MUDA

'Ilma Zakiyyah
Chapter #12

12. SIFAR 2

Hovercar Remin sudah melaju membelah jalanan sibuk Jakarta. Juga jalanan di atas mereka, begitu banyak transportasi udara yang berlalu lalang. Dua penumpang itu masih beradaptasi di dalam mobil Remin. Sesekali mereka harus kaget dengan perubahan mode mobil yang sesekali melayang rendah, sesekali berjalan manual dengan roda. Kedua orang itu tentu ingin protes, tapi itu hanya sebatas dalam pikiran mereka.

           Rhaen membenarkan posisi duduknya. Eirys di sampingnya juga sedang mematut diri karena khawatir dengan properti penyamaran yang habis terkena goncangan. Remin masih tenang di balik kemudi. Hovercar pun melaju dengan penuh keyakinan. Membawa misi yang penuh risiko, rumit, dan mendebarkan. Sejauh manakah takdir akan membawa mereka?

           Remin memarkir mobilnya di basemen gedung tempat yang sama dengan yang didatangi Rhaen dan Eirys. Mereka bertiga melangkah menuju titik yang sama yaitu dinding yang menjadi kamuflase lift. Kali ini Remin yang memandu mereka. Meletakkan kelima jari kanannya. Menginput password yang sama sekali berbeda dengan yang pernah Rhaen dan Eirys input. Dan… ting. Pintu lift terbuka. Ketiganya langsung masuk. Pintu lift tertutup. Remin menyentuh dinding panel lift di bawah tombol bertuliskan B2. Sebuah layar hologram virtual muncul. Remin memasukkan kembali sebuah kode. Setelah itu lift bergerak turun. Di sela-sela itu Remin mengatakan sesuatu. “Nomor anggota EvYo.”

           Rhaen dan Eirys tak berkomentar. Hanya mata mereka saling melempar tanya. Namun, jawaban sudah ada di kepala mereka masing-masing. Sebenarnya hasrat berdebat Rhaen masih sangat tinggi. Ia ingin sekali mendebat Remin, tapi anehnya hanya kekeluan yang tercipta. Aura yang tak bisa dibantah. Berbeda sekali dengan Xev, mungkin memang Remin jauh lebih muda dari Xev, tapi Rhaen lebih gampang mendebat Xev. Entahlah, itu juga misteri lain dari hubungannya dengan orang-orang yang ia temui.

           Pintu lift terbuka. Mereka sudah sampai di tempat tujuan. Tempat yang sama sekali berbeda dengan yang pernah Rhaen dan Eirys datangi saat menyamar menjadi Roma dan Juli. Ini bukan SIFAR yang waktu itu. Inilah SIFAR yang sesungguhnya. Mereka masuk dari pintu kaca sebagai pintu masuk SIFAR. Masih dengan nuansa warna yang sama yaitu putih dan teal. Sebuah tagline dari branding SIFAR memang benar adanya seperti yang pernah Remin katakan. Di dinding dekat langit-langit ruangan tertulis besar-besar.

SIFAR: MUDA & ABADI.

Welcome to SIFAR

(Synthetic Immortality for Age Reversal)

           

Keterkejutan Rhaen dan Eirys tertangkap oleh Remin. Memang Remin tak menjelaskan secara rinci bagaimana SIFAR. Biarlah mereka tahu dengan mata kepala mereka sendiri, pikir Remin. Seketika itu pula, Remin memberikan sedikit penjelasan.

           “SIFAR yang pernah kalian datangi, itu adalah kamuflase.” Kedua orang itu terhenyak. Lagi-lagi mereka tertipu. Bahkan Eirys merasa gagal dan menyesal telah melakukan kesalahan.

           “Kalian bersiap. Sebentar lagi kita akan bertemu pemilik SIFAR.”

           Kini mereka duduk di ruang khusus tamu. Setelah sebelumnya melewati pemeriksaan para robot. Sejauh ini memang hanya terlihat robot-robot yang bekerja di SIFAR. Di ruang tamu itu juga ada robot pelayan yang menawarkan makanan dan minuman. Remin dengan santainya memesan sesuatu. Melempar tatap pada dua rekannya untuk segera memesan sesuatu. Tidak ada bantahan, dua rekannya melakukan hal yang sama.

           Pemilik SIFAR belum juga hadir di ruang tamu. Rhaen sedikit gugup, entah bagaimana bisa ia gugup. Sejauh pekerjaannya sebagai polisi cybercrime jarang sekali mendapat pengalaman unik seperti ini. Kakinya sedikit-sedikit bergerak berulang kali. Eirys di sampingnya menangkap gerak-gerik aneh Rhaen. Segeralah Eirys mendaratkan kaki kirinya di atas sepatu Rhaen. Norak sekali.

           Rhaen ingin memekik karena kakinya mendadak dihantam beban. Tapi urung, sosok tinggi besar itu memasuki ruang tamu. Remin berdiri, Rhaen dan Eirys mengikutinya. Terlepas sudah penderitaan kaki kanan Rhaen.

           “O. Hai. Selamat datang Mister Remin. Apa kabar?” Sosok tinggi besar itu menyalami Remin dan terlihat seperti teman lama yang baru bertemu lagi. Wajahnya yang tampak sangat segar dan awet muda sekali. Tapi jika boleh ditaksir, usianya sekitar 40 atau 50-an.

Lihat selengkapnya