MUDA

'Ilma Zakiyyah
Chapter #11

11. Orang-Orang Penting

Seperti peluru yang telah dikokang dalam senapan, maka hanya menunggu waktu akan ditembakkan. Tembakan pertama akan menjadi peringatan, tembakan kedua memanggil kesadaran, maka sebuah keniscayaan akan ada tembakan ketiga yang akan menjelaskan semuanya. Duduk perkara yang membentuk sebuah pola.

 Berita-berita di berbagai kanal berita serentak memanas membahas kematian seorang konglomerat pemilik mall besar di Jakarta. Sang konglomerat dinilai sehat dan muda serta tidak memiliki riwayat penyakit yang mengkhawatirkan tetapi secara mengejutkan ditemukan tak bernyawa di kamar tidurnya. Pun juga tidak terdeteksi adanya luka fisik yang dapat mengindikasikan adanya upaya pembunuhan ataupun bunuh diri.

Selang seminggu kabar yang tak kalah menghebohkan kembali memenuhi headline berita-berita. Pemegang saham tertinggi perusahaan semikonduktor telah meninggal dunia di vila pribadinya. Orang-orang yang sempat bertemu dengan Beliau sehari sebelum dikabarkan meninggal menyaksikan bahwa kondisinya sangat lemah dan perlu dikawal oleh penjaganya. Ini tentu jauh di luar dugaan, mengingat usianya yang masih sekitar 40 tahunan, namun ternyata menyimpan kesakitan yang tidak banyak diketahui publik.

Belum selesai dengan kehebohan yang ada, maka kematian salah satu anggota DPR kembali menghadirkan kehebohan. Terlebih fakta bahwa anggota DPR tersebut adalah kader EvYo. Banyak spekulasi-spekulasi mengenai kematian beruntun para orang-orang penting. Media juga terus memburu berita-berita mengenai kematian orang-orang penting tersebut. Tidak cukup seminggu atau dua minggu, bahkan sebulan lamanya kasus ini tetap berada dipuncak pencarian dan pembahasan di berbagai platform media sosial.

Sebulan pula janji yang pernah diucapkan oleh seseorang yang kini terlihat sibuk di balik meja kerjanya itu ditangguhkan. Mencari jalan pintas tak semudah yang dibayangkan. Namun, memakai jalan utama tentu penuh risiko yang menghadang. Selama ini pun ia hanya menunggu dan menunggu datangnya ilham ke dalam dirinya.

Informasi tentang SIFAR coba ia gali dari koleganya yang berada di EvYo. Mereka tentu mengetahui sesuatu meski mulut mereka ditutup rapat-rapat. Mengerahkan semua koneksinya dan tak lupa membawa-bawa nama Orien Runo untuk meyakinkan mereka bahwa ia pernah ke SIFAR. Hingga pada akhirnya ia pun mendapatkan satu jalan terang yang diharapkannya. Meskipun ada sebuah harga yang harus dibayar.

Dia, Remin, segera mengabarkan solusi yang didapat pada Rhaen dan Eirys. Merencanakan pertemuan dengan berbekal tekad bulat. Remin-lah yang justru mendatangi markas Eirys. Di sana mereka menyusun strategi untuk masuk kembali ke SIFAR.

Rhaen dan Eirys sempat tidak percaya bahwa setelah sekian lama, permintaan mereka akhirnya terkabul juga. Sempat ada rasa pesimis yang tentu lebih sering membayangi hari-hari mereka. Tidak yakin orang penting seperti Remin akan membantu misi yang mungkin dianggapnya konyol. Ya, dengan datangnya Remin ke markas Eirys, tentu misi mereka bukanlah misi konyol semata. Mungkin inilah misi terpenting abad ini.

“Kalian sudah siapkan identitas penyamaran yang kuminta?”

Lihat selengkapnya