“Giliranku!” seruku penuh semangat.
Sore itu rumah kami dipenuhi tawa. Papan ular tangga terbentang di lantai ruang tamu, di antara bantal sofa dan karpet biru yang mulai kusam di ujung-ujungnya. Aku duduk bersila di satu sisi, mengguncang dadu di dalam genggaman seolah itu benda paling berharga di dunia.
Di seberangku, Ibu tertawa kecil. Perutnya yang bulat tertutup gaun rumah berwarna kuning lembut. Ia bersandar sedikit ke sofa, satu tangan menyangga punggungnya.
“Ayo, lempar yang bagus,” katanya, pura-pura serius.
Aku melemparnya tinggi-tinggi. Dadu kecil itu memantul di papan permainan sebelum berhenti.
“Enam!” Aku melompat kegirangan. “Aku bisa naik tangga!”
Pion merahku meluncur naik melalui tangga panjang yang hampir mencapai kotak akhir. Aku menepuk lantai dengan gembira.
“Ibu lihat? Aku hampir menang!”
“Iya, iya,” Ibu tersenyum hangat. “Tapi jangan terlalu yakin dulu. Giliran Ibu sekarang.”
Ia meraih dadu dengan gerakan yang lebih pelan. Belum sempat melemparnya, wajahnya tiba-tiba sedikit berubah pucat. Tangannya berhenti di udara.
“Ibu?” tanyaku.
Ia menutup mulutnya cepat-cepat.
“Sebentar.”
Ibu berdiri tergesa-gesa dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Langkahnya hampir seperti berlari. Aku menatap papan ular tangga itu sebentar, lalu ke arah lorong. Tawa tadi terasa tiba-tiba hilang.
“Ibu?” panggilku lagi.
Dari dalam kamar mandi terdengar suara muntah. Hueekk ….
Aku berdiri dan berjalan mendekat ke pintu, ragu-ragu. Pintu kamar mandi tidak tertutup rapat.
“Ibu?” suaraku lebih pelan sekarang.
Beberapa detik kemudian, Ibu keluar sambil mengelap mulutnya. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi ia tersenyum begitu melihatku berdiri di depan pintu.
Aku menatapnya dengan khawatir. “Ibu sakit?”
Ia tertawa kecil, lalu mengusap rambutku. “Nggak, Sayang. Ibu nggak sakit.”
“Tapi Ibu muntah.”
“Itu cuma mual.” Ia menarik napas pelan. “Orang hamil sering begitu.”
Aku menatap perutnya yang besar, seolah baru benar-benar menyadarinya lagi. “Karena bayi?”
Ibu mengangguk. “Karena bayi.”
Aku berpikir sebentar, lalu berkata dengan nada serius seperti orang dewasa kecil. “Kalau begitu kita cepat selesaikan permainannya sebelum bayi itu bikin Ibu muntah lagi.”
Ibu tertawa, tapi kali ini tawanya lebih pelan. Ia menoleh ke arah ruang tamu, ke papan permainan yang masih terbentang di lantai.
“Bukan ‘bayi itu’, El,” sanggah Ibu, “tapi ‘adikku’. Dan Ibu capek sekarang.”
“Sebentar saja?” pintaku. “Aku hampir menang.”
Ibu menepuk bahuku lembut. “Kita lanjutkan lain kali, ya.”
Aku mendengus, tapi tidak benar-benar marah. Ia lalu menunjuk ke arah ruang tamu.
“Tolong bereskan mainannya dulu.”
“Kenapa?”
“Karena ayahmu sebentar lagi pulang.” Ia mulai berjalan ke arah kamar dengan langkah lambat. “Kamu sudah delapan tahun, jadi kamu harus membereskan mainanmu sendiri. Ibu mau istirahat dulu.”
Aku hanya berdiri memandang punggungnya sampai pintu kamar tertutup.
Pion merahku masih berdiri di tangga panjang yang hampir mencapai kotak terakhir. Aku mengambilnya pelan, memasukkannya ke dalam kotak permainan bersama dadu dan pion lainnya.
***
Hari terus berganti, dan semuanya mulai terasa berbeda.
Perut Ibu semakin besar. Bukan besar seperti balon yang menyenangkan, tapi besar seperti sesuatu yang membuatnya sulit bergerak. Kadang Ibu berjalan pelan sekali, satu tangan memegang punggungnya, seolah ia akan roboh kapan saja. Kakinya juga mulai bengkak.
Ibu juga mulai jarang naik ke lantai dua. Tugasnya memastikan aku tidur kini diganti Ayah. Dan Ayah tak pernah mencium keningku, ia hanya mengusap rambutku dan menarik selimutku sampai leher. Itupun kalau Ayah nggak capek di kantor, kalau capek paling cuma mematikan lampu dan pergi.
Dan aku benci tidur dalam kegelapan. Aku yakin ada monster di dalam lemariku.
Suatu sore aku duduk di lantai sambil menggambar mobil balap, ketika Ibu mengangkat kakinya ke sofa dan mengeluh pelan.
“Aduh ….”
Aku menoleh. “Kaki Ibu bengkak lagi.”
Ibu tertawa kecil. “Adikmu cukup berat. Dia sangat kuat, persis kayak kamu.”
Aku tidak tertawa. Aku hanya kembali menggambar, tapi garis mobilku jadi jelek.
Ayah juga lebih sering pulang membawa kotak kecil dari toko buah di ujung jalan. Dulu stroberi itu milikku. Jenis tristar adalah kesukaanku. Ukurannya yang kecil sangat pas di mulutku, dan rasa manisnya yang lembut itu … ah, membayangkannya saja membuatku ngiler. Ayah biasa pulang membawa satu kotak, lalu aku duduk di meja makan dan menghabiskannya sendiri. Kadang Ibu mengambil satu, tapi hanya satu. Sisanya selalu untukku.
Tapi sekarang Ayah berkata, “Ini buat calon adikmu.”
Aku berdiri di dekat meja makan dan melihat Ibu memakan stroberi itu satu per satu.
“Aku boleh ambil satu?” tanyaku.
Ayah langsung berkata, “Jangan banyak-banyak, Elias. Adikmu yang butuh.”
Ibu hanya tersenyum, lalu memberiku beberapa. Namun aku tak berjingkrak. Aku mengunyah stroberi itu pelan, tapi kali ini terasa seperti menelan gumpalan kapas.
Ibu juga lebih sering muntah. Kadang pagi. Kadang siang. Kadang malam. Dan setiap kali aku meminta ditemani bermain, Ayah akan berkata, “Elias, jangan ganggu Ibu.”
Aku cuma berdiri di situ. Padahal aku tidak merasa mengganggu. Aku cuma ingin seperti dulu. Namun keadaan terus berubah. Seperti Ibu yang selalu menjemputku pulang sekolah, kini tak lagi bisa.
Ibu menyuruh adiknya untuk menggantikannya menjemputku. Kebetulan rumahnya satu arah dengan sekolahku. Om Hadi membuka toko kelontong di halamannya yang cukup luas, dan toko itu selalu ramai. Dia juga sering memberiku permen atau membiarkanku mengambil snack yang kusuka.
Aku suka Om Hadi, tapi kehadirannya yang semakin intens membuatku sedikit muak.
Om Hadi biasanya menjemputku dengan motornya yang berisik. Helmnya terlalu besar untuk kepalaku dan selalu bau minyak. Aku tidak suka duduk di belakang motornya. Aku lebih suka berjalan pulang bersama Ibu.
Suatu hari, Om Hadi tidak datang. Aku menunggu di depan gerbang sekolah. Anak-anak lain pulang satu per satu. Gerbang mulai sepi.
Pak Satpam menatapku. “Kamu belum dijemput?”
“Sebentar lagi,” kataku.
Tapi Om Hadi tidak datang. Akhirnya aku berjalan pulang sendiri. Tas sekolahku terasa berat sekali. Jalan pulang terasa lebih jauh dari biasanya. Aku menendang batu kecil di jalan karena kesal.
Ketika sampai di rumah, pintu tidak terkunci. Aku masuk sambil terengah.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
“Ibu?”
Aku berjalan ke ruang keluarga.
Ibu duduk di sofa. Wajahnya pucat. Tangannya memegang perutnya yang besar. Napasnya agak berat. Di sekelilingnya ada banyak sekali barang keperluan bayi. Bahkan aku melihat tempat tidur bayi yang kemarin dibicarakan Ayah dengan begitu antusias. Padahal aku juga ingin ranjang baru, karena yang sekarang sudah berdecit.
“Ibu?”
Ia menoleh pelan. “Oh, Elias sudah pulang? Mana Om-mu? Ibu nggak dengar suara motornya.”
Aku mendengus. “Aku lihat tadi dia memarahi Mas Roy. Mungkin ketahuan merokok lagi di sekolahnya,” jawabku dingin.
Ibu membelalak. “Dia nggak jemput kamu?”
Aku menatapnya lama. “Kenapa Ibu kelihatan aneh?”
“Nggak apa-apa,” katanya cepat. “Cuma … perut Ibu agak sakit sedikit. Kontraksi kecil.”