Janur kuning yang melengkung indah di ujung gang menyambut kedatangan rombongan, menandakan segera dimulainya prosesi besar hari ini. Di sepanjang jalan, papan karangan bunga bertuliskan "Selamat Atas Pernikahan Gavin Adiyaksa dan Monic Aurelia" berbaris rapi.
Iring-iringan mobil mempelai pria mulai memasuki halaman. Namun, ada yang ganjil. Tak ada sambutan hangat dari tuan rumah selayaknya pesta pernikahan pada umumnya. Suasana di sana justru terasa tegang.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya berpakaian batik rapi berlari terengah-engah. Dengan napas memburu, ia menghampiri mobil putih yang baru saja berhenti dan menggedor pintunya dengan keras.
"Pak! Pak!" serunya panik, persis seperti orang yang dikejar dept collector.
Acha, gadis remaja di dalam mobil itu, menurunkan kaca. Napas pria itu bahkan sampai menerpa wajahnya hingga bisa mencium aroma rendang yang tersisa.
"Papaku di mobil belakang, Pak!" tunjuk Acha ke arah BMW merah.
Tanpa membuang waktu, pria itu berbalik dan ganti menggedor pintu mobil di belakangnya. "Pak! Bu Monic kabur!" teriaknya.
"Dia tidak ada di kamar sejak pagi. Kami sudah mencari ke mana-mana, tapi hanya surat ini yang tertinggal di atas nakas." Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan amplop merah muda dengan tangan gemetar.
Deg!
'Calon mama tiri gue kabur?' batin Acha shock.
Gadis bergaun putih berenda itu bergegas turun dan menghampiri pria tersebut. "Mama Monic kabur, Pak?" tanyanya dengan mata membulat sempurna.
Seketika, pintu-pintu mobil lain terbuka. Seluruh rombongan keluarga tersentak mendengar kabar buruk itu. Tak terkecuali sang calon mempelai pria, Gavin Adiyaksa. Papa Acha itu keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan keras.
"Monic kabur?" Gavin mengulang kalimat itu dengan dahi berkerut dalam, seolah tak percaya.
"Iya, Pak. Ini ... Bu Monic meninggalkan ini." Secarik kertas yang sudah dikeluarkan dari amplop diserahkan pada Gavin.
Pria yang sudah siap mengucap ijab kabul hari ini mendadak hancur. Dengan perasaan kacau, ia membaca barisan kata di atas kertas itu. Hanya butuh beberapa detik bagi Gavin untuk memahami isinya sebelum ia meremas kertas tersebut hingga lusuh. Bibirnya terkatup rapat, perasaan kecewa terlukis di wajahnya begitu jelas.
Acha yang penasaran merebut kertas itu dari tangan papanya dan membaca dengan suara lirih:
"Gavin, maaf aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku mundur. Aku butuh waktu untuk berpikir kembali. Kamu terlalu baik untukku, Gavin. Aku merasa tak pantas bersanding denganmu. Maafkan aku ... keluargaku tidak tahu apa-apa soal keputusan ini, jangan salahkan mereka. Semoga kamu bahagia dan menemukan wanita yang tepat untuk menjadi istri serta mama bagi Acha."