“Halo, El?”
“Aku di depan asramamu,” kataku langsung.
“Depan asrama?”
“Iya. Keluar sebentar.”
Terdengar jeda sejenak di seberang sana. “El …, aku lagi di luar.”
Aku mengernyit. “Di mana?”
“Lagi ngerjain tugas.”
Aku membuka mulut, hendak bertanya lebih jauh. Namun, belum sempat satu kalimat pun lolos dari bibirku, sayup-sayup terdengar suara pria dari balik telepon Nala.
“Nala! Come here!”
Suara itu terdengar cukup jelas. Aku langsung terdiam, lidahku mendadak kelu. “Siapa itu?”
“Oh ….” Nala terdengar sedikit gugup. “Itu Jiangxi.”
Dadaku seketika mengencang. “Kalian berdua?”
“Untuk sementara … ya …. Yang lain bakal nyusul kok. Maaf ya, El. Aku harus balik dulu. Nanti kalau sudah pulang aku hubungi kamu.”
Klik. Sambungan terputus begitu saja.
Aku masih memaku ponsel di telinga selama beberapa detik sebelum akhirnya menurunkannya perlahan. Kotak kue di tanganku mendadak terasa jauh lebih berat. Dengan langkah lesu, aku berbalik dan berjalan kembali menuju asrama putra.
Sore itu, langit Hong Kong berwarna keemasan dan cengkramanku pada pegangan kotak kue kecil yang kubawa semakin erat. Dari balik kardus putih itu, aroma mentega yang hangat masih tercium samar. Aku sengaja memesannya sepulang kuliah. Tapi … semua rencanaku gagal.
Di sebuah persimpangan kecil, langkahku melambat saat melihat Junjie sedang berpamitan dengan seorang gadis. Mereka tertawa akrab sebelum akhirnya saling berpelukan singkat. Gadis itu melambai, lalu berjalan ke arah gedung fakultas.
Junjie baru menyadari keberadaanku setelah dia berbalik badan. “El!” Ia menghampiriku, lalu matanya melirik kotak putih yang kupegang. “Itu apa?”
“Kue.”
“Buat siapa?”
“Nala.”
Junjie mengangguk-angguk paham, tetapi sedetik kemudian dia memperhatikan ekspresiku yang murung. “Kenapa? Memangnya pacarmu lagi pergi ke mana …, sama siapa?”
Aku menjawab pendek, “Jiangxi.”
Junjie langsung berdecak. “Jiangxi? Anak konglomerat itu?”
Aku menoleh menatapnya. “Memangnya dia seterkenal itu?”
“Nà dāngrán.” Junjie tertawa kecil. “Hampir semua mahasiswa kenal dia. Kaya, pintar, bisa menyanyi, aktif organisasi. Primadona kampus.”
Entah mengapa, rentetan kalimat terakhir Junjie membuat langkah kakiku terasa semakin berat. Aku segera mengalihkan pembicaraan. “Kalau cewek tadi?”
“Oh.” Junjie tersenyum santai. “Satu fakultas.”
“Teman?”
“Iya. Teman mabar.”
Aku mengangkat sebelah alis. “Teman?”
Junjie ikut mengangkat alisnya, menirukan gayaku. “Kenapa? Nggak percaya?”
Aku baru saja hendak membalas ucapannya ketika pintu gedung asrama di depan kami mendadak terbuka. Qiu Qiu keluar dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan kemeja hitam dan celana bahan yang jauh lebih rapi daripada pakaian yang biasa ia kenakan sehari-hari.
“Hao,” sapa Qiu Qiu singkat tanpa menghentikan langkah kakinya.
“Mau ke mana sore-sore begini?” tanya Junjie setengah berteriak.
“Kerja.”
Aku dan Junjie saling berpandangan heran. “Kerja?”
“Iya.” Qiu Qiu merapikan bajunya. “Hari pertama. Aku sudah terlambat.”
Belum sempat kami melontarkan pertanyaan lain, dia sudah berlari kecil membelah halaman taman, meninggalkan kami yang masih kebingungan.
Junjie menghela napas panjang, menatap punggung Qiu Qiu yang kian menjauh. “Kerja? Apa dia sebegitunya butuh uang?”
“Ada apa?” tanyaku.
“Ibunya makin sering menelepon akhir-akhir ini. Katanya harus melunasi ini-itu.”
Aku mengernyitkan dahi. “Keluarganya punya utang besar?”
Junjie mengangkat bahunya samar. “Nggak tahu. Qiu Qiu nggak pernah cerita soal keluarganya.” Ia tersenyum tipis. “Kamu juga tahu sendiri dia orangnya seperti apa.”
Aku mengangguk pelan. Memang benar. Qiu Qiu selalu lebih suka memendam dan menyelesaikan semuanya sendirian.
Begitu pintu kamar asrama dibuka, langkahku dan Junjie langsung terhenti tepat di ambang pintu.
Viraj sedang berjongkok di depan mejanya. Di atas permukaan meja itu, berserakan gulungan sumbu, kembang api warna-warni, dan beberapa kotak petasan.
Junjie langsung membelalakkan mata. “Astaga!” Ia berlari menghampiri meja itu dengan panik. “Viraj! Kau sudah gila? Kalau ketahuan pengurus asrama, kita semua habis!”
Aku buru-buru menutup pintu kamar dengan rapat, lalu ikut mendekat. “Petasan dilarang keras dibawa masuk ke asrama, Viraj.”
Viraj menggaruk kepalanya yang keriting dengan wajah tanpa dosa. “Aku tahu. Sayang kalau dibuang.”
“Dari mana kau dapat beginian?” tanya Junjie lagi.
“Sisa perayaan Diwali minggu lalu.” Viraj menyengir lebar. “Aku lupa kalau masih ada.” Dengan gerakan cepat, ia menyapu semua barang berbahaya itu dan memasukkannya ke kolong ranjang.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, lalu berjalan menuju mejaku untuk meletakkan kotak kue di sana.
Viraj tiba-tiba mengendus-endus udara di sekitar kamarnya. “Wah …, baunya enak sekali. Kue? El, boleh minta?”
“Tidak.”
“Sedikit saja?”
“Tidak.”
Junjie menyenggol bahuku sambil tertawa mengejek. “Percuma disimpan, El. Pacarmu juga lagi pergi sama pewaris perusahaan besar. Mungkin dia sudah dibelikan kue tingkat tujuh.”
Sebuah buku cetak tebal langsung melayang ke arahnya.
“Sialan, Junjie! Itu tidak lucu,” makiku.
“Bercanda!” Junjie tertawa terbahak-bahak sambil menangkis buku itu dengan tangannya.
Viraj menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menghela napas panjang. “Aku capek banget hari ini.”