More Than a Promise

LSAYWONG
Chapter #3

3. Kurang Keseimbangan

Siang itu, sekitar pukul setengah satu, Rangga akhirnya keluar untuk mencari makan.

Sejak pagi, perutnya belum terisi apa pun. Setelah meninggalkan rumah mertuanya, ia langsung menuju rumah baru yang beberapa waktu lalu dibelinya dari hasil kerja kerasnya sendiri.

Rumah itu bukan sekadar bangunan bagi Rangga.

Sejak awal, ia membelinya dengan satu tujuan—membangun kehidupan baru bersama wanita yang dicintainya.

Sebuah keluarga kecil. Rumah sederhana tempat mereka bisa berbagi tawa, bertengkar karena hal-hal sepele, lalu kembali berdamai. Tempat mereka saling menguatkan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.

Dulu, Rangga benar-benar percaya semua itu akan menjadi kenyataan. Namun sekarang, semua impian tersebut hanya tersisa sebagai sesuatu yang harus ia kubur dalam-dalam.

Semuanya berubah sejak peristiwa yang menimpa Gigi. Sampai hari ini, Rangga masih belum mampu menerima keputusan wanita itu.

Ia bahkan tidak tahu harus marah, kecewa, atau merasa bersalah. Yang jelas, satu hal tidak pernah berubah. Rangga tidak pernah menginginkan pernikahan itu.

Bukan dengan Shella. Jauh sebelum kecelakaan tersebut terjadi, Gigi sudah lebih dulu meminta sesuatu yang sampai sekarang masih sulit diterima Rangga.

"Ga..." Suara Gigi terdengar pelan.

Malam itu mereka berdiri di halaman rumah orang tua Rangga. Udara terasa lembap. Langit mulai dipenuhi awan gelap dan hujan sepertinya hanya tinggal menunggu waktu.

"Aku punya satu permintaan buat kamu."

Rangga menoleh. "Permintaan apa?"

"Tapi kamu harus janji."

Rangga mengernyit. "Janji apa?"

"Apa pun yang aku minta, kamu harus coba terima."

Rangga menatapnya beberapa saat. Selama ini Gigi tahu betul kelemahan Rangga. Selama permintaan itu datang dari wanita yang dicintainya, Rangga hampir tidak pernah sanggup mengatakan tidak.

"Ya sudah. Bilang saja."

Gigi menarik napas panjang. "Aku mau kamu menikah sama Shella."

Rangga langsung terdiam. Untuk beberapa detik, ia bahkan mengira dirinya salah dengar. "Apa?"

"Aku mau kamu menikah sama Shella."

"Jangan bercanda, Gee."

"Aku serius."

"Kenapa?"

Gigi menunduk. Ada kesedihan yang tidak biasa di wajahnya. "Karena setelah aku nggak ada nanti, aku nggak mau Shella sendirian."

Rangga langsung mengernyit. "Ngomong apa kamu?"

"Aku cuma minta kamu menjaganya."

"Gee, Shella itu sahabat kamu. Bukan tanggung jawab aku."

"Aku tahu."

Gigi tersenyum kecil. "Tapi justru karena dia sahabatku, aku tahu dia."

Rangga terdiam.

"Shella kelihatannya kuat. Dia bisa kerja sendiri, hidup sendiri, bahkan kalau ada masalah dia selalu bilang semuanya baik-baik saja." Gigi menghela napas. "Padahal sebenarnya dia gampang hancur."

Rangga tidak menjawab.

"Aku cuma mau tahu dia nggak sendirian."

"Terus kenapa harus aku?"

"Karena aku percaya sama kamu." Jawaban itu justru membuat Rangga semakin tidak nyaman.

"Gue nggak bisa."

Gigi menatapnya.

"Kalau aku nggak mau?"

Untuk beberapa saat Gigi hanya diam. Kemudian suaranya terdengar sangat pelan. "Kalau begitu... kita putus."

Rangga membeku. Ia tidak pernah menyangka permintaan yang terdengar sederhana itu justru akan menjadi awal dari hancurnya seluruh rencana hidup mereka.

---

Keesokan harinya, hidup Rangga seperti dihantam tanpa peringatan.

Sebuah kabar buruk datang begitu cepat hingga ia bahkan tidak sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Rangga merasa semuanya tidak adil. Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu yang terlalu singkat. Yang paling membuatnya sulit menerima keadaan adalah perasaan bahwa keputusan Gigi seolah sudah direncanakan jauh sebelum semua ini terjadi.

Padahal Rangga masih berharap mereka bisa memperbaiki semuanya. Sebelum Gigi pergi, Rangga sempat meneleponnya berkali-kali.

Tidak diangkat. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Sampai panggilan terakhir. Rangga mendengar suara Gigi dari seberang.

"Ya, Rangga. Sebentar, aku telepon Shella dulu."

Saat itu Gigi sedang mengemudi seorang diri.

Tidak lama kemudian, sambungan dengan Shella terdengar.

"Halo."

Suara Shella terdengar datar.

"Halo, Shella. Lo ada di rumah, kan?"

"Ada. Memangnya kenapa?"

"Gue ke rumah lo. Tunggu, ya. Lima menit lagi gue sampai..."

Rangga yang masih mendengar percakapan itu segera mencoba menyela.

"Gee, aku—"

"Ga, sebentar. Aku cari powerbank dulu. Baterai ponselku tinggal dua per—"

Brak!

Suara benturan keras tiba-tiba terdengar.

Rangga langsung membeku.

"Gee?"

Tidak ada jawaban.

"Gee!"

Hanya suara berisik dari sambungan telepon.

Kemudian hening.

Rangga langsung mencoba menelepon kembali.

Sekali.

Tidak tersambung.

Sekali lagi.

Tetap tidak ada jawaban.

Panggilan akhirnya terputus.

Saat itulah kepanikan benar-benar menguasai dirinya.

Rangga segera pergi menuju rumah Shella.

Begitu sampai, ia mendapati Shella sedang menangis dalam pelukan Amanda.

Wajah perempuan itu pucat. Tangannya bahkan gemetar. Saat melihat Rangga, Shella tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menundukkan wajah.

Saat itu Rangga tahu...

Ada sesuatu yang sudah berubah.

Dan sejak hari itu, tidak ada lagi yang benar-benar sama.

---

Lihat selengkapnya