Seet !
Oriza berhasil merebut senter dari genggaman tangan Raja saat laki-laki itu lengah. Sementara Raja terkejut, lalu menggeram saat tahu Oriza telah mengambil senternya. “Ah shit!” umpatnya dengan meremat kedua tangan.
“Ar, kita harus kejar Awes sama Ajeng! Lo di belakang. Pastikan senter lo menyorot semuanya biar mereka terlindungi sama cahaya,” perintah Oriza kepada Ardi. Gadis itu dengan gesit berjalan ke arah depan. Memimpin barisan semua teman-temannya.
Sementara itu, tatapan Awes menyapu panik seluruh mata-mata yang menyala dan seakan mengapung di udara di hadapannya. Ia berdiri mematung, seiring dengan jantung bergemuruh hebat serta air liur tersendat di tenggorokan. Keringat mengucur deras. Sementara otaknya, dia berpikir jika malam ini akan menjadi akhir dari kehidupannya. Haha … malang sekali nasibnya, dia menghibur kegelisahannya sendiri dengan berpura-pura seolah-olah dia baik-baik saja. Nyatanya, Awes adalah tokoh utama yang sebentar lagi akan mati dalam ceritanya sendiri.
Kepanikan kian pekat saat rungu Awes mulai mendengar suara kerihan diiringi erangan yang terdengar begitu mendebarkan. Tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini, selain pasrah. Dia telah terkepung, sehingga tidak ada celah untuknya melarikan diri. Setidaknya, dia harus menikmati malam terakhirnya, sebelum ajal menjemput.
Namun, di tengah keputusasaan, sebuah mukjizat hadir. Sebuah cahaya yang terang benderang menyorot tubuh Awes seiring dengan suara panggilan namanya yang dilontarkan oleh Oriza. “Awes.”
Seketika makhluk-makhluk itu menghilang. Awes bisa bernapas lega sekarang. Namun, entah kenapa kedua kakinya terasa begitu lemas dan tidak sanggup menopang tubuhnya lagi. Sehingga, perlahan tubuhnya itu merosot ke atas tanah berlumpur. Bersambut dengan rasa syukur atas keajaiban yang Tuhan berikan kepadanya.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Oriza cemas ketika melihat wajah Awes yang pucat pasi.
Awes menggeleng lemah. Dia pun memilih bangkit dengan dibantu oleh Teddi. “Kita harus selamatkan Ajeng!” titahnya kemudian.
“Apa lo yakin kalau Ajeng masih hidup?” Raja mengejek.
Mendengar hal itu, Oriza menegang. Seperti rantai tidak kasat mata membelenggunya. Oriza menatap tajam ke arah Raja. Dan ….
Plaak !
Sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi kiri Raja. Membuat laki-laki itu berdecih sembari mengusap pipinya yang terasa begitu panas. “LO BISA DIAM NGGAK!” amuk Oriza. “GUE MUAK SAMA SIKAP LO YANG SELALU EGOIS!” cecarnya lagi.
Awes, Teddi, dan Ardi berusaha untuk melerai perdebatan sengit di antara sepasang saudara itu. Sementara Bobi beringsut menjauhi mereka ke belakang. Terlalu sesak melihat pertengkaran mereka di tengah kondisi mencekam seperti ini. Dia pun memilih untuk berdiri dan membelakangi teman-temannya. Hingga merasakan sesuatu yang menggelinding dan berhenti tepat di bawah kakinya. Kening Bobi tertaut. “Apa itu?” gumamnya.
Bobi menundukkan tubuh. Dalam gelap dan samar-samar, dia bisa melihat sebuah batu berwarna hitam di kakinya. Tangannya bergerak menggapai batu tersebut. Mengambil dan berniat untuk melemparkannya. Batu tersebut terasa tidak berat dan juga tidak terlalu ringan. Sehingga, dengan mudah Bobi mengangkatnya. Namun, saat berdiri tegak dan melihat sesuatu di tangannya, Bobi melotot bersambut jeritan keras dari mulut yang gemetar minta ampun.