Tahun ketiga di Hong Kong tidak datang dengan kembang api, melainkan dengan sunyi yang menekan. Kamar asrama yang dulunya penuh dengan teriakan game Junjie, nyanyian sumbang Viraj, atau omelan rapi Qiu Qiu, kini terasa seperti ruang tunggu yang dingin. Momen-momen kecil di kamar kini menjadi kemewahan yang langka.
Malam itu Junjie tenggelam dalam tumpukan buku referensi, matanya lebam karena persiapan sertifikasi. Ia menoleh ke arahku yang sedang melamun di meja belajar.
“El,” panggilnya serak. Ia menyodorkan bungkusan spicy strips dari kampung halamannya. “Makanlah. Otakmu butuh gula atau kau akan mati sebelum lulus.”
Kami makan dalam diam, hanya suara kunyahan dan desau pendingin ruangan, tapi aku tahu itu adalah caranya bilang, bertahanlah.
Pernah suatu malam ia mau mengenalkanku pada teman wanitanya. Jelas aku menolak, aku sudah punya Nala. Ponselnya bergetar tanpa henti sepanjang malam itu—nama-nama perempuan berbeda muncul silih berganti di layar kunci—dan setiap kali ia hanya menyeringai, mengetik balasan singkat sambil terus mengunyah spicy strips-nya.
Viraj? Dia sudah magang di sebuah perusahaan multinasional di Central; dia lebih sering tidur di sofa kantor atau apartemen temannya daripada pulang ke asrama. Suatu pagi ia pulang dengan kemeja yang berantakan setelah lembur di kantor magangnya. Ia menjatuhkan diri di kasurku karena kasurnya penuh dengan tumpukan baju kotor.
“El, temanku …, dunia orang dewasa itu penipuan,” gumamnya dengan aksen India yang kental sebelum mendengkur dalam hitungan detik. Aku hanya bisa menghela napas, menyelimutinya dengan selimutku sendiri. Lampu meja kubiarkan menyala; mataku sendiri terasa berat, tapi aku masih duduk lama menatap langit-langit sebelum akhirnya ikut memejamkan mata di kursi.
Sementara Qiu Qiu, si perfeksionis itu, kini menjadi asisten dosen sekaligus bekerja di kasino. Suatu sore sebelum berangkat kerja, ia melihatku frustrasi dengan tumpukan jurnal. Tanpa sepatah kata pun, ia meletakkan segelas kopi kaleng dingin di dekat tanganku.
“Susun prioritasmu, El. Jangan biarkan jurnal itu memakanmu,” ucapnya pelan sambil membetulkan letak kacamata. Ia meletakkan gelas itu lalu pergi tanpa menunggu jawabanku, seolah tahu aku lebih butuh waktu sendiri daripada nasihat panjang.
Map-map portofolio desainku menumpuk di sudut meja, beberapa halaman terlipat karena terlalu sering kubuka-tutup. Di tengah semua itu, hanya nama Nala yang masih membuat dadaku sedikit lega saat muncul di layar ponsel. Tapi lambat laun, panggilan itu pun mulai terasa berbeda.
***
Nathan Road malam itu adalah sungai cahaya. Papan neon bertumpuk-tumpuk dalam aksara Mandarin, bus tingkat merah yang menderu, dan ribuan manusia yang berdesakan di trotoar. Di tengah kegilaan itu, aku berjalan di samping Nala.
Nala tampak sangat bersemangat. Ia baru saja mendapatkan telepon dari ibunya di Jakarta, dan sepanjang jalan ia bercerita tentang rencana liburan keluarganya ke Bali, tentang adiknya yang baru masuk kuliah, dan betapa ia merindukan masakan rumah.
Aku? Aku hanya mengangguk pelan, memberikan gumaman “oh” atau “baguslah” sesekali. Setiap kali topik keluarga muncul, langkahku otomatis melambat, mataku mencari apa saja untuk dipandangi selain wajahnya—papan reklame, deretan taksi merah, apa pun asal bukan matanya. Jari-jariku yang tadi menggenggam tangannya perlahan kulepaskan, kumasukkan ke saku jaket.
“El, lihat! Es krim ini kelihatan enak banget,” Nala menarik lenganku ke sebuah kedai kecil. Ia membeli satu cone es krim stroberi yang warnanya merah muda pucat.
“Cobain deh, El. Serius, ini stroberinya kerasa banget, nggak kayak yang di kantin,” ia menyodorkan es krim itu ke depan mulutku.
“Nggak, Nal. Aku nggak suka stroberi. Kamu tahu itu,” jawabku datar.
“Ayo dong, satu jilat aja. Kamu itu terlalu kaku,” ia mulai memanja, mendekatkan es krim itu hingga hampir mengenai hidungku. “Anggap aja hadiah karena hari ini kita nggak berantem. Ayo, Elias …, satu jilat aja!”
“Nal, berhenti. Kamu kayak adikku saja, suka sama buah bodoh itu …,” kataku, nada suaraku mulai meninggi karena jengah.
“Elias!” ia tertawa kecil tapi tetap mendesak, es krim itu mulai meleleh dan menetes ke tangannya. “Ayo, buka mulutmu!”
Rasa jengkel yang sedari tadi kutahan mendadak meledak. Saat ia mendorong es krim itu sekali lagi, tanganku refleks bergerak menampisnya.
Plak.
Cone es krim itu terlepas dari genggaman Nala, jatuh terbalik di atas trotoar Nathan Road yang kotor, hancur berkeping-keping dalam genangan merah muda yang meleleh cepat di bawah lampu jalan.
Hening mendadak menyergap di antara kami, di tengah kebisingan Hong Kong.
“Maaf …, Nal, aku nggak sengaja. Sumpah,” aku segera merogoh saku, mencari tisu. “Aku beli lagi ya? Maaf …. Maaf banget.”
Nala tidak bergerak. Ia menatap es krim yang hancur itu, lalu menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, bukan karena es krimnya, tapi karena penolakanku yang kasar. Karena dia tahu aku benci stroberi karena suatu alasan bodoh.
“Bukan soal es krimnya, El,” suaranya bergetar, tapi nadanya dingin. “Kamu itu … kamu itu egois banget, tahu nggak?”
“Aku cuma nggak suka stroberi, Nal.”
“Bukan cuma soal es krim! Kamu selalu begini! Setiap kali aku cerita soal rumah, kamu langsung pasang tembok. Setiap kali aku coba masuk ke duniamu, kamu dorong aku keluar!” Nala meledak. Ia tidak peduli pada orang-orang yang melirik kami. “Kamu pikir cuma kamu yang punya luka? Kamu pikir cuma kamu yang berjuang di sini?”
“Sayang ….” Aku berusaha meraih tangannya.
Dia mundur satu langkah. Tak mau disentuh. “Kenapa kau sangat membenci stroberi? Kenapa kau sangat membenci adikmu? Bukankah kau yang memberinya nama Tristan, karena kau suka stroberi jenis tristar? Aku ingat betul apa yang dikatakan ayahmu saat di bandara waktu kita berangkat. Dia begitu membanggakanmu. Apa yang kau lakukan, El? Ada apa denganmu?”
Napasku tercekat. Tanganku yang tadi terangkat untuk meraihnya, berhenti di udara.
Ia kembali melangkah maju, mencecarku kembali dengan pertanyaan yang selama ini kuhindari. “Coba kasih tahu aku, El. Kapan terakhir kali kamu bicara sama ayahmu? Bukan cuma angkat telepon, tapi bicara?”
Aku terdiam. Otakku mendadak kosong.
“Minggu lalu? Bulan lalu?” Nala mengejarku, suaranya menusuk. “Bahkan kamu nggak ingat, kan? Kamu nggak pernah sekalipun menelepon mereka lebih dulu. Kamu cuma nunggu ayahmu telepon, itu pun cuma dijawab satu-dua kata. Dan sekarang, waktu ayahmu berhenti menelepon …, apa yang kamu lakuin? Kamu diam saja, kan?”