Monkeys Attack

Rosiana Quraisin
Chapter #15

14 - Di Balik Dinding Besar

Klek ! 

Pintu berderit dan perlahan terbuka.

Rindu yang berada di sampingnya terperangah. “Pi-pintunya kebuka!” beritahunya gugup. Buru-buru, dia masuk ke dalam yang diikuti oleh Ajeng dan juga Oriza.

“Cepat, masuk!” pekik Ardi sembari melangkah mundur ke belakang dan memasuki pintu.

Raja dan Bobi pun bergegas memasuki pintu. Namun, nahas. Awes dan Teddi harus terjebak di depan pintu kala sorot penerangan pada layar ponsel mereka meredup, membuat satu persatu dari sekawanan monyet tersebut melompat dan menyerangnya.

Teddi memekik seiring dengan berusaha kuat menjauhkan tubuh makhluk itu yang berada di belakang ranselnya. Sementara, Awes mengibaskan gitar ke arah hewan-hewan itu yang melompat ke arahnya. 

“Dasar monyet sialan!” umpat Teddi seiring melepas ransel dengan monyet yang bertengger di sana, lalu melemparkannya kuat ke depan. Layaknya bermain bowling, tas ransel Teddi berhasil mengenai beberapa monyet yang ikut terlempar jauh. 

“Ted, cepat masuk! Mereka semakin banyak yang dateng!” titah Awes panik dengan masih memukul monyet-monyet itu dengan gitar. Langkahnya mundur bersamaan dengan Teddi yang telah memasuki pintu. 

Hingga kemudian, Awes pun memilih untuk melempar gitar kesayangannya begitu saja ke arah depan hingga mengenai beberapa ekor monyet. Namun, sayang monyet-monyet itu kian bertambah banyak. Mereka berlari diiringi suara-suara kerihan yang terdengar begitu menyeramkan, menggema di lorong sempit ini. Kini, netra Awes harus terbelalak lebar saat melihat sekawanan monyet yang tengah melompat dan hendak menyerangnya, bersamaan dengan seonggok tangan mencengkeram tengkuk jaket dan menariknya kuat ke belakang. Dan ….

Buuggh !

Bokong Awes membentur tanah berlumpur bersamaan dengan pintu digital yang tertutup rapat bersambut oleh suara benturan monyet-monyet itu dari balik pintu. Tubuh Awes membeku seketika. Tadi itu begitu mengerikan. 

“Lo nggak apa-apa?”

Interupsi Oriza menyadarkan lamunan Awes. Maniknya menatap Oriza di samping. Kemudian, menggeleng dan berusaha bangkit. “Thank’s, Za,” ucapnya. 

Awes membalikkan tubuh. Namun, kini harus kembali mematung. Tercengang ketika melihat pemandangan di hadapannya. Meski gelap, tetapi Awes bisa melihat sebuah hutan belantara yang dikelilingi oleh kabut dan pohon-pohon menjulang tinggi, terhampar luas di hadapannya. Belum lagi hujan yang mengguyur, menjadikan suhu udara terasa begitu dingin.

“BUKA PINTUNYA!” Raja memekik sembari menggedor pintu digital yang telah tertutup rapat dengan keras. Berkali-kali, mencoba membuka, tetapi gagal. 

Sayangnya, kegaduhan yang Raja buat, berhasil menghidupkan hutan Dream Island. Pepohonan yang tenang kini seakan bergerak dan menghasilkan suara gemeratak dari dahannya. Bersambut dengan suara kerihan monyet disertai suara hewan-hewan malam yang saling bersahutan. Membuat kepanikan kembali menghantui mereka.

“JA, STOP, JA!” geram Oriza dengan menyingkirkan tubuh Raja yang telah kuyup oleh air hujan dari depan pintu.

“LEPASIN! GUE NGGAK MAU MATI DI SINI!” 

“Alamaak! Egois kali kau ini! Kalau kau terus berisik seperti itu, bukan hanya kau yang akan mati! Kita semua juga bakalan mati!” gertak Ardi kepada Raja. 

Suara burung hantu tidak luput menghiasi malam mereka yang begitu mencekam. Burung-burung itu tengah bertengger di atas dahan. Mata-mata mereka bersinar terang, seiring dengan kepalanya yang berputar 180* ke belakang kala mendengar kebisingan dari anak-anak manusia di bawahnya.

“Dan lo, Jeng! Please, stop nangis!” pinta Oriza dengan menunjuk Ajeng. Gadis berjilbab itu masih saja terus menangis sesenggukkan, menangisi kepergian Susi. 

“Cahaya!”

Rindu mulai membuka suara. Matanya menatap ke arah teman-temannya. “Monyet-monyet itu takut cahaya!” bebernya kemudian. 

Awes mengangguk dan menyetujui perkataan Rindu. “Kamu benar, Ndu. Bu Lena juga pernah ngomong kalau mereka takut cahaya.”

“Pantas aja, tadi teh mereka nggak nyerang kita. Tapi, pas lampu ponsel padam, mereka langsung nyerang kita,” sambung Teddi membenarkan.

Awes mengeluarkan sebuah senter LED jumbo berdiameter 126x188mm dari dalam ranselnya. Begitu pula Ardi, meski ukurannya sedikit lebih kecil. 

Lihat selengkapnya