Dalam sepekan saja, datangnya berita-berita itu bagai air bah. Mendengung, mendesis, meneror siapapun yang mengakses televisi atau media sosial. Berbagai pihak berbondong-bondong menyoroti kasus-kasus yang tengah panas di tengah masyarakat. Kasus pertambangan di lokasi wisata alam, diskriminasi AI yang sampai menelan korban jiwa, korupsi uang pajak piranti teknologi, hingga tutupnya sekolah-sekolah karena beralih ke sekolah daring.
Media sangat sadis mengemas kasus-kasus itu agar semakin menjadi trending topic, mengalahkan tayangan hiburan. Kerusakan lokasi wisata alam memang sangat memprihatinkan, indahnya bentang alam Kepulauan Nirwana di ujung timur Indonesia mendadak jadi buruk rupa. Hijaunya alam gugusan pulau telah hilang disibak tanpa belas kasihan meninggalkan luka merah yang menganga di sana sini. Kicauan burung-burung juga menyingkir dari rumahnya yang dipaksa dirobohkan. Semua kini berganti mesin-mesin tambang dengan gagahnya menjadi penguasa baru di sana. Suara dentuman ledakan menjadi pengganti kicauan burung-burung. Bijih nikel yang sebenarnya enggan beranjak dari tempatnya, tapi tetap diambil paksa. Karenanya air yang jernih berubah menjadi keruh dan tercemar, tak layak dilihat apalagi digunakan oleh manusia. Air yang keruh tak bisa lagi untuk bercermin, meski itulah cerminan sesungguhnya. Wisata alam yang permai, kini hanya terancam tinggal kenangan.
Jika diurut-urut, kebutuhan nikel yang melonjak akibat kebutuhan piranti-piranti teknologi yang semakin tinggi. Tidak hanya suplai dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Namun, dari sekian banyak lokasi tambang, sangat disayangkan jika harus lokasi wisata menjadi korbannya. Ramai-ramai masyarakat membuat petisi untuk menolak kegiatan tambang tersebut. Namun, beribu-ribu pun petisi dan protes dilayangkan. Pemerintah bergeming, beralasan itu tidak menyalahi aturan karena sudah mengantongi izin yang resmi dan juga setelah proses pertambangan selesai, lokasi wisata akan pulih lagi.
Kemarahan masyarakat berikutnya karena AI yang diskriminatif. Rupanya perilaku diskriminatif sudah menyebar ke dunia AI. Pasalnya AI telah mengambil alih banyak sektor sampai sektor kesehatan. Kronologinya diawali dari terjadinya kecelakaan motor melawan mobil di persimpangan jalan. Pengendara motor dan pengemudi mobil terluka cukup parah, akhirnya orang-orang yang berada di lokasi kejadian menelpon ambulan rumah sakit terdekat. Ambulan pun datang, beberapa orang yang sukarela membantu mengantarkan korban kecelakaan itu pun naik ke ambulan. Ketika sampai di rumah sakit, pasien harus melalui skrining awal melalui bantuan AI. Skrining ini bertujuan untuk mempermudah diagnosa dokter nantinya. Namun, permasalahan muncul terkait hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam menyeleksi pasien yang masuk. AI mempertimbangkan riwayat medis digital, status asuransi yang dimiliki, usia dan potensi harapan hidup dalam jangka panjang, kontribusi sosial dan ekonomi, dan riwayat kegiatan amal. Maka terjadilah apa yang telah dikhawatirkan. Kedua korban kecelakaan memiliki latar belakang yang amat berbeda. AI merekomendasikan perawatan yang berbeda antara korban pengemudi mobil dan pengendara motor. Pengemudi mobil mendapatkan perawatan intensif dan ditangani dengan dokter terbaik, sedangkan pengendara motor hanya mendapat perawatan biasa di kamar rawat biasa meskipun lukanya dapat dibilang lebih parah dari pengemudi mobil. Alhasil pengendara motor harus meregang nyawa karena luka yang cukup parah hanya mendapatkan perawatan ala kadarnya. AI mungkin terkesan diskriminatif, tapi dibalik itu semua tentu ada tangan-tangan yang memprogramnya.
Belum selesai masyarakat marah-marah, muncul lagi kemarahan lainnya. Kini datang dari orang tua yang memiliki anak usia sekolah, baik tingkat SD, SMP, atau SMA. Regulasi baru ditetapkan untuk sekolah dilaksanakan secara daring. Maka bangunan-bangunan sekolah mulai ditinggalkan, kosong, hingga terbengkalai. Protes keras deras mengalir tidak hanya dari orang tua murid, tetapi juga dari pelaku pendidikan dari para guru, dosen, pengamat pendidikan, hingga komunitas-komunitas pendidikan. Alasan kepraktisan belajar dapat dilakukan di mana saja dan diakses dari mana pun tak ayal mendapat penolakan. Orang tua harus mengawasi kegiatan sekolah putra-putrinya dari rumah, sehingga bagi yang memiliki jam kerja menjadi keberatan, guru-guru juga tidak bisa mengawasi proses belajar anak secara langsung. Penolakan terus bersuara lantang mengatakan jika guru sudah kehilangan tugasnya yaitu mengajar dan mendidik. Melalui pembelajaran jarak jauh ini, terasa sangat sulit untuk melakukan pendidikan dan pengajaran secara komprehensif. Pun anak-anak menjadi hilang semangat belajar lantaran tak bisa berinteraksi dengan teman-temannya. Masa-masa sekolah yang seharusnya dapat mereka genggam, kini hilang. Bahkan ada satu komentar warganet yang mendapat banyak tanggapan, “Saat kita kangen dengan orang-orang tersayang, orang tua, istri, suami, atau anak saja tak cukup dengan telepon atau video call, obatnya hanya bertemu langsung. Apalagi masalah belajar, bukankah yang utama itu belajar dan bertemu langsung dengan gurunya? Secanggih-canggihnya teknologi saat ini, tak ada yang bisa menggantikan yang namanya pertemuan langsung, tatap muka.”
Adu argumen di media sosial masih belum berhenti, banyak yang pro dan juga kontra. Yang mendukung pembelajaran sekolah sepenuhnya daring beralasan karena perkembangan zaman, kepraktisan, dan fleksibilitas yang tinggi. Tim kontra yang tak kalah banyaknya pun berargumen tak kalah sengitnya menekankan tumbuh kembang anak-anak akan terganggu, karena usia-usia mereka harus sering beraktivitas di luar ruangan, berinteraksi, bermain, dengan teman-teman seusianya, tidak mungkin mereka hanya bermain dengan piranti-piranti teknologi saja. Lalu muncullah juga kubu penengah. Mengusulkan pembelajaran dilakukan secara daring dan luring bergantian dalam satu tahun ajaran. Kubu penengah justru mendapat komentar berbagai kecaman yang justru memperkeruh suasana. Diskusi yang berujung debat tak berujung.
Puncak kemarahan masyarakat terhadap pemerintah adalah terjadinya korupsi proyek peluncuran 100 satelit orbit rendah (low earth orbit/LEO) sebagai langkah terobosan untuk menjamin kesediaan jaringan internet cepat di seluruh pelosok negeri. Janji dari keberhasilan proyek ini sangat ditunggu-tunggu semua masyarakat di antaranya: tidak ada lagi daerah pelosok yang tidak ada jaringan internet, lapangan kerja baru terbuka luas melalui ekonomi digital, meningkatkan akses pendidikan dan berbagai layanan publik berbasis AI, mengendalikan dominasi korporasi luar negeri di Indonesia.
Terjadinya mark-up besar-besaran biaya pengadaan satelit yang dihargai jauh lebih mahal berkali-kali lipat dari harga aslinya, juga adanya laporan kemajuan yang palsu, satelit yang mengudara tidak berjumlah 100 buah, melainkan 30 buah saja. Hal ini memicu kemarahan yang tak bisa dikendalikan lagi. Aksi demonstrasi di berbagai daerah tak bisa dicegah.
***
Dua orang itu, laki-laki dan perempuan, sudah bersiap menghambur di kerumunan massa. Mereka sengaja berpencar namun tetap terhubung. Mengikuti gerakan dan seru-seruan dari pemimpin demonstrasi. Berbagai atribut pendemo sangat bervariasi, mulai dari warna baju yang dipakai bernuansa gelap, kertas-kertas bertuliskan tuntutan untuk menghentikan kebijakan-kebijakan yang dinilai meresahkan. Beberapa kerumunan sempat sulit ditertibkan. Dua orang itu terus berkirim kondisi di tempat masing-masing.
Demonstrasi sudah berlangsung selama empat jam. Namun, dua orang itu belum menunjukkan akan beranjak dari lokasi. Mereka berdua bukan bagian dari massa, namun mereka sedang mencari berita. Ada beberapa orang yang telah menjadi target yang disinyalir memiliki informasi terpercaya.
Bak jurnalis kelas kakap, mereka berdua telah berhasil menjaring target-target yang sudah mereka incar. Meski harus berjibaku dengan massa yang berjubel. Penuh peluh, debu, sengat matahari tak menyurutkan kegiatan pagi menjelang siang itu. Semakin panas, semakin membakar semangat. Begitu pun dua jurnalis gadungan itu.
Pesan untuk segera menyingkir dari kerumunan diberikan oleh salah satu dari mereka. Lokasi yang mereka tuju adalah skyrail. Dengan kondisi yang sedang tidak kondusif, cukup melelahkan untuk mencapai ke transportasi umum. Sayangnya, skyrail sedang tidak beroperasi dengan alasan perbaikan “under maintenance”. Keduanya berdecak kesal, tujuannya masih jauh dari lokasi mereka saat ini. Mereka juga sengaja tidak membawa mobil, karena akan sangat mencolok. Segera keduanya mencari alternatif moda transportasi. Terlihat beberapa bajaj yang sedang mangkal di bawah pohon kersen. Lampu indikatornya berpendar hijau.