Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #3

Ini Hari Sial

Pagi hari di kamarku selalu terasa sempit.

Bukan karena kamarnya kecil. Meja belajarku masih di tempat yang sama sejak SD. Lemari masih yang sama. Bahkan tirai jendela itu masih tirai lama yang Ibu pilih dulu. Tapi entah kenapa sekarang semuanya terasa lebih sempit.

Aku berdiri di depan cermin kecil di lemari, merapikan kerah seragam SMP-ku. Kancing paling atas selalu terasa seperti mencekik, tapi kalau dilepas nanti guru BK bisa mengomel lagi.

Tas sekolahku sudah terbuka di atas meja.

Aku memasukkan buku matematika. Lalu buku IPS. Buku bahasa Indonesia. Semuanya jatuh begitu saja ke dalam tas tanpa benar-benar kuperhatikan. Terakhir aku mengambil buku sketsa. Sampulnya sudah sedikit kusam di sudut. Aku membaliknya sebentar, melihat beberapa garis pensil yang sempat kutorehkan di halaman terakhir. Lalu aku memasukkannya ke dalam tas.

Tanganku berhenti di laci meja dan membukanya.

Di dalamnya ada dua kotak cat lukis. Semua sudah kubuka. Beberapa warna sudah setengah habis, terutama warna sekunder. Aku banyak menggunakannya. Ada juga palet dengan noda kering. Lalu kuas yang tidak lagi rapi seperti dulu.

Aku mengambil pensil dari meja. Menatap kedua kotak itu sebentar lagi. Lalu menutup laci dengan keras. Cukup keras sampai meja sedikit bergetar.

Aku mengangkat tas. Dan keluar dari kamar.

Dari dapur sudah tercium bau gorengan.

Aku berjalan ke meja, di sana sudah ada beberapa piring. Tempe goreng. Udang goreng. Sepiring nasi yang masih mengepul. Masakan Ayah memang semakin lama semakin bisa dimakan. Meski kadang masih hambar. Kadang terlalu asin. Tapi tidak lagi seburuk dulu.

Di kursi tinggi dekat meja, Tristan sudah duduk. Dia sekarang anak TK. Rambutnya sedikit berantakan seperti biasa. Di tangannya ada stroberi besar yang hampir habis digigit.

“Tris,” kata Ayah dari depan kompor, “jangan kebanyakan makan buah dulu.”

Tristan mengunyah pelan.

“Nanti kenyang. Nasinya nggak dimakan.”

Aku berhenti. Tristan tidak melihatku. Dia sibuk menggigit stroberi itu sampai jus merahnya sedikit menetes di tangannya. Aku menatapnya tanpa ekspresi.

Ayah menoleh. “Oh, El.” Suaranya langsung berubah lebih hangat. “Sarapan dulu. Sudah siap.”

Aku menarik tali tas di bahuku. “Nggak sempat.”

Ayah mengerutkan dahi. “Kenapa?”

“Ada piket kelas,” ucapku dengan tidak benar-benar menatapnya.

Ayah terdiam sebentar. Lalu berkata pelan, “Hari ini ulang tahunmu.”

Tanganku berhenti bergerak. Aku menoleh perlahan.

Ayah berdiri di dekat meja, spatula masih di tangannya. “Kamu mau hadiah apa?”

Aku menatapnya lama. “Kenapa?”

“Kenapa apa?” Ayah terlihat sedikit bingung.

“Kita nggak pernah merayakan ulang tahun.”

Ayah menaruh spatula di meja. “Ya, sekarang Ayah cuma tanya. Kamu mau apa di hari spesialmu.”

Aku menunduk sebentar. Hari spesial. Aku hampir tertawa.

Kuangkat bahu. “Aku nggak butuh apa-apa.”

“Apa pun?”

“Aku tidak butuh apa-apa lagi.”

Ruangan jadi sunyi sebentar. Bahu Ayah merosot.

Tiba-tiba ada suara kecil dari kursi tinggi. “Kak ….”

Aku menoleh refleks.

Tristan mengangkat tangannya. Di jarinya ada satu stroberi. “Kakak mau?”

Aku terpaku sebentar. Buah merah itu terlihat sangat cerah di tangannya.

Tristan tersenyum polos seperti tidak ada yang salah di dunia ini.

Aku terus menatapnya. Lalu bayangan Ibu terlintas di kepalaku. Ada sesuatu yang seperti dipelintir dalam dada.

Kuhela napas, lalu berbalik dan mulai berjalan menuju pintu.

“El.” Suara Ayah lebih dalam dari tadi.

Kakiku berhenti, tapi tidak menoleh.

“Ayah tahu,” katanya pelan. “Tapi kamu tidak harus bersikap begini.”

Aku diam. Tahu persis apa yang akan dia katakan.

“Adikmu itu—”

Aku langsung menoleh. Cepat. Hampir memotong kata-katanya. “Cat,” cetusku tegas.

Ayah terdiam.

“Aku mau cat,” kataku datar. “Cat lukis. Sama alatnya.”

Dia menatapku seperti baru saja kehilangan kata-kata.

Di belakangnya, Tristan tiba-tiba berseru lagi. “Papa!”

Ayah menoleh ke arahnya.

“Aku mau udang goreng.”

Aku tidak menunggu jawaban. Aku kembali berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

***

Kelas terasa pengap pagi itu. Angin masuk pelan dari luar, menggerakkan tirai tipis yang sudah agak kusam. Tapi entah kenapa ruangan itu tetap terasa berat.

Guru matematika sedang menjelaskan sesuatu di papan tulis. Kapur berderit pelan setiap kali menyentuh papan.

“Perhatikan langkah ini,” katanya.

Lihat selengkapnya