Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #16

Rumah Baru

​Matahari siang ini terasa terik, namun sinarnya tidak mampu mengusir hawa dingin yang merayap di ujung jari-jariku. Halaman rumah riuh oleh suara mesin mobil yang menyala dan debam pintu bagasi yang ditutup. Ayah dan Om Hadi sibuk menyusun koper-koper besarku, memastikan semuanya masuk dengan presisi ke dalam ruang sempit itu.

​Aku berdiri di teras, menatap Mas Roy yang sudah menungguku dengan senyum tipis yang khas. Tidak ada lagi blangkon atau beskap, hanya kemeja santai, tapi wibawanya tetap sama.

​“Masih ingat kata-kataku waktu itu, El?” bisiknya saat aku mendekat. “Kamu bukan pohon. Sekarang kamu sudah punya sayap. Terbanglah yang jauh.”

​Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku melangkah maju dan memeluknya. Erat. Ini adalah pelukan pertama yang benar-benar kusadari maknanya—pelukan kepada sosok yang selama ini menjadi jembatan antara aku dan kewarasan.

​“Makasih, Mas. Untuk semuanya,” gumamku.

​“Ayo, El! Nanti terlambat,” suara Ayah memecah momen itu.

​Aku beralih ke Om Hadi. Aku meraih tangannya, mencium punggung tangannya dengan takzim, sebuah gestur sopan yang dulu jarang kulakukan dengan tulus. Om Hadi tersenyum lebar, menepuk-nepuk rambutku beberapa kali dengan kasih sayang seorang paman yang tulus.

​“Hati-hati di sana, ya. Jangan lupa kasih kabar,” pesannya.

​Ayah menoleh ke arah pintu rumah yang tertutup. “Roy, titip Tristan sebentar ya. Dia masih tidur di kamar. Jangan ditinggal sampai aku pulang dari bandara.”

​Mas Roy mengangguk mantap. “Beres, Om.”

​Aku hendak melangkah ke mobil, namun instingku menarik kepalaku untuk menoleh sekali lagi ke arah bangunan dua lantai itu. Dari jendela depan, aku melihatnya. Tristan ada di sana, mengintip dengan mata bulatnya yang jernih.

​Kami terdiam. Pandangan kami terkunci selama beberapa detik melalui kaca jendela yang dingin. Tidak ada lambaian tangan. Tidak ada tangis yang terlihat. Hanya tatapan kosong yang saling bertanya, apakah kita akan benar-benar menjadi asing setelah ini?

​Aku yang pertama kali memutuskan kontak itu. Aku berbalik, masuk ke dalam mobil, dan menutup pintunya. Brak. Dunianya dan duniaku resmi terpisah oleh dinding besi dan kaca film gelap. Mobil pun perlahan bergerak meninggalkan halaman, meninggalkan bayangan Tristan yang perlahan menghilang dari spion.

​Perjalanan menuju bandara adalah sunyi yang paling bising yang pernah kurasakan. Jakarta yang selalu ramai terasa menghakimi, membiarkan terik siang membakar seluruh kenangan.

​Ayah fokus pada kemudi. Aku fokus pada jalanan di luar. Tidak ada radio yang dinyalakan. Aku bisa mendengar deru napas Ayah yang berat, seolah dia sedang memikul beban ribuan ton di pundaknya. Sesekali kulihat jemarinya mencengkeram setir lebih kuat, rahangnya mengeras. Aku tahu, dia sedang berjuang mati-matian menekan rasa sedih dan kehilangan yang mulai meluap.

​Namun, egoku masih terlalu tinggi untuk sekadar memegang tangannya dan bilang, ‘Aku bakal kangen, Yah.’

Setelah membelah jalanan Ibu Kota akhirnya kami sampai.

Lampu neon Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta memantul dingin di atas lantai marmer.

​Di area keberangkatan internasional, keluarga Nala sudah ada di sana, berkumpul membentuk lingkaran. Ibunya berkali-kali merapikan kerah jaket Nala, lalu merengkuh tubuh gadis itu dalam dekapan erat yang lama. Sang ayah menepuk-nepuk pundak adik laki-laki Nala sembari mengacak rambutnya, memicu tawa renyah yang seketika memecah ketegangan di antara mereka. Nala tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu ibunya.

​Sementara itu, beberapa langkah di samping mereka, Ayahku berdiri menghadap troli.

​Tangannya yang kasar bergerak lambat, mencengkeram erat pegangan besi troli hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Dia menarik satu kopermu, meluruskan posisi label bagasi yang sebenarnya sudah rapi, lalu menepuk permukaan koper itu dua kali. Setelah itu, dia meraba saku jaketnya, mengeluarkan pasporku, dan membukanya. Jempolnya mengusap lembar demi lembar halaman visa dengan sangat pelan, seolah sedang menghitung sisa waktu yang kami miliki.

​“Ini paspormu,” kata Ayah. Suaranya serak. Dia menyodorkan buku kecil itu dengan tangan yang sedikit bergetar.

​Aku mengulurkan tangan, mengambilnya.

​Ayah tidak langsung melepas pegangannya pada paspor itu. Dia menahan ujungnya selama dua detik, memaksa mataku untuk naik dan membentur tatapannya. Matanya yang mulai keruh menatapku lekat-lekat, menyusuri garis wajahku dari dahi hingga rahang, seolah sedang merekam setiap jengkal bagian dari diriku yang kini sudah tumbuh sebesar ini.

​Lalu, dia melepaskannya. Tangannya beralih menepuk bahuku tiga kali—berat dan kaku.

​“Makan yang banyak di sana. Jangan sering begadang,” ucapnya pendek. Dia buru-buru memalingkan wajah, pura-pura memeriksa kembali roda troli yang macet dengan ujung sepatunya.

​“Iya, Yah.” Aku memasukkan paspor ke dalam tas selempang, lalu menarik ritsletingnya kuat-kuat hingga terdengar bunyi derit yang tajam.

​“Panggilan terakhir untuk penumpang pesawat Merak Indonesia dengan nomor penerbangan GA-876 tujuan Hong Kong ….”

​Nala langsung menoleh ke arahku. Dia menyambar tas ranselnya, lalu menggenggam erat pergelangan tangan jaketku. “El, ayo. Sudah waktunya.”

​Kami melangkah mendekati pembatas kaca. Nala menyerahkan tiket dan paspornya kepada petugas bandara dengan tangan yang sedikit gemetar karena bersemangat. Aku menyusul di belakangnya, menyodorkan berkas milikku tanpa suara. Petugas itu menatap foto pasporku, lalu menatap wajahku bergantian, sebelum akhirnya membubuhkan cap dan mengembalikan berkas itu dengan anggukan formal.

​Langkah kami membawa kami ke ujung eskalator menuju ruang tunggu internasional.

​Begitu kaki kami menginjak undakan besi yang mulai bergerak naik, Nala langsung memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Dia berpegangan pada pembatas eskalator, melompat-lompat kecil sambil melambaikan kedua tangannya ke udara.

​“Dah, Ibu! Dah, Ayah! Nanti Nala telepon kalau sudah sampai!” teriaknya setengah berteriak, mengabaikan tatapan beberapa orang di sekeliling kami. Ibunya membalas lambaian itu dengan tisu yang basah oleh air mata di tangannya.

​Aku tetap berdiri tegak, menghadap lurus ke depan.

Lihat selengkapnya