Markas Eirys masih lengang. Rhaen bersabar menyimpan suaranya karena sang lawan bicara masih menyelesaikan tugas kuliahnya. Sedangkan Remin sudah pulang lebih dulu, hanya memberi kabar jika untuk selanjutnya mereka bisa ke SIFAR sendiri, dirinya akan datang sesekali.
Rhaen masih menyusun bahan diskusinya yang akan ia tunjukkan pada Eirys. Penemuan-penemuannya yang sangat sensasional. Otaknya terus menyangkal karena apa yang diketahuinya terlalu gila. Usaha untuk memecahkan kasus Orien Runo, tak disangkanya akan membawanya ke dalam kasus yang mungkin lebih besar dan melibatkan banyak pihak. Namun, masalah Orien Runo harus terang terlebih dahulu. Setidaknya bisa memberikan bukti bahwa Xev-lah yang berusaha menutupi kebenaran. Dan mengambil kembali posisinya yang telah direnggut paksa. Namun, ingatan Rhaen kembali berputar saat mengingat Xev berdiri di ruang server bersama Faroz. Rhaen mengepalkan tangan yang menunjukkan urat-uratnya.
“Ceritakan apa yang kamu ketahui, Rhaen.”
Rhaen terhenyak dengan ucapan Eirys, rupanya ia sudah selesai dengan tugas kuliahnya. Eirys mengambil posisi duduk di hadapan Rhaen dengan meja sebagai pemisahnya. Di sisi kiri Rhaen dan kanan Eirys sudah hidup layar monitor hologram yang digunakan untuk menunjang diskusi mereka.
“Pertama aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku saat melihat Bossok Xev di sana. Dugaan kita rupanya perlahan menemukan jawaban dan kenyataan itu tetap saja mengagetkan. Urusanku dengannya belum berakhir.” Kembali kepalan kedua tangan Rhaen terbentuk.
“Aku juga terkejut, Rhaen. Itu terlalu jelas. Untunglah kita memakai penyamaran. Tapi entah bagaimana dengan Pak Remin. Apakah mereka sudah saling tahu?”
“Itu juga yang mengganjal pikiranku, Eirys. Mungkin bisa saja Pak Remin sudah tahu jika Bossok Xev adalah bagian dari mereka.”
“Apakah kau percaya sepenuhnya dengan Pak Remin, Rhaen?”
Rhaen membelalakkan mata.
“Maksudmu, Eirys? Aku yakin Pak Remin ada di pihak kita. Meskipun aku sendiri sulit untuk menggali lebih jauh tentang dirinya. Anggaplah memang dia ada di pihak kita. Untuk apa coba seorang kader utama VerdeX rela melepas keanggotaannya dan berpindah menjadi kader EvYo, jika hanya untuk main-main saja.”
“Kau benar, Rhaen. Sepertinya Pak Remin mau kita memecahkan sendiri misteri ini. Mungkin akan bahaya jika dia terlibat terlalu jauh. Namun, tetap saja kita harus berjaga-jaga. Oke, penemuanmu tadi apa?”
Rhaen hampir saja terlupa. Obrolan mereka sudah ke sana ke mari.
“Ruang server itu… Aku diajak oleh petugas khusus menangani server SIFAR untuk masuk ke ruangan yang penuh dengan rak-rak komputer server, juga ratusan panel-panel bercahaya yang disetiap panelnya menyimpan dan mengontrol semua chip SIFAR. Chip inilah yang dapat melacak langsung kondisi tubuh pemilik secara real-time.”
“Chip, seperti ini?” Eirys menunjukkan pergelangan tangan kirinya. Tampak kotak kecil berukuran 1x1 cm dan tebal 0,1 mm. Jika disentuh akan tampak persegi kecil melekat di atas kulit pergelangan tangan, namun jika tidak disentuh akan berubah kembali menjadi bening transparan.
“Aku belum bisa memastikan chip yang sama dengan holophone atau tidak. Dan pemasangannya di bagian tubuh mana.”
“Apakah kau sudah bisa melacak identitas asli Orien Runo?’
“Belum Eirys. Aku masih beradaptasi dengan kondisi server SIFAR. Itu sangat rumit, tapi bukan tidak mungkin. Aku mencoba melacak nama Orien Runo, namun data tidak ditemukan. Lalu aku teringat kasus Bu Seralyn. Aku coba melacak namanya dan data itu muncul. Tepat seperti data yang pernah kita cari waktu itu. Sewaktu aku melacak dengan nama Morrixa Anatallyn hasilnya data tidak ditemukan. Rasa penasaranku berlanjut. Aku kembali memasukkan nama Xevannus Ryden dan hasilnya tidak ditemukan. Namun, saat aku menginput nama Rhaga Wreksa Janottama, data itu muncul. Kamu mungkin akan kaget saat mengetahuinya.”
“Wah. Itu berarti data yang tersimpan di SIFAR adalah data asli dan menggunakan nama asli. Dan jika nama Orien Runo tidak ditemukan, itu tandanya ada identitas asli yang tidak kita ketahui?”
“Iya, itulah tugas kita selanjutnya,” jelas Rhaen.
“Tapi tunggu sebentar. Apa kau tidak ingat dengan cerita Pak Remin sewaktu datang ke SIFAR bersama Orien Runo. Bukankah dia seharusnya sudah tahu identitas asli Orien Runo?”