MUDA

'Ilma Zakiyyah
Chapter #14

14. Petunjuk Baru

Ruang server begitu terisolasi dari hiruk-pikuk SIFAR. Tidak banyak petugas yang bertugas di ruang server karena aksesnya sangat terbatas. Keamanan datalah alasan utamanya. Hanya ruangan depan server saja yang boleh dimasuki oleh petugas lain untuk keperluan administrasi. Tempat itulah Rhaen melihat Xev di SIFAR. Selanjutnya Xev-lah yang memandu Rhaen masuk ke ruangan server yang terpisah dari ruang depan. Butuh identitas khusus yang diberikan SIFAR.

           Rhaen dan tiga petugas server secara resmi berbagi tugas untuk mengontrol semua perangkat di sana. Mereka bertiga bernama Xev, Yoz, dan Zaet. Rhaen pun tak ambil pusing menghafalkan nama mereka, ia lebih mudah menyebutnya XYZ. Lalu, terbetiklah satu berita yang cukup menguntungkan Rhaen, manakala ketiga petugas itu tidak berada di ruang server selama 24 jam. Ya, mereka memakai sistem shift. Rhaen yang dianggap sebagai anak baru harus menghabiskan lebih banyak waktu di ruang server. Rhaen tak terkejut jika Xev banyak absennya, itu masuk akal. Kehidupan di kepolisian mencegahnya untuk berlama-lama di ruang server. Lalu YZ memiliki kehidupan nyata dengan sebuah keluarga. Situasi inilah yang justru diinginkan Rhaen.

           “Mr. Raze, kau harus bekerja lebih rajin di awal masa-masa kerja. Kalau perlu lembur, kalau perlu menginap. Tapi jangan sampai macam-macam dengan server-server ini. Kerja kita akan selalu diawasi.” Ucapan Y cukup ambigu untuk diartikan sebagai saran pada rekan kerja atau sebuah pernyataan bahwa ia ingin lepas tanggung jawab dengan memanfaatkan kehadiran Rhaen.

           Berhari-hari, Rhaen melakukan pengamatan kebiasan rekan-rekan kerjanya. Jadwal shift, kegiatan rutin pengecekan dan perawatan sistem, dan pelaporan kondisi server secara berkala. Sejauh ini mereka bertiga memang belum bisa memecahkan misteri kematian ketiga klien SIFAR. Rhaen tak dapat informasi berarti saat bertanya pada mereka. Seolah itu perkara ghaib. Hanya orang-orang istimewa yang dapat mengetahuinya.

           Jika sebuah sistem yang begitu sempurna mengalami masalah yang “ghaib”. Tentu tidak lain itulah kelemahan yang tidak disadari. Terlalu silau dengan kehebatan yang mereka buat karena dapat melawan sebuah keniscayaan. Bahkan mungkin tak menyadari ada penyusup masuk. Penyusup itu sedang mengotak-atik sistem dan kesempurnaan yang mereka miliki.

           Rasa percaya diri telah melingkupi Rhaen. Sebagai Mr. Raze, kecakapannya dalam hal server tidak perlu diragukan. Sebab, ia telah bergaul dengan Eirys, Ms. Elle yang begitu lihai dalam hal penyamaran. Jika memang yang dihadapi sebuah kepalsuan dan kepalsuan yang berlapis, maka ia pun telah memiliki siasat tak kalah palsunya. Dunia sungguh kejam demi sebuah harga kebenaran.

           Bahwa ide menginap itu sangat brilian. Rhaen dengan sengaja menghabiskan malam-malam di ruang server SIFAR. Berteman kerlap-kerlip cahaya yang memenuhi ruang server yang berasal dari panel-panel layar. Tak ada langit malam yang bisa disapa, tak ada terang bulan yang menemani, apalagi bintang-gemintang. Hanya berteman dengan cahaya buatan itu.

           Atau cahaya yang berbinar-binar dari mata itulah sejatinya teman. Tatkala apa yang dicarinya menunjukkan hasil yang mengejutkan. Segera ia menggunakan kacamata ajaibnya. Menyalin semua data yang berhasil ia dapatkan. Satu per satu tugas yang ditulis Eirys untuk dirinya sudah berhasil ia penuhi. Identitas asli Orien Runo. Rhaen tak sanggup menahan ekspresinya yang seakan siap meletup. “Ini terlalu gila.”

           Rhaen menghubungkan semua hasil pencariannya ke komputer Eirys. Tentu ia juga penasaran dengan hasil pencarian Eirys tentang SIFAR. Sekejap saja, Kacamata ajaibnya menerima sinyal pesan dari Eirys.

           “Aku sudah mendapatkan beberapa informasi menarik tentang SIFAR.”

           “Aku mau memberi tahumu, ternyata kau lembur.”

           “Rhaen, kau tidak tidur, kan?”

           “Rhaen, balas aku.”

           “Oh, aku sudah memeriksa kiriman data darimu. Ini gila Rhaen.”

           Rentetan pesan dari Eirys langsung mengubah haluan konsentrasi Rhaen. Ia tak membalas saat itu juga. Justru ia teringat pertemuan pertamanya dengan Eirys yang tampak seperti wanita garang dan menakutkan. Ia berpikir bahwa penilaian itu ada benarnya dan ada juga salahnya. Benar karena memang itu yang tampak dari luar, salah karena setelah cukup berinteraksi dengannya, ada sisi lain yang tersembunyi. Sisi lain itu, kini sudah Rhaen lihat.

           Tak terasa seulas senyum terbit di bibir Rhaen. Ia ingat juga dengan nasihat yang menyinggung dirinya pada awalnya, tetapi jika dipikir-pikir dengan masak memang itu benar adanya. Tak perlu menyangkal lagi, dirinya pun tak bisa menilai diri sendiri dengan objektif. Maka dengan bertemu dengan Eirys, setidaknya ia bisa lebih kenal dengan dirinya sendiri. “Iya. Makanya kamu jangan suka marah-marah. Cepet tua nanti; Kamu sesekali harus tertawa Rhaen. Kapan kamu terakhir kali tertawa?” Kalimat itu berputar-putar di kepala Rhaen. Kini dirinya pun tertawa.

“Eirys, kamu berhasil,” gumamnya.

***

           Eirys masih tidak lepas menatap lekat data-data yang dikirim Rhaen. Begitupun Rhaen juga masih terpaku dengan data-data yang Eirys temukan. Saling mencocokkan, kiranya benang merah semakin tebal terlihat.

           “Kamu percaya jika SIFAR didirikan oleh menteri kesehatan di tahun 2100?”

           “Sebenarnya tidak.”

Lihat selengkapnya