Taman ini cukup tenang. Angin bertiup pelan di meja besi bawah pohon yang biasa kami tempati. Cahaya sore yang lolos dari sela-sela daun menciptakan pola-pola keemasan yang cantik.
Mbak Erika tidak membawa papan klip. Dia tidak memegang pulpen. Cuma duduk, menyandarkan punggungnya, dan menatapku dengan cara yang aneh—seolah dia sedang melihat sesuatu yang jauh di belakang mataku.
“Bagaimana rasanya mati?” Mbak Erika mengulang pertanyaan yang terus kuajukan selama ini dengan nada yang sama datarnya. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada penghakiman. “Kamu bertanya seolah itu adalah sebuah tempat yang ingin kamu kunjungi, Elias.”
Aku membuang muka, menatap retakan kecil di lantai. “Bukannya itu tujuan akhirnya? Semua orang berlari, berisik, berjuang …, ujung-ujungnya cuma buat berhenti.”
“Berhenti,” Mbak Erika bergumam pelan, “atau menghilang?”
“Sama saja.”
“Beda,” potong Mbak Erika lembut. “Berhenti itu pilihan dalam sebuah perjalanan. Menghilang itu … penghapusan. Kamu merasa ingin dihapus? Atau ingin berhenti ….”
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak, seolah udara di tempat ini mendadak habis. “Aku nggak minta lahir,” kataku, suaraku mulai bergetar. “Ayah, Ibu … mereka yang mau. Lalu aku ada di sini, harus nanggung semua kekacauan ini. Buat apa? Dunia ini nggak adil. Ada orang yang lahir dengan segalanya, dan ada yang lahir cuma buat jadi penonton kebahagiaan orang lain.”
Mbak Erika tidak membantah. Dia membiarkan kalimatku menggantung di udara sampai terasa hambar.
“Kalau dunia ini adil,” Erika bertanya lagi, “apakah kamu bakal tetap ingin mati?”
“Mungkin tidak,” jawabku cepat.
“Berarti masalahnya bukan pada mati,” Erika menyimpulkan tipis, hampir tak terdengar. “Tapi pada cara hidup yang kamu jalani sekarang.”
Aku mendengus, merasa terpojok. “Memangnya ada cara lain? Aku bangun, dan ibuku nggak ada. Aku pulang, dan ayahku nggak melihatku. Aku ke sekolah, dan aku cuma sampah di sana. Di mana maknanya? Buat apa manusia lahir kalau cuma buat ngerasain sakit?”
Mbak Erika memajukan tubuhnya sedikit. Dia menatap cup kopi yang sudah dingin di meja. “Elias, menurutmu …, apakah sebuah lukisan harus punya tujuan saat kuas pertama menyentuh kanvas?”
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
“Pelukis seringkali nggak tahu lukisannya bakal jadi apa. Dia cuma menggoreskan warna. Kadang warnanya gelap, kadang berantakan,” Mbak Erika menatapku dalam. “Apakah lukisan yang belum selesai itu tidak punya makna hanya karena gambarnya belum jelas?”
“Lukisanku hitam,” kataku pahit. “Aku menutup semuanya dengan warna hitam. Itu maknanya. Kegelapan.”
“Hitam juga warna, Elias,” sahut Erika tenang. “Dan biasanya, di bawah warna hitam yang tebal, ada lapisan warna lain yang ingin kamu sembunyikan. Takut kalau warna itu terlihat, orang lain bakal tahu kalau kamu sebenarnya … masih peduli.”
Aku mengepalkan tangan di atas paha. Kardiganku terasa panas. “Aku nggak peduli. Aku cuma pengin semua ini berhenti.”
“Kalau kamu nggak peduli, kamu nggak akan ngerasa sakit sesak ini saat bicara,” Mbak Erika membedahku dengan kata-katanya. “Kamu sakit karena kamu sangat menginginkan sesuatu yang nggak kamu dapatkan. Keadilan? Kasih sayang? Pengakuan?”
Aku terdiam. Air mata sialan itu mulai menggenang lagi.
“Mengapa manusia lahir, Elias?” Mbak Erika bertanya lagi, kali ini suaranya hampir seperti bisikan. “Bukan untuk menemukan jawaban yang besar. Mungkin kita lahir cuma buat menjadi saksi atas keberadaan satu sama lain. Seperti ketua kelas yang kamu ceritakan yang melihatmu di kelas. Seperti siswa kacung Eko yang menunggumu di bawah pohon.”
“Mereka cuma kasihan,” aku tetap menyangkal. “Mereka cuma butuh sekutu.”
“Dan kamu membiarkan dirimu jadi sekutu mereka,” Mbak Erika tersenyum tipis. “Kenapa? Kalau kamu benar-benar ingin menghilang, kenapa kamu masih menyisakan ruang untuk mereka duduk di sampingmu?”
Aku tidak bisa menjawab. Lidahku kelu.
“Kamu bukan sedang mencari kematian, Elias,” Mbak Erika menutup sesi itu dengan sebuah pernyataan yang menghantamku tepat di ulu hati. “Kamu sedang mencari alasan untuk tetap tinggal. Tapi kamu terlalu takut untuk mengakuinya, karena mengakuinya berarti kamu harus berjuang lagi. Dan kamu … sudah sangat lelah, kan?”
Aku menunduk dalam-dalam. Bahuku berguncang. Di bawah pohon itu, di depan orang asing yang hanya memberikan air, pertahananku runtuh total.
“Aku … aku nggak tahu harus mulai dari mana,” isakku pecah.