Sejak pesan ancaman Eirys datang bertubi-tubi untuk segera datang ke markasnya, Rhaen kelabakan. Rencana untuk menjalankan tugas sebagai polisi sempat kacau, mungkin memang ini pertaruhan yang nekat. Ia bertekad untuk mengungkap kebenaran kasus kematian Orien Runo yang sempat diselesaikan sepihak oleh seniornya yang ternyata musuh di balik selimut. Setelah kebenaran terungkap, bukan tidak mungkin baginya akan kembali ke Bareskrim. Lengkingan alarm stasiun itu membuyarkan lamunannya, mendapati dirinya sedang berada di skyrail.
Bukan lagi kabar burung. Topik pembicaraan orang-orang di skyrail sangat patuh dengan apa yang muncul di media sosial. Pada akhirnya mereka menyebutkan nama atau istilah yang belakangan ini telah menyita kehidupannya. SIFAR.
Entah bagaimana bisa ada narasi yang meresahkan publik. “SIFAR berbahaya dan patut untuk dibubarkan. SIFAR telah mengendalikan kita semua. Jika kalian tidak percaya, silakan tanya pada Rion Daska Santara.” Rhaen tahu betul siapa nama yang di maksud itu. Nama itulah yang mengesahkan keanggotaan dirinya (Mr. Raze) di partai EvYo. Sang ketua umum EvYo yang sah. Rhaen memijat kepalanya. Sedikit pening mengurutkan apa yang sebenarnya ia lakukan? Apa yang sebenarnya terjadi? Semua masalah semakin melebar. Sekali lagi, harapan itu ada di markas Eirys. Yang menurutnya dirinya dan Eirys terlalu mendadak akrab. Tak sempat berinteraksi secara normal. Semua karena misi gila yang sudah kepalang tanggung untuk tidak diselesaikan. Entahlah, sebersit harapan di hati Rhaen akan ada momen dengan Eirys yang bukan membahas tentang misi itu.
Lengkingan suara alarm pemberhentian itu terdengar lagi. Rhaen turun dari skyrail. Meninggalkan pemandangan hiruk pikuk Jakarta di pagi hari.
Eirys sudah sangat serius menatap layar hologramnya. Kehadiran Rhaen hampir tidak mengusiknya. Padahal sebelumnya sudah meneror Rhaen untuk segera datang ke markasnya.
“Aku sudah dengar sendiri. Semua orang sedang membicarakan SIFAR. Ini kabar terlalu gila.” Eirys masih bergeming. Rhaen yang sudah habis kesabarannya melihat lebih dekat apa yang sedang dikerjakan intel muda itu. Ditatapnya layar hologram yang mengambang di depan Eirys. Beberapa wajah terlihat berseliweran. Mereka yang memiliki kuasa.
“Aku tahu siapa yang menyebarkan berita SIFAR.” Kali ini Eirys memusatkan perhatiannya pada Rhaen yang masih tertegun itu. Dihamparkannya layar itu secara horizontal agar lebih leluasa memandang. “Merekalah yang menyebarkan informasi SIFAR.”
Raut wajah Rhaen terlihat tidak sehangat biasanya. Ada kesan penyangkalan dalam dirinya. Nada bicaranya terasa berubah. “Bagaimana kamu tahu?” Kalimat yang penuh penekanan. Rhaen yang belakangan ini memang kembali fokus ke pekerjaan di kepolisiannya, beristirahat sejenak dengan misi yang semakin tidak jelas arahnya. Setelah dari tempat Remin itu. Sebersit keyakinan muncul di benaknya. Misi ini tidak akan berakhir baik bagi dirinya. Meskipun segera ditepisnya. Mencoba mengembalikan lagi rasa semangat dan yakin seperti memulai misi itu.
Satu kalimat yang diucapkan Eirys seperti belati bagi Rhaen. “Aku menganalisisnya dengan mendapatkan informasi dari Pak Remin. Orang-orang elite yang merupakan klien SIFAR yang kecewa dengan SIFAR.” Rhaen masih menatap datar Eirys yang tengah menjeda kalimatnya. “Pak Remin bilang, orang-orang elite itu tahu tentang rahasia SIFAR. Kita harus segera bertindak, Rhaen. Jadwalmu sudah bisa diajak kompromi, kan?” Rona wajah yang penuh harap milik Eirys itu, rupanya tidak mendapatkan sambutan yang semestinya. Justru kalimat penolakan yang diterimanya.
“Aku tidak akan melakukannya lagi, Eirys.” Itulah palu godam yang amat menyakitkan. Eirys tak tahu harus bereaksi seperti apa. Selama ini rasanya tak pernah ada masalah dengan Rhaen. Tapi sikapnya kali ini diluar perkiraannya. Eirys tak tahan juga akhirnya keluar kalimat penuh tanya yang bertubi-tubi agar ia mendapatkan alasan yang logis dari Rhaen.
“Kau bisa melakukannya sendiri.” Rupanya kalimat yang sudah berjejalan di kerongkongan tidak mendapatkan akses untuk keluar. Hanya kalimat singkat itu saja yang berhasil terkonversi menjadi sebuah fatwa dirinya.
“Tapi kenapa?” Pertanyaan lanjutan Eirys semakin membuatnya geram. Kau bilang ini misi kita? Awalnya memang cukup mengejutkan jika kau yang lebih banyak mengambil alih rencana. Namun, akhir-akhir ini kau memang keterlaluan, kau meremehkanku? Dan baru saja kau sudah melakukan sesuatu di luar sepengetahuanku. Kau bilang dapat info dari Pak Remin? Oh, rupanya kalian sudah akrab dan bisa melanjutkan misi ini tanpa aku. Mungkin kesalahan terbesarku adalah termakan bujuk rayumu.
“Aku permisi. Kau tidak perlu lagi menghubungi atau mencariku.” Bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, Rhaen sudah keluar dari markas Eirys. Sekuat tenaga ia masih menahan gejolak di dada. Mungkin memang tak bisa mengeluarkan sumpah serapah seperti melawan Xev dahulu. Tapi rasa-rasanya kalimatnya yang dingin tadi, lebih menyakitkan. Satu hal yang harus ia yakini saat ini adalah ia percaya bahwa keputusannya tepat. Sekilas terbayang wajah Eirys saat mendapat penolakan dari dirinya. Matanya berkaca-kaca? Tidak mungkin dia akan menangis. Eirys menangis? Itu hal mustahil.
***
Seharian itu pula, Eirys tak bisa melakukan apapun. Setiap kali memaksakan diri untuk fokus, ia selalu gagal. Akhirnya hanya merebahkan dirinya di sofa, dan memikirkan kembali apa kesalahan yang ia buat. Bulir bening itu luruh tanpa disadari.
Namun, Eirys tetaplah Eirys. Tak butuh waktu lama untuk kembali bangkit dengan amunisi baru di kepalanya. Tak bisa semudah itu menyerah meskipun ia harus seorang diri melakukannya. Ia akan siap menghadapi apapun di depan sana. Masa depannya juga sangat bergantung dengan apa yang dilakukannya saat ini. Jika tidak sekarang, maka tak ada yang bisa memastikan kesempatan akan datang dua kali.
Semua perangkat teknologinya dihidupkan kembali. Mempelajari sekali lagi apa yang sudah dikerjakan sebelumnya. Profil-profil para elite yang merupakan klien SIFAR. Keberadaan mereka yang sedari awal seharusnya bisa Eirys sadari. Mereka tentu memiliki informasi penting tentang SIFAR. Maka, tekadnya sudah bulat. Ia akan mencari informasi apapun itu dari para elite itu. Mulai informasi umum hingga rahasia. Bagaimanapun caranya.
Rencana nekat Eirys rupanya tercium juga oleh Remin. Ketidakhadiran Rhaen, juga jawaban Eirys yang seadanya. Menyiratkan bahwa ada yang tak beres dengan mereka berdua. Remin yang sebelumnya tidak terlalu terlibat dengan agenda Rhaen dan Eirys, tiba-tiba saja merasa ikut bertanggung jawab dengan misi itu.
Setelah proses interogasi yang membutuhkan energi yang besar, Remin berhasil mengetahui semua rencana Eirys. Alasan ketidakhadiran Rhaen. Dan dirinya telah memutuskan akan membantu Eirys lebih daripada sebelumnya. Kali ini dia akan terlibat secara aktif. Catatan yang ditekankan pada Eirys adalah, “Selama Rhaen tidak ada di sini.” Eirys yang mendengarkan kalimat itu merasa tersindir. Itu berarti ia harus membawa kembali Rhaen di dalam misi ini. Entah bagaimana cara mana yang akan ia tempuh.
Remin tak berbohong tentang keterlibatannya secara aktif dalam rencana Eirys. Set penyamaran sudah ia kenakan. Ia akan melakukan semua hal yang sudah dirancang Eirys. Mereka berdua akan berpisah tempat untuk menggali berbagai informasi tentang orang elite itu. Termasuk informasi tentang SIFAR yang mungkin belum mereka ketahui selama ini.
Selama seminggu penuh, Remin dan Eirys menjalankan misi ini. Beragam informasi yang mereka dapat sangat menggugah rasa penasaran yang semakin dalam. Ada informasi umum, yang sudah mereka ketahui, informasi tersirat yang sulit untuk diuraikan, hingga informasi rahasia yang harus diungkap sendiri oleh Eirys dan Remin. Tanpa bukti konkret, sebuah pernyataan tidak ada kekuatannya.
“SIFAR telah mengendalikan banyak lini kehidupan sejak awal kemunculannya. Mereka bak Tuhan yang bisa menentukan masa depan bahkan terhadap nyawa seseorang.”
“Bukankah itu terlalu berlebihan?” Eirys mengerutkan kening. Ini informasi terlalu ambigu. Menunggu tanggapan Remin yang masih juga berkerut melihat data-data yang mereka kumpulkan.
“Master SIFAR. Konon SIFAR memiliki sosok sebagai pencetus awal SIFAR. Namun, sejauh ini tidak ada informasi tentang orang itu. Apa itu adalah Tuan Faroz? Apa mungkin ada orang lain? Kita harus menandai ini adalah informasi yang mungkin berguna.”
“Aku pernah mendengarnya dari percakapan Rhaen dan Tuan Faroz yang menceritakan tentang awal berdirinya SIFAR. Aku ada rekamannya.” Eirys membuka file rekaman percakapan itu. Sejauh ini masih belum bisa dipastikan itu cerita sebenarnya atau bohongan. Setidaknya ada satu nama yang tersebut yaitu Mr. S.
“Elite nomor 1, 3, dan 4 menyinggung tentang ruang server SIFAR yang memiliki rahasia sehingga itulah alasan paling masuk akal mengapa tidak ada yang boleh masuk selain petugas ruang server. Dan kita tahu yang memiliki akses itu salah satunya adalah Mr. Raze.” Tatapan Remin sangat terang sekali bahwa Eirys harus membawa kembali Rhaen ke misi mereka. Kesimpulan pun sudah mereka dapatkan.