Ribuan massa berkumpul di depan kantor DPR dan DPRD di berbagai daerah untuk melakukan aksi demonstrasi terkait badai pemutusan hubungan kerja (PHK) sekaligus menagih janji pemerintah terkait 30 juta lapangan kerja. Massa yang terdiri atas berbagai lapisan masyarakat baik mahasiswa, fresh graduate, atau pekerja umum yang turut serta menyuarakan hak-hak masyarakat yang belum dipenuhi.
Pemimpin demo menyuarakan tuntutan-tuntutan mereka mulai dari terjadinya arus badai PHK massal di banyak sektor mulai dari kantor pemerintahan, perusahaan, instansi, pabrik, hingga UMKM. Alasan yang mereka tekankan karena tenaga mereka sudah digantikan oleh artificial intelligence (AI) yang semakin hari semakin canggih. Selain itu, tingginya pajak yang harus dibayarkan oleh pemilik usaha juga menjadi hal yang berkontribusi memperburuk keadaan. Lalu di mana janji 30 juta lapangan kerja itu? Seharusnya data 30 juta lapangan itu bisa kami akses secara terbuka dan prosesnya transparan. Bukankah teknologi semakin canggih, untuk membuat website atau aplikasi tersebut tentu bukanlah hal sulit. Kami menuntut janji tersebut segera dipenuhi.
Kami sadar laju kecanggihan teknologi semakin tidak tertahankan. Tapi kami juga sadar, bahwa teknologi itu mahal. Kami rakyat biasa hanya bisa menjadi penonton saja wahai kalian yang duduk di singgasana. Bagaimana kebijakan kalian agar kami rakyatmu berkesempatan untuk mengakses teknologi super canggih itu. Bukankah kalian bisa mempermudah akses pendidikan dan pelatihan teknologi, sehingga kami bisa bersaing di zaman yang sudah gila ini!
Suara pendemo itu terputus saat layar televisi dimatikan. Wajah sendu itu terlihat jelas sedang memikirkan banyak hal. Namun itu tidak mengurangi pesonanya. Mata yang tajam yang menyimpan keteduhan, garis hidung yang meninggi, rahang yang sangat menawan dan dibalut dengan kulitnya yang putih bersih. Ia memiliki kepribadian yang jernih seperti air yang mengalir. Terang seperti bulan purnama.
Sejak semalam pikirannya kalut setelah menerima pesan dari seseorang yang meminta bantuan. Dilihatnya berulang kali pesan itu, nama pengirim serta permohonannya. Ia tahu nama itu. Pertimbangan demi pertimbangan melaju tanpa henti dalam otaknya. Memilih dan memilah langkah yang paling tepat. Setiap keputusan yang ia ambil akan menentukan masa depan. Tidak hanya bagi dirinya tetapi juga untuk orang banyak. Sejenak ia menenggak air mineral yang ada di mejanya. Berharap pikirannya jernih seperti air itu. Keputusan itu pun sudah ia ambil.
Pikirannya yang sudah jauh lebih jernih berhasil meyakinkan dirinya untuk memulai langkah ini dengan baik. Tamunya sudah tiba. Telah berdiri dua orang, laki-laki dan perempuan. Untuk si laki-laki sudah ia ketahui sebelumnya juga dari nama pengirim pesan itu, sedangkan yang perempuan tampak asing baginya namun kesan yang ditampilkan cukup untuk melupakan sejenak kekalutan yang menderanya.
“Silakan masuk.”
Mereka bertiga kini berada di ruang kerja seseorang yang amat rapi. Penataan ruangan yang terasa pas. Perpaduan warna bentuk dan fungsi menciptakan suasana yang nyaman. Perabotan-perabotan kayu banyak terlihat di berbagai sudut mulai dari meja, kursi, juga kusen-kusennya dari kayu. Tidak ketinggalan bertebaran tanaman dalam pot yang memenuhi sudut-sudut ruangan. Kombinasi aroma pinus dan rosemary menguar dari diffuser yang gagah berdiri di pojok ruangan. Ruang kerja yang memikat siapapun yang masuk ke dalamnya. Tenggelam dalam harmoni semesta yang begitu menawan.
Namun, menawannya ruangan itu tetap masih tidak bisa mengungguli sang pemilik ruangan. Bahkan kedua tamu itu juga masih menutup rapat mulut mereka. Hanya pikiran mereka yang ramai sejak tadi.
“Selamat datang. Saya Remin Revannaxell. Apa yang bisa saya bantu?”
Remin memang lebih suka to the point, basa basi hanyalah sesekali ia gunakan. Ia mungkin ingin tahu mengapa ada polisi yang dulu berada di ruang interogasi, kini mendatangi dirinya? Begitu pula dengan wanita di sampingnya, meski banyak pertanyaan berkelebat di kepalanya, lebih baik segera ke intinya saja.
“Begini Pak Remin. Mungkin lebih baik kami memperkenalkan diri dulu. Saya Rhaen Lukan dan partner saya, Eirys seorang anggota BIN. Jika Pak Remin ingat, kita pernah bertemu di ruang interogasi waktu itu terkait kematian Orien Runo. Sejak saat itu kasus bergulir dengan sangat rumit, namun terpaksa diakhiri seperti yang kita semua tahu. Namun, Eirys berhasil meyakinkan saya untuk terus melanjutkan penyidikan. Kami merasa kasus ini jauh dari kata selesai. Satu per satu misteri terungkap. Hingga kami merasa Anda yang memiliki kapasitas untuk membantu kami. Kami ingin tahu tentang SIFAR.”
Remin masih menatap datar lawan bicaranya. “Sejauh mana yang Anda ketahui?”
Rhaen memberi kode pada Eirys untuk segera memberikan dokumen penyidikan mereka selama ini. Remin pun segera memeriksa dokumen fisik itu dan mempelajari secara singkat. Tak perlu waktu lebih lama karena itu bisa membuang waktu.
“Bagaimana jika hal ini berbahaya?”