Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #13

Pengakuan

Pantai itu menyambut dengan suara ombak yang terbuka. Di bawah langit senja yang memantulkan cahaya seperti ribuan pecahan kaca, Kenta dan Nala langsung berlari melepas ransel, menyatu dengan air. Anggi menyusul sambil tertawa.

​Semua orang langsung hidup di tempat ini.

​Aku masih berdiri membeku dengan ransel di bahu, sebelum Nala berbalik dan menyeret lenganku tanpa permisi. Ranselku jatuh ke pasir saat kakiku menyentuh air dingin.

​“Kena!” Kenta menyipratkan air, disusul tawa Anggi.

​Air asin menghantam wajah, mata, dan mulutku. Refleks, aku mengangkat kedua tangan, menutup wajah erat-erat. “Berhenti,” gumamku, suaraku tenggelam di antara tawa mereka. “Sumpah, berhenti.”

​Mungkin karena nadaku yang tumpul dan dingin, tawa mereka langsung surut.

​Air menetes dari ujung rambut dan kardiganku yang kini terasa basah dan berat. Sunyi kecil terbentuk di antara kami, hanya diisi deru ombak. Kenta menggaruk tengkuknya canggung, “Ya sudah. Maaf, Bro.”

​Nala menatapku sebentar, lalu tersenyum tipis—mengisyaratkan bahwa dia tidak akan memaksa lagi.

“Eh,” Kenta tiba-tiba berkata, mencoba mengalihkan suasana. “Kita dirikan tenda di mana? Kalau di sini, bisa-bisa pasang waktu malam.”

Anggi langsung menunjuk ke arah samping. Sebuah bukit kecil, hijau, menghadap langsung ke laut. “Di situ. Lebih aman. View-nya juga dapet.”

Kami semua menoleh.

Masuk akal.

Akhirnya kami kembali ke darat, mengambil barang masing-masing. Pasir menempel di kaki, angin terasa lebih kencang saat kami mulai mendaki. Aku mengambil ranselku tanpa banyak bicara.

Bukit itu tidak terlalu tinggi, tapi cukup membuat napas terasa lebih berat saat sampai di atas. Rumput tumbuh lebat di hampir seluruh permukaannya.

“Kita di sini aja,” kata Anggi, menjatuhkan tasnya.

Semua mulai bergerak.

Aku dan Kenta membuka tenda, membentangkan kainnya di atas rumput. Tanganku bekerja otomatis—menarik, menahan, mengikat.

“Gue seneng sih lo jadi ikut,” kata Kenta tiba-tiba.

Aku tidak langsung menjawab.

“Serius,” lanjutnya, sambil menancapkan pasak. “Gue tadi sempet mikir bakal jadi satu-satunya cowok. Ngeri juga.”

Aku berhenti sebentar. Menatap tanganku sendiri.

“Bahkan bokap gue hampir nggak ngasih izin,” tambahnya santai. “Banyak tanya, ribet.”

Aku mengangkat kepala sedikit. “Lo … deket sama bokap lo?”

Kenta berhenti. Pertanyaanku mungkin terdengar aneh. Dia menatapku sekilas, lalu kembali ke pekerjaannya. “Lumayan.”

“Lumayan gimana?”

Kenta mengangkat bahu. “Ya …, normal. Kadang nyebelin. Kadang juga …, ya gitu, protektif banget.”

Aku terdiam sejenak. “Lo pernah cerita ke dia?” tanyaku lagi. “Tentang … yang di sekolah?”

Kenta berhenti lagi. Kali ini lebih lama. Dia tahu maksudku. Tentang Eko dan gengnya.

Dia menatapku, lalu mengalihkan pandangan ke arah laut. “Nggak semuanya.”

“Kenapa?”

Kenta menarik napas pendek. “Ya … nggak semua hal harus diceritain, kan?”

Aku menatap lekat. “Tapi keluarga lo bisa membantu.”

“Jadi apa lo selalu cerita ke bokap lo, El?” Dia membalikkan pertanyaan itu padaku.  “Tiap orang punya bagian yang mereka simpan sendiri,” lanjutnya. “Bukan karena nggak percaya. Tapi …, ya emang nggak bisa aja.”

Aku kembali menatap tali tenda di tanganku.

“Kalau gue cerita semua,” katanya lagi, “bisa jadi malah bikin ribet. Atau bikin mereka khawatir berlebihan. Mungkin bisa membantu, tapi …, entahlah. Mungkin itu masalah setiap anak.”

Aku mengencangkan simpul itu lebih keras dari seharusnya.

“Lagipula …,” Kenta tersenyum kecil, tipis. “Kadang kita juga nggak tahu harus mulai dari mana. Kadang bercerita juga bisa menghancurkan dari dalam.”

Kalimat itu menggantung. Aku tidak sadar kapan aku berhenti bergerak.

“Eli?” Kenta melirik. “Lo kenapa?”

Aku menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.” Tapi pikiranku tidak di sini.

“Lo ikut ke sini …,” Kenta tiba-tiba berkata lagi. “Karena Nala?”

Aku refleks menoleh. Nala terlihat di dekat kompor portabel, sibuk menyalakan api, rambutnya tertiup angin, wajahnya serius tapi santai.

Aku menggeleng. “Bukan.”

“Yakin?”

Aku menatapnya sebentar, lalu balik lagi ke tenda. “Lo sendiri?”

“Maksudnya?”

“Lo masih suka Nala?”

Kenta tertawa kecil. “Nggak. Sekarang lebih kayak temen deket aja.”

Tidak ada beban di wajahnya saat mengatakan itu. Hanya ringan. Seperti sesuatu yang sudah selesai. Aku tidak tahu kenapa, tapi dadaku terasa sedikit … kosong.

Tenda di depan kami akhirnya berdiri tegak.

“Done,” kata Kenta, menepuk tangannya.

Aku hanya mengangguk pelan.

Angin kembali berhembus, membawa suara ombak dari bawah. Dan untuk pertama kalinya, mungkin, aku bisa memahami perasaan si mantan kacung Eko ini.

***

Lihat selengkapnya