Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #17

Lembaran Baru

Aku membuka lembar baru di buku catatanku dan mulai menulis.

Ruang kuliah itu jauh lebih hidup daripada yang kubayangkan. Dindingnya didominasi kaca tinggi yang membiarkan cahaya matahari Hong Kong masuk tanpa ragu. Di depan kelas, layar proyektor menampilkan sketsa konsep desain, sementara dosen kami berjalan mondar-mandir dengan langkah cepat.

​“Design is not about making things beautiful,” katanya dalam bahasa Inggris yang fasih. “It's about solving problems. If your work looks amazing but fails its purpose, then you've failed as a designer.”

​Tanganku bergerak lincah menulis. Sesekali aku mengangguk pelan, tenggelam dalam penjelasan tentang komposisi visual, psikologi warna, dan bagaimana sebuah desain mampu mengubah perilaku manusia. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menikmati duduk di ruang kelas. Tidak ada tatapan menghakimi. Tidak ada bisik-bisik yang membuatku ingin menghilang. Hanya rasa penasaran yang terus tumbuh setiap kali dosen itu mengganti salindia.

​Ia berhenti di depan meja paling depan, menatap seisi ruangan.

​“Remember,” ujarnya sambil tersenyum tipis, “don't become designers who only know how to decorate. Become designers who know how to think.”

​Ia melihat jam tangannya, seolah sudah memperkirakan waktu.

Alright …. See you next week.”

​Mahasiswa mulai menutup laptop dan membereskan buku. Aku memasukkan pensil ke dalam tempatnya ketika beberapa teman sekelasku menghampiri.

​“Hey, Elias,” sapa seorang mahasiswa asal Kanada. “A few of us are grabbing lunch outside. Want to come?”

​“Yeah,” timpal mahasiswi Jepang di sebelahnya. “There's a really good noodle place nearby.”

​Aku tersenyum tulus. Dulu, mungkin aku akan langsung menggeleng tanpa berpikir. Sekarang rasanya berbeda.

​“Thanks,” jawabku pelan. “Next time, okay? Aku sudah punya janji.”

​“Sure.”

See you tomorrow, Elias.”

​Aku melambaikan tangan kecil sebelum menyampirkan ransel ke bahu dan berjalan keluar gedung.

***

​Angin menyapu taman kampus dengan lembut. Pepohonan yang berjajar di sepanjang jalur pejalan kaki bergoyang pelan, menaungi mahasiswa dari berbagai negara yang berlalu-lalang sambil bercakap dalam bahasa yang berbeda-beda. Aku menikmati setiap langkah di tempat ini. Rasanya seperti berjalan di dunia yang baru setiap hari.

​Dari kejauhan, aku melihat Nala.

​Ia berdiri di dekat kolam kecil kampus, sedang berbicara dengan seorang pria. Tingginya hampir menyamaiku, rambutnya ditata rapi, jaket hitam yang licin tampak dibuat dari kulit kualitas tinggi. Bahkan sebelum melihat wajahnya, mataku lebih dulu tertuju pada sneakers yang dipakainya. Semua tahu itu merk itu, itu bukan sepatu murah.

​Aku mempercepat langkah.

​Nala yang pertama menyadari kedatangkanku. Wajahnya langsung berbinar. “El!”

​Ia menghampiri, lalu berdiri di sampingku. “Oh iya,” katanya sambil tersenyum kepada pria itu. “Wǒ lái jièshào yíxià, zhè shì Elias. Pacarku.”

​Pria itu terdiam beberapa detik. Tatapannya bergerak perlahan, mulai dari wajahku, jaket kampus yang kupakai, hingga sepatu sneakers putihku yang mulai kusam karena terlalu sering dipakai berjalan. Tatapan itu tidak kasar, tetapi cukup lama untuk membuatku merasa sedang dinilai dari atas ke bawah.

​Ia kemudian mengulurkan tangan. “Jiangxi.”

​Aku menyambut jabatannya.

​“Hěn gāoxìng rènshi nǐ.” Nada bicaranya tenang, nyaris tanpa emosi.

​Ia kembali menoleh kepada Nala. “Kalau begitu aku pergi dulu. Nanti berkas tugasnya kukirim lewat email.”

​Nala mengangguk. “Xie xie, Jiangxi.”

​Pria itu tersenyum tipis sebelum berbalik dan berjalan pergi melewati taman, meninggalkan aroma parfum yang samar tertiup angin. Aku memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik gedung fakultas.

​“Siapa dia? Orang sini.” tanyaku akhirnya.

​Nala menoleh, lalu tersenyum kecil. “Teman sekelasku. Dan ya, dia orang Hong Kong.”

​“Kelihatannya akrab.”

​“Dia orang baik.”

​Aku mengangguk pelan, meski ada sesuatu yang mengganjal di dada. “Tadi dia bilang mau kirim apa lewat email?”

​Nala menatapku beberapa detik. Senyumnya semakin lebar, seolah baru menyadari sesuatu. “Kamu cemburu, ya?”

​“Aku cuma nanya.”

​“Tugas kelompok,” jawabnya sambil tertawa kecil. “Presentasi minggu depan.”

​Aku berdehem pelan, sedikit malu karena ketahuan. ​Nala tidak menggodaku lebih jauh. Ia justru menyelipkan jemarinya di sela-sela jemariku, menggandeng tanganku erat menuju gerbang kampus.

​“Ayo,” katanya riang. “Ada kafe dessert baru dekat gerbang. Semua cewek di kelasku lagi heboh ngomongin tempat itu.”

​Aku tertawa kecil. “Kamu belakangan suka banget makan manis. Nggak takut gemuk?”

​Nala langsung memonyongkan bibirnya. “Oh …, jadi kalau aku gemuk nanti kamu nggak sayang lagi?”

​Aku menggeleng sambil tersenyum. “Nal, aku jatuh cinta sama orangnya, bukan sama angka di timbangan.”

​Ia menatapku beberapa saat, lalu tersenyum puas. “Kau benar-benar berubah, El. Aku suka.”

​Kami pun berjalan berdampingan meninggalkan kampus, bergandengan tangan di bawah langit Hong Kong yang mulai berubah keemasan oleh matahari sore. Untuk sesaat, kota asing ini benar-benar terasa seperti rumah.

***

Kafe kecil itu dipenuhi aroma mentega, kopi, dan vanila yang hangat. Cahaya kuning temaram dari lampu-lampu gantung membuat etalase kaca di depan kami tampak berkilau, memamerkan deretan dessert yang terlalu cantik untuk langsung dimakan.

​Tak lama kemudian, meja kami dipenuhi aneka hidangan manis: soufflé pancake yang mengembang seperti awan, tart apel yang mengilap, matcha parfait bertingkat, dan sepotong mille-feuille dengan lapisan krim yang nyaris runtuh.

Lihat selengkapnya