Hari-hariku berjalan seperti garis lurus yang tak pernah benar-benar ke mana-mana—bangun tanpa tujuan, berangkat sekolah hanya karena harus, duduk di kelas tanpa benar-benar mendengar, lalu menghilang ke sudut-sudut sepi yang tak pernah berubah. Waktu bergerak, orang-orang berganti cerita, tapi aku tetap di tempat yang sama, seolah hidup hanya sesuatu yang lewat di depanku tanpa pernah benar-benar singgah.
Nggak terasa, sebentar lagi aku bakal menghadapi ujian kenaikan ke kelas 12. Namun sebelum itu, Mas Roy baru saja menyelesaikan ujian hidupnya di Jogja.
Tenda besar berdiri menutup hampir seluruh halaman toko. Kain putih dan emas menjuntai rapi, bergoyang pelan tertiup angin. Di ujungnya, pelaminan adat Jogja berdiri megah—ukiran kayu cokelat tua, bunga melati yang menjuntai, dan kursi pengantin yang berkilau di bawah cahaya lampu.
Suara gamelan dari pengeras suara mengalun lembut, bercampur riuh obrolan para tamu.
Ayah terlihat sibuk di dekat pintu masuk, menyalami satu per satu tamu dengan senyum yang tak pernah lepas. Om Hadi dan Tante Lilis duduk di meja tamu, sesekali tertawa kecil, berbincang hangat dengan orang-orang yang datang. Di sisi lain, adik-adik Mas Roy sibuk mencatat amplop, sesekali saling berbisik dan tertawa.
Anak-anak berlarian di sekitar tenda. Aku sempat ikut di antara mereka tadi—sekadar bergerak tanpa tujuan, tertawa tanpa benar-benar merasa lucu.
Lalu aku menjauh.
Aku duduk di teras toko, bersandar pada pintu besi yang tertutup rapat. Bayangan tenda menutupi sebagian tempatku, membuatku seperti berada di pinggir dunia yang ramai itu. Kunyalakan rokok. Asapnya naik pelan, mengaburkan pandanganku pada keramaian di depan.
Semua terlihat hidup. Dan aku tidak.
“Sendirian di sini?”
Suara itu membuatku menoleh.
Mas Roy berdiri di sampingku. Pakaian adatnya rapi—beskap hitam, blangkon terpasang sempurna. Di tangannya ada semangkuk soto yang masih mengepul.
Dia duduk di sampingku tanpa banyak basa-basi. “Nggak makan?” tanyanya.
Aku menggeleng kecil. “Sudah.”
Padahal belum.
Aku menghisap rokok lagi, menahan pandangan ke depan. “Selamat, Mas,” kataku akhirnya. Datar.
Dia tersenyum. “Makasih.”
Hening sebentar.
Aku meliriknya. “Bukannya dulu Mas bilang nggak buru-buru nikah?”
Dia tertawa pelan. Tidak tersinggung. “Iya, dulu. Sebelum ketemu orang yang tepat.”
“Terus sekarang?”
Dia mengangkat bahu sedikit, lalu menyuap sendok soto terakhirnya. “Sekarang ya …, jalani aja. Capek juga nunda-nunda hidup.”
Aku mengernyit tipis.
Mas Roy menatap ke arah tenda, ke pelaminan yang penuh cahaya. Senyumnya agak memudar, digantikan tatapan yang lebih teduh. “Umur jalan terus, El. Kadang kita merasa diam di tempat, padahal dunia di sekitar kita sudah berubah jauh.”
Aku tidak menjawab. Memilih membuang abu rokok ke lantai.
“Kamu masih sering mikirin … yang dulu-dulu?” tanya Mas Roy pelan. Tatapannya beralih ke pergelangan tanganku yang tertutup kain, sebelum kembali menatap keramaian.
Aku tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu terlalu tepat, membuat dadaku mendadak sempit.
“Bukan cuma kamu,” lanjut Mas Roy, suaranya nyaris tenggelam oleh suara gamelan. “Om Liam juga sama. Dia kelihatan sibuk di sana, tapi aslinya dia cuma bingung gimana cara mulai lagi setelah semuanya runtuh.”
Tanganku berhenti di udara. Aku tetap menolak menoleh.
“Kalian berdua itu sama-sama keras kepala,” Mas Roy terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. “Tapi kalau nggak ada yang mau mengalah buat buka pintu duluan, kalian bakal selamanya kekunci di rumah yang sama, El. Rumah yang sudah kosong.”
Aku mengatupkan rahang. Rasanya seperti ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam dadaku. Aku tidak menjawab, dan Mas Roy cukup tahu diri untuk tidak memaksa.
Beberapa detik hanya diisi suara tawa dari dalam tenda.
“Sebentar lagi kamu juga lulus, kan?” tanyanya kemudian.
Aku mengangguk kecil.
“Mau ke mana?”
Aku menatap ujung rokokku yang mulai memendek. Kosong.