MUDA

'Ilma Zakiyyah
Chapter #18

18. Fakta SIFAR

“Bagaimana perkembangan penelitianmu?” Satu pertanyaan pembuka saat makan siang bersama di kantin rumah sakit dilontarkan salah satu dari dua dokter itu. Mereka adalah sahabat sejak di bangku kuliah kedokteran. Bahkan saat masing-masing mengambil spesialis yang berbeda. Seorang di spesialis genetika dan seorang lagi spesialis bedah saraf. Keduanya sama-sama memiliki ambisi besar di masa depan yang kini tengah mereka rancang.

           “Seperti yang kau tahu, kemajuan yang amat mengagumkan.” Keduanya masih menikmati makan siang mereka. Basa-basi yang sering mereka gunakan untuk membuka obrolan. “Aku percaya diri, setelah penelitianku berhasil, kita bisa membantu banyak anak-anak yang membutuhkan pertolongan.”

           “Sejauh ini sudah berapa yang berhasil?” kata sahabatnya itu sambil menyendok makanan.

“Dua. Tiga dalam proses,” jawab sang sahabat dengan penuh bangga. Keduanya akhirnya melanjutkan makan siang dengan wajah penuh kebahagiaan dan rasa optimisme.

           Dalam beberapa tahun kemudian, nama keduanya melejit. Publik mengenalnya sebagai malaikat penolong bagi anak-anak yang menderita berbagai penyakit, terutama yang terhalang dalam hal biaya. Dua dokter yang masih tergolong muda itu memberikan perawatan secara gratis bagi anak-anak. Banyak anak-anak yang berada di panti asuhan yang mendapatkan manfaat dari kebaikan dua dokter itu. Kasus-kasus penyakit pada anak akibat kelainan genetik menjadi fokus utama program perawatan gratis mereka. Mereka membuat semacam terapi untuk menyembuhkan anak-anak tersebut. Meskipun begitu, dua dokter itu tidak serta merta bekerja sendiri, tetap membutuhkan kerja sama dengan dokter spesialis lain seperti dokter anak, onkologi, bedah anak, dan lainnya.

           Langkah dua dokter itu mendapat sorotan media yang akhirnya menarik perhatian para tokoh-tokoh penting. Langkah kedua dokter itu sangat penuh pertimbangan untuk loncat ke tahap berikutnya.

           “Apakah ini sudah saatnya untuk mengeluarkan senjata utama?” Arah pembicaraan yang sudah dapat ditebak akan semakin cepat mereka bahas. Keduanya sudah menyaksikan hasil penelitian si dokter genetika yang mengulang kembali penelitian dari The Harvard Medical School di 2010 untuk menguji tikus tua yang sakit-sakitan dengan disuntik enzim telomerase. Hasilnya pun sekali lagi menakjubkan, tikus tua itu kembali terlihat lebih segar, sehat, dan jauh lebih muda. Sebab rambut-rambut yang sudah hilang sebelumnya, tumbuh kembali.

           Percobaan lain juga terus dilakukan baik secara in vitro maupun ex vivo. Model kultur sel fibroblas manusia ditumbuhkan dalam skala laboratorium hingga mencapai batas maksimal pembelahan—menandakan telomer dalam fase terpendek tidak dapat membelah lagi—yang disebut juga batas Hayflick. Lalu diberikan enzim telomerase—dapat diekstrak dari tenunan seluler tanaman Grandula dan tanaman herbal Astragalus—untuk mengetahui dampak terhadap pembelahan sel. Sel pun mengalami pembelahan kembali.

           Setelah melalui berbagai percobaan dan pengujian secara bertingkat dan ketat. Kedua dokter itu menerapkan hasil penelitiannya pada diri mereka sendiri. Ini adalah langkah awal yang harus mereka lakukan untuk bisa diterapkan pada orang lain. Hal-hal yang menjadi kekurangan akan mereka perbaiki kemudian.

           Usia mereka adalah akhir 30-an. Namun, secara ajaib mereka tampak lebih segar lagi seperti awal 20-an. Mimpi mereka adalah untuk membuat dunia dalam kendali mereka. Salah satu caranya dengan membuat semuanya awet muda.

           Tidak butuh waktu lama. Berkat ketenaran nama mereka berdua, klinik terapi pertama mereka berdiri, investor berdatangan. Pasien mereka tidak lagi anak-anak panti asuhan, tetapi orang-orang elite. Klinik Eternelle yang mendapat banyak respon positif dari berbagai kalangan. Sementara harga yang mereka bandrol sangat tinggi, maka hanya yang memiliki uang lebih yang dapat mengaksesnya.

           Si dokter genetika yang masih tetap menerima pasien anak-anak untuk pengobatan biasa, di tolak oleh si dokter bedah saraf. Itu hanya akan membuang waktu dan biaya, katanya. Ia menyarankan untuk menyimpan keinginan itu sampai usaha klinik mereka benar-benar besar dahulu.

           Di tengah-tengah keberhasilan Klinik Eternelle, musibah datang. Banyak pihak menuntut penutupan Klinik Eternelle dengan alasan diskriminasi pasien, izin klinik yang bermasalah, hingga sengketa lahan. Seperti secepat membalikkan telapak tangan, Klinik Eternelle pun terbalik juga, dari keberhasilan yang meninggi menjadi kejatuhan yang amat dalam. Mereka kalah di persidangan dan Klinik Eternelle akhirnya tutup. Dua dokter jenius itu kehilangan semuanya.

           Sementara semuanya jatuh dan runtuh. Ada satu hal yang tidak ikut dalam keruntuhan itu, yaitu mimpi mereka. Terlalu besar ambisi yang tertanam dalam dada mereka. Tidak ada kamus stress, overthinking atau saling menyalahkan. Mereka berdua sangat menjaga emosi mereka karena itu juga mempengaruhi fisik mereka. Mereka masih percaya dapat kembali mendirikan klinik baru. Itulah yang mereka diskusikan. Tampaknya memang nasib baik masih memihak pada mereka.

           Sebuah tawaran menggiurkan datang dari konglomerat yang memiliki bank ternama di tanah air. Dua dokter muda diminta untuk membangkitkan lagi Klinik Eternelle dengan rebranding yang baru. Kepercayaan investor itu menaikkan lagi darah semangat dan mimpi yang sempat terhenti. Tanpa perlu berlama-lama, kedua belah pihak mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Klinik Eternelle part 2.

           Euforia masih menghinggapi jiwa dokter-dokter itu. Kali ini semua harus benar-benar matang dan sempurna. Tidak boleh ada celah untuk bisa dimanfaatkan oleh orang yang iri dengki ingin menjatuhkan usaha mereka. Maka dengan sangat hati-hati, proses pembangunan Klinik Eternelle part 2 tidak boleh bocor ke mana-mana. Sesuai dengan saran dari investor utama untuk membangun klinik di bawah tanah. Hal itu dapat diterima sebagai alasan keamanan agar tidak terlalu mencolok ke publik. Meskipun tentu menjadi tantangan lagi dalam proses promosi selanjutnya.

           Dua dokter itu bukan tanpa perdebatan untuk memilih nama baru untuk klinik mereka. Begitu sulit menyamakan pendapat dari dua kepala yang berbeda dan egonya sama tingginya. Nama Eternelle sebelumnya pun didapat dari celetukan keponakan dokter bedah saraf. Kali ini tak bisa lagi mengharap dari celetukan orang lain. Harus dari diri mereka sendiri.

           “Aku sudah menemukannya. Kamu pasti setuju, harus setuju. Nama klinik baru kita adalah gabungan nama kita. SIFAR. Sindra dan Faroz.”

           “Nama yang aneh. Kenapa namaku jadi yang kedua?”

           “Bisa saja. Jadinya FARSI, Faroz dan Sindra. Tapi kedengarannya lebih aneh. Sudahlah kamu mengalah. Nama klinik kita adalah SIFAR.”

***

           Rhaen dan Eirys terlihat sudah berbaikan sepenuhnya. Mereka sudah kembali berdiskusi di markas Eirys untuk membahas penemuan Rhaen yang paling mengejutkan. Ya, penemuan buku legendaris dari dokter genetika. Nama pemilik buku itu adalah Sindra. Buku log book itu menjadi rekaman catatan kemajuan penelitian yang mereka kerjakan. Dengan sangat jelas tertulis hari, tanggal, bulan, tahun, sampai pukul berapa mereka melakukannya. Buku itu ditulis mulai dari 17 Juni 2070.

           “Penemuanmu sungguh membuatku pusing, Rhaen. Kita ini jelas bukan dokter apalagi peneliti, bahasanya terlalu sulit bagiku. Dan lagi setebal ini…” keluh Eirys dengan mengukur ketebalan buku itu sekitar 5 senti.

           “Jika kau menyerah. Sia-sia sajalah aku menemukan ruang rahasia itu sampai sesak napas di lorong gelap tak berujung. Lagi pula siapa yang memiliki ide membangun lorong kematian itu sampai tembus di MRT bundaran HI.” Pengalaman itu masih berbekas rasa ngeri saat tidak ada kepastian di mana lorong itu mencapai ujungnya.

           “Beri aku satu malam. Akan ku catat garis besarnya dari buku ini.” Rhaen menyetujui. Eirys pun bekerja keras malam ini.

Lihat selengkapnya