Pintu gerbang sekolah terbuka lebar, menyambut ratusan siswa dengan seragam putih abu-abu yang masih tampak kaku. Bagi sebagian orang, ini adalah awal dari tahun yang panjang, penuh dengan ujian, tugas, dan tekanan. Tapi bagiku, ini adalah hitungan mundur.
Tahun terakhir SMA.
Nggak ada lagi waktu buat melamun di dekat jendela. Nggak ada lagi ruang buat coretan-coretan nggak bermakna di buku tulis. Mataku tidak lagi kosong, ada api kecil yang menyala di sana, terus-menerus memberiku energi untuk bergerak.
Tekadku hanya satu, keluar dari rumah itu.
Aku ingin pergi sejauh mungkin. Ke tempat di mana tidak ada bayangan Ibu yang tertinggal di setiap sudut, tidak ada rasa bersalah yang mencekik, tidak ada canggung yang kaku bersama Ayah.
Aku, Elias, yang dulu selalu berada di urutan paling bawah, kini menjadi orang pertama yang datang ke kelas dan orang terakhir yang pulang. Buku-buku tebal menjadi teman baruku. Rumus matematika yang dulu tampak seperti bahasa asing, perlahan mulai masuk akal.
Di jam istirahat, Meja Sekutu di halaman belakang gudang tidak pernah sepi. Kakinya yang keropos masih bertahan di tanah, miring namun tetap berdiri.
“Elias,” suara Kenta terdengar datar tapi tegas, “ini salah. Rumus turunan fungsinya bukan pakai yang itu.”
Dia si genius matematika. Dan dia tidak pernah bosan memperbaiki kesalahanku. Dia mencoret jawabanku dengan pulpen merah, lalu menuliskan cara yang benar di sampingnya. Rapi. Jelas.
“Tapi yang ini benar, kan?” tanyaku, menunjuk soal fisika.
Nala melirik sebentar, lalu mengangguk kecil. “Benar.”
Aku tersenyum tipis. Kemajuan.
Kenta bisa mengerjakan soal-soal limit dan integral dengan mata setengah tertutup, sambil mengunyah roti murahnya.
“Lo tinggal pindahin variabelnya ke kiri, El,” katanya santai, coretan pensilnya bergerak cepat di atas kertas. “Gampang, kan?”
“Gampang buat lo,” gumamku.
Tapi mereka berdua ada di sana. Tidak memaksaku untuk kuat, tapi memberiku alat untuk bertahan. Nala dengan ketelitiannya, Kenta dengan logika matematikanya. Kami adalah sekutu yang semakin solid.
Siang itu Meja Sekutu hanya diisi dua kotak bekal.
“Kenta ke mana?” tanyaku sambil membuka tutup bekal.
“Nggak tahu. Mungkin takut hujan.”
Aku mendongak sejenak, menatap langit yang kelam tak seperti biasanya di jam segini.
Nala menyodorkan sepotong ayam goreng ke arahku. “Mau?”
Aku menggeleng. Namun, dia tetap meletakkannya di atas tutup bekalku.
“Rambut baru?” gumamku melihat rambut panjangnya yang lebih bergelombang dan lebih pendek.
Nala mendesah panjang. “Oh, akhirnya ada juga yang ngeh.” Dia merapikan rambutnya. “Gimana? Cocok?”
Sejenak aku tak berkedip. Lalu mengangguk singkat. Entah mengapa aku menjadi gugup.
Angin bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan di atas kepala kami. Lalu, terdengar suara gemuruh. Dan beberapa menit kemudian—
“Hujan,” gumam Nala.
Belum sempat kami membereskan kotak bekal, rintik air langsung menyerang brutal. Dalam hitungan detik, hujan langsung turun dengan deras.
“Ayo!”
Nala meraih kotak bekalnya. Kami berlari kecil menuju serambi gudang tua di samping halaman. Napas kami sama-sama memburu saat akhirnya berhasil berteduh di bawah atap seng yang kini bising dihantam air.
“Sial,” keluhku sambil mengibaskan rambut dari butiran air yang menempel.
Kami berdiri berdampingan, memandang halaman sekolah yang mulai memutih disapu hujan. Aroma tanah basah segera menguar memenuhi udara.
Nala menoleh. “Kenapa? Bagus kok. Aura bule lo keluar saat rambut lo basah.”
Mendadak aku terdiam. Nala menjadi begitu frontal belakangan ini.
“I-ini berantakan,” gumamku mencoba bersikap normal.
“Jangan menggerutu. Gue suka hujan.”
Aku menoleh.
“Hujan itu bikin semuanya berhenti sebentar.”
Aku tersenyum tipis. “Gue justru sering ingat rumah kalau hujan.”
Senyum Nala menyusut. “Hong Kong juga sering hujan.”