Hujan semalam masih meninggalkan genangan air di jalanan Semarang ketika Maya memasuki rumah sakit. Udara pagi terasa lembap, bercampur aroma basah aspal dan daun yang tertinggal dari hujan. Lorong lantai lima rumah sakit itu sunyi, hanya terdengar dengungan mesin ventilasi dan kipas pendingin yang berputar pelan. Maya melangkah perlahan, sepatu kulitnya menapak di lantai keramik yang bersih, suara langkahnya memantul samar tapi stabil di antara ketenangan lorong.
Ruang laboratorium forensik sudah menunggu. Semua yang ada di sana terasa familiar, dari rak botol formalin yang tersusun rapi, lemari berisi alat-alat tajam steril, sampai meja otopsi stainless steel yang dingin. Maya selalu merasa ada ketenangan tersendiri ketika berada di sini, ketenangan yang bercampur dengan ketegangan halus. Dunia Maya hanya dimulai dan berhenti di lorong-lorong dan ruang laboratorium ini, di mana setiap detail kecil bisa menjadi penentu dalam sebuah kasus.
“Dokter Maya, sarapan sudah?” suara suster Andin terdengar lembut dari ujung lorong.
Maya menoleh, tersenyum tipis. Andin, suster paruh baya yang selalu tertata rapi, sudah seperti keluarga. Ia bukan sekadar suster; Andin adalah pendengar setia ketika Maya tenggelam dalam laporan kasus yang tak pernah habis.
“Belum, Bu. Baru sampai,” jawab Maya sambil menaruh tas di meja persiapan.
Andin mendekat sambil membawa nampan berisi roti panggang, selai, dan segelas susu hangat. “Ah, kamu ini. Jangan terlalu larut bekerja. Sarapan itu penting, terutama untuk otopsi nanti.”
Maya tersenyum, tipis tapi tulus. “Terima kasih, Bu. Nanti saya sarapan sebentar.”
Andin duduk di kursi dekat meja persiapan. “Hujan semalam deras ya? Jalanan pasti licin. Hati-hati kalau nanti pulang.”
Maya menatap jendela kecil di ujung lorong. Genangan air memantulkan cahaya lampu jalan yang masih samar. “Iya, Bu. Beberapa genangan cukup besar, tapi masih bisa dilewati.”
“Anda harus ingat payung atau mantel. Masuk angin itu tidak lucu,” Andin mengingatkan.
“Sudah siap, Bu,” jawab Maya. Hening sebentar. Ada ketenangan di lorong ini sebelum hari panjang dimulai.
Maya membuka laptop, menelusuri laporan lama. Catatan demi catatan, tanggal demi tanggal, kasus demi kasus. Semua bagian dari dunianya. Ia selalu teliti. Tidak ada detail yang boleh terlewat, sekecil apapun.
Sementara itu, Andin menata alat-alat laboratorium dan dokumen tambahan. “Dokter, ini catatan dari kasus yang belum selesai. Aku sudah mengurutkan sesuai tanggal.”
Maya mengambil dokumen itu dan menatapnya sekilas. “Bagus, Bu. Ini akan mempermudah.”