberi tahu saya tentang hasil autopsi dua turis Jepang yang tewas semalam?” Lena membuka suara setelah mempersilakan dua tamunya duduk di kursi teras depan rumahnya.
Salah satu pria bertubuh gembul mengangguk. Dia memberikan sebuah amplop berwarna cokelat kepada Lena. Wanita itu pun langsung membuka dan membacanya. Wajahnya seketika berubah tegang kala mengetahui hasil autopsi pada dua jasad yang ditemukan di penginapannya.
Pandangan Lena beralih menatap dua polisi di hadapannya. “Kalian tahu, kan, apa yang harus kalian berdua lakukan?”
Dua polisi itu saling bertatapan. Mereka tampak tersenyum kecil, sebelum akhirnya menatap Lena sambil mengangguk.
Pria bertubuh kurus tampak mengeluarkan amplop berwarna sama dari dalam seragam yang dikenakan. “Kami sudah siapkan berkas lainnya,” tuturnya sembari memberikan benda itu kepada Lena.
Lena langsung menyambar amplop itu dari tangan sang polisi. Membuka dan kembali membacanya. Kali ini, Lena mengangguk. Pandangannya pun beralih menatap dua polisi di hadapannya. “Bagus!” Dia mengambil sebuah amplop kecil berwarna putih yang telah disiapkan sebelumnya dari dalam saku rok. “Ini untuk kalian,” lanjutnya dengan memberikannya pada mereka.
Wajah dua polisi tersebut tampak begitu senang kala melihat sebuah amplop tebal di atas meja. Pria bertubuh gembul pun langsung menerima amplop itu dan menyimpannya di saku seragam. “Kalau begitu, kami pamit dulu,” pamitnya kemudian.
Kening Teddi langsung tertaut ketika mendengar dan melihat langsung perbincangan dua polisi itu dengan bu Lena dari balik mobil jip yang terparkir. Sama halnya dengan Awes dan Ardi yang merasa ada keanehan di antara mereka semua.
“Kenapa polisi itu ngasih dua berkas autopsi ke bu Lena?” Teddi merasa ada yang janggal.