Monkeys Attack

Rosiana Quraisin
Chapter #13

12 - Monkeys Attack

“Ted, masih lama?” tanya Awes yang duduk di samping Teddi. Kepalanya menoleh ke arah layar laptop milik laki-laki bermata empat itu yang justru telah redup. Sementara Ardi sedari tadi hanya diam dan duduk di depan mereka.

Teddi menggeleng. “Udah hampir selesai. Saya udah pindahin aplikasi bantunya ke ponsel. Sekarang saya teh cuma perlu nunggu loading 100% aja,” beritahunya dengan memperlihatkan layar ponselnya yang masih menunjukkan angka 10%.

“Itu berarti, abis loading ke 100 pintu itu udah otomatis kebuka?”

Teddi mengangguk diiringi oleh senyum kecil. Melihat hal itu membuat Awes dan Ardi tertawa senang. “Ternyata penantianku selama dua jam tidak sia-sia, Ted,” sembur Ardi tersenyum bangga sembari menepuk bahu Teddi.

Thank’s, ya, Ted. Kamu kereeen,” puji Awes kemudian. 

Sayangnya, kegembiraan mereka tidak berlangsung lama, sebelum tiba-tiba saja lampu padam. 

Jleb !

Ketiganya terperangah. Melalui penerangan ponsel, Awes bisa melihat raut wajah Ardi dan Teddi yang tampak cemas. 

“Alamaak! Kenapa pula pakai mati lampu segala?” tutur Ardi. Laki-laki itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana dan menyalakan lampu senter sebagai penerangan. 

Sementara Teddi, keningnya tertaut. Benaknya telah merasakan sebuah firasat buruk. “Tunggu! Ada yang aneh. Bukannya bu Lena pernah bilang kalau nggak boleh matiin lampu pas malam hari?” paparnya dengan nada sedikit cemas.

Mendengar hal itu, Ardi dan Awes sama-sama termangu. “Alamaak! Benar juga apa kata kau, Ted. Si sipit mati karena matiin lampu, kan?” Ardi bergegas bangkit. Lalu, menatap serius dua temannya. “Kita harus cari saklar buat hidupkan lagi listriknya,” cetusnya kemudian.

Ardi mulai melangkah untuk meninggalkan lorong, tapi langkahnya harus kembali terhenti saat Awes dengan cepat bangkit dan menarik tangannya. 

“Tunggu!” lontar Awes. Dia meletakkan jari telunjuk di depan hidungnya. “Ssstt … kalian dengar suara itu?” tanyanya dengan mengedarkan pandangan ke arah mereka.

Layaknya serigala telinga Teddi dan juga Ardi mengacung naik mendengarkan. Samar-samar di tengah bisingnya suara hujan, mereka bisa mendengar kerihan sekawanan monyet yang saling bersahut-sahutan. Tidak hanya itu, beberapa menit setelahnya bunyi itu diiringi oleh jerit teriakan seseorang. 

“Arrrggghhhh!”

Lihat selengkapnya