Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #20

Sambungan Terputus

​Aku menatap pojok bawah layar laptop Junjie yang duduk di sampingku. Sekarang tanggal lima belas, harusnya hari ini Ayah transfer uang padaku, tapi ponselku tak berdenting sedari pagi. Aku jadi cemas. Bukan perkara uangnya—meski tahun ini pengeluaran banyak sekali karena proyek-proyek desainku—tapi rutinitas Ayah yang selama tiga tahun ini ia jalankan tanpa lupa satu hari pun akan terlewat.

Ada apa dengannya?

“Aku harus kerja,” gumam Qiu Qiu sambil membereskan bukunya.

Aku menatapnya. “Kau masih kerja di kasino? Kau selalu kelelahan saat pulang. Tidak bisakah kau kerja paruh waktu yang lebih santai saja? Bukannya kamu bilang nilaimu menjadi turun karena kerjaan itu?”

Qiu Qiu menatap lekat padaku. “Ada apa denganmu? Nggak biasa kamu bicara dengan nada seperti ini. Apa ada sesuatu yang tidak berjalan lancar?”

Aku langsung terdiam. Ucapannya langsung menembus dadaku.

Qiu Qiu pun akhirnya melangakah pergi dan menghilang di antara deretan perpus ini.

“Sudah, biarkan saja,” celetuk Junjie yang masih mengetik. “Dia mendapat bonus lebih di kasino.”

Aku terperangah. “Oh, ya?”

Junjie mengangguk mantap. Lalu ia bangkit, dan berkata, “Aku harus menemukan jurnal lain.”

Dia pun menghilang di antara buku-buku.

Aku menghirup udara dalam. Gambar-gambar di depanku seperti sedang mengejek. Aroma buku tercium pekat, membuatku semakin tertekan. Akhirnya aku bangkit dan mulai berkeliling.

Aku mendekati sebuah rak. Tanganku menyusuri buku-buku desain sebelum mataku menemukan Nala yang sedang duduk melingkar bersama tiga atau empat temannya. Mereka tertawa pelan sambil membuka buku-buku tebal, sesekali saling menunjukkan layar laptop dengan antusias.

Aku menatap lama. Aku bahkan tidak tahu kalau dia di sini.

Setelah malam di Lan Kwai Fong itu, ada sesuatu yang perlahan bergeser di antara kami. ​Awalnya hanya hal-hal kecil. Pesan-pesannya mulai datang lebih lambat. Kadang aku baru menerimanya saat tengah malam, hanya berisi sebaris kalimat kaku seperti, “Masih di perpustakaan,” atau, “Lagi sama anak-anak.” Tidak ada lagi cerita panjang tentang dosen yang menyebalkan atau keluhan tentang makanan kantin yang terlalu asin. Percakapan kami menyusut drastis menjadi kalimat-kalimat pendek yang terasa seperti gugatan kewajiban.

​Aku pun mulai lebih sering berdiri sendirian di halaman depan asrama putri.

​Kadang aku datang membawa dua gelas kopi hangat yang perlahan mendingin di tanganku. Kadang membawa sekotak roti telur kesukaannya. Aku akan mengirim pesan singkat, lalu berdiri menunggu di bawah pendar lampu jalan yang kekuningan.

​“Maaf ya, El. Aku sudah keluar duluan.” ​Atau …, ​“Hari ini ada belajar kelompok. Jangan tunggu aku.”

​Ujung-ujungnya, aku selalu pulang menyusuri trotoar malam sambil membawa kembali kopi yang telah kehilangan seluruh uap hangatnya. Dia selalu menemukan alasan untuk menghindariku.

Lihat selengkapnya