Hari pengumuman tiba dengan udara yang menyesakkan. Papan pengumuman di aula dikerubungi lautan seragam putih-abu yang coret-coret. Suara tangis haru dan teriakan lega pecah di mana-mana.
Aku, Nala, dan Kenta berdiri di barisan belakang. Jantungku berdegup seperti genderang perang.
“El, lihat,” Nala menunjuk ke arah daftar sepuluh besar lulusan terbaik paralel.
Mataku menyisir nama-nama itu.
1. Anggi Kumala
2. Nala Putri Naurama
3. ….
….
9. Elias Xavier Mahendra
Aku terpaku. Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Aku? Si murid paling apatis? Si berandal yang hampir dikeluarkan? Masuk sepuluh besar?
“GOOOL!!!” Kenta berteriak histeris, merangkul pundakku sampai aku terhuyung. “Gila lo, El! Lo beneran gila!”
Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku membuka mulut lebar-lebar, tertawa lepas—jenis tawa yang selama bertahun-tahun terkubur di bawah tumpukan duka. Nala memelukku erat, dan untuk pertama kalinya, aku membalas pelukannya tanpa rasa ragu.
Aku menarik lengan kausku sedikit. Bekas-bekas luka di pergelangan tanganku masih ada, garis-garis putih yang memudar tapi tak akan pernah hilang. Mereka adalah tato dari masa lalu yang kelam. Namun, aku menyentuhnya dengan lembut. Setidaknya, hari ini, tidak ada luka baru. Dan tidak akan pernah ada lagi.
Kelulusan ternyata bukan garis akhir. Justru setelah itu dimulai penantian yang lebih panjang. Berkas-berkas pendaftaran kukirim ke Hong Kong, lalu hari-hari berikutnya berjalan lambat, dipenuhi doa yang tak pernah benar-benar kuucapkan dan kebiasaan membuka surel berkali-kali meski tahu belum akan ada kabar.
Beberapa pekan kemudian, penantian itu berakhir di tempat yang paling akrab bagi kami. Meja Sekutu di pekarangan belakang menjadi saksi bisu. Hanya ada aku dan Nala siang itu. Kenta sedang sibuk mengurus pendaftarannya di Malang, meninggalkan kami berdua di bawah pohon besar yang mulai menggugurkan daun-daunnya.
Laptop Nala menyala di atas meja kayu yang keropos, menampilkan laman resmi universitas di Hong Kong. Jari Nala tampak sedikit gemetar saat menggerakkan kursor ke tombol ‘Check Status’.
“Siap?” bisiknya.
Aku mengangguk, meski telapak tanganku sudah basah oleh keringat.
Klik.
Laman itu tidak langsung terbuka. Lingkaran kecil di tengah layar terus berputar, membuat dada kami kian berdebar. Aku menahan napas.
“Aduh … lama banget,” gumam Nala pelan.
“Jangan di-refresh,” kataku cepat.
“Siapa juga yang mau.”
Kami kembali terdiam. Yang terdengar kini hanya desir angin dan suara daun-daun kering yang bergesekan di halaman belakang.
Beberapa detik kemudian, layar di hadapan kami mendadak berubah.
CONGRATULATIONS! YOU HAVE BEEN ACCEPTED TO CITY UNIVERSITY OF HONG KONG.
Aku membacanya sekali. Lalu sekali lagi. Seolah otakku menolak untuk percaya.
“Nal.”
Nala ikut menatap layar, lalu buru-buru menutup mulut dengan kedua tangannya. “El.”
“GUE MASUK!” Aku melompat dari kursi, tertawa keras tanpa bisa mengendalikan diri lagi. “NALA! GUE MASUK!”
Kebebasan itu akhirnya benar-benar ada di depan mata. Pintu keluar dari rumah itu, dari seluruh memori pahit yang mengikatku, akhirnya terbuka lebar.
Nala ikut tertawa. Matanya mulai berkaca-kaca, dan entah sejak kapan ia sudah berdiri dari duduknya. Angin sore memainkan beberapa helai rambutnya yang terlepas dari ikatan.
“Kita berhasil,” katanya lirih.
Aku mengangguk berkali-kali. Tenggorokanku mendadak tercekat. “Iya,” jawabku pelan. “Kita benar-benar berhasil.”
Beberapa detik kami hanya saling memandang. Anehnya, setelah perjuangan panjang mengejar beasiswa ini selesai, justru tidak ada lagi yang perlu kami katakan. Seluruh rasa lelah, takut, dan cemas selama berbulan-bulan seperti menguap begitu saja.
“Akhirnya perjuangan kita …. Hampir setiap sore kita les, belajar …. Gue pikir gue bakal nyerah …. Ya, Tuhan …. Astaga.” Kalimatku melompat-lompat. Aku bahkan tak yakin dengan apa yang keluar dari mulutku.
Nala mengusap ujung matanya. “Oh gue aja hampir nyerah membujuk lo. Ini terbayaran.”