Lampu neon di langit-langit asrama berkedip sekali sebelum kembali stabil, menerangi kamar yang kini terasa lebih sempit karena tumpukan barang yang tak terurus. Kamar itu sedang lengkap. Junjie sedang bertarung dalam turnamen online dengan gumaman makian dalam bahasa Mandarin yang pelan. Viraj sedang sibuk melipat beberapa kemeja kantornya—sesuatu yang langka—dan Qiu Qiu sedang menekuni catatan asisten dosennya dengan kacamata yang melorot di ujung hidung.
Aku duduk di tepian kasur, menatap layar ponsel yang mulai memanas di genggamanku. Saldo tabunganku menipis sejak empat bulan lalu. Ayah benar-benar berhenti mengirimkan uang. Aku bingung harus membagi uangku ini untuk proyek yang sedang kukerjakan atau uang sewa asrama.
Haruskah kutanyakan saja pada Ayah?
Aku membuka kontak Ayah. Jemariku melayang di atas ikon gagah telepon hijau. Cukup tekan, dan semua tanda tanya ini akan terjawab. Tapi egoku—atau mungkin ketakutanku akan kenyataan—menarik jariku kembali. Aku mengurungkan niat itu.
Aku bangkit dan menghampiri meja Qiu Qiu. Dia sedikit terkejut saat melihat bayanganku menutupi catatannya.
“Qiu Qiu,” panggilku canggung.
“Ya, El?” Dia menoleh, merapikan kacamatanya.
“Pekerjaanmu di kasino … lancar?”
Qiu Qiu mengernyitkan dahi. Dia meletakkan pulpennya, menatapku dengan tatapan menyelidik. “Sun lei. Tumben kamu tanya? Kamu biasanya tidak peduli kalau aku pulang subuh dengan bau cerutu.”
Aku berdehem, menggeser tumpuan kakiku. “Kira-kira … di sana ada lowongan untukku?”
Qiu Qiu terdiam sejenak. Dia memutar kursinya sepenuhnya menghadapku. “Lowongan? El, kau tahu sendiri aku hanya runner di sana, aku tidak banyak tahu soal posisi lain. Lagi pula …,” dia menjeda, menatapku sangsi. “Nǐ bù tǎoyàn dǔchǎng ma? Kau bilang itu tempat para pecandu judi yang norak.”
“Aku hanya ingin lebih mandiri,” jawabku singkat, mencoba terdengar setegar mungkin. “Aku ingin mencari penghasilan sendiri mulai sekarang.”
Qiu Qiu mengangguk pelan, sepertinya dia menghargai alasanku meski dia tahu ada sesuatu yang kusembunyikan. “Oke. Sepertinya ada lowongan untuk cashier. Tapi nanti aku tanyakan dulu ke manajerku kalau ada posisi. Dan jangan berharap terlalu banyak, ya?”
“Xie xie.”
Tiba-tiba, suara tepukan tangan yang keras memecah suasana. Viraj berdiri di tengah ruangan, wajahnya yang biasanya jenaka kini tampak lebih serius, meski senyum khasnya tetap ada.
“Péngyǒumen! Zhùyì!” seru Viraj.
Junjie melepas sebelah headset-nya, sementara Qiu Qiu mendongak.
“Aku punya pengumuman resmi,” lanjut Viraj. “Aku harus … keluar dari asrama.”
Hening sejenak. Tapi tidak ada yang kaget. Tidak ada teriakan tidak percaya. Kami semua sudah melihat koper-koper yang mulai dicicilnya dan kemeja-kemeja kantor yang makin banyak.
“Kapan tepatnya kamu pindah?” Qiu Qiu bertanya dari kursinya.
“Hari Sabtu. Apartemen baruku di dekat Central sudah siap,” jawab Viraj bangga.
Junjie tiba-tiba mencetuskan ide dari balik monitornya. “Kalau begitu, kita harus mengadakan pesta perpisahan. Benar-benar pesta, bukan cuma makan mi instan di kamar.”
“Setuju!” Viraj bersorak. “Malam Minggu nanti. Tidak ada yang boleh punya jadwal. Elias, jangan bilang kau mau kencan dengan Nala, kau harus ikut!”
Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk. “Aku kosong. Aku ikut.”
Semua orang kembali sibuk. Junjie kembali ke permainannya, Viraj mulai menyanyi lagu Bollywood sambil mengepak barang, dan Qiu Qiu kembali ke catatannya. Di tengah riuhnya rencana pesta itu, aku kembali menatap ponselku yang tergeletak di meja.
***
Sore itu, kami bertemu di sebuah kafe kecil tak jauh dari kampus. Tempat itu sedang ramai oleh mahasiswa yang mengerjakan tugas sambil menyeruput kopi. Aroma mentega dari croissant yang baru keluar dari oven memenuhi ruangan, bercampur dengan suara mesin espresso yang tak pernah berhenti mendesis.
Kami duduk berhadapan.
Di atas meja, hanya ada dua piring pasta dan dua gelas es lemon tea yang mulai dipenuhi embun. Sudah hampir lima menit kami makan tanpa benar-benar berbicara. Sesekali sendok kami beradu pelan dengan piring, lalu ruangan kembali sunyi.
Nala tampak berbeda siang itu. Ia beberapa kali mengusap pelipisnya, lalu memandangi layar laptop yang masih terbuka di samping piring. Bahkan ketika sedang mengunyah makanan, matanya masih terpaku pada deretan angka dan grafik.
Aku meletakkan garpu. “Capek?”
Ia baru mendongak, seolah sempat lupa kalau aku duduk di depannya. “Hm?”
“Kamu kelihatan kelelahan.”
Nala mengembuskan napas panjang. Bahunya langsung turun. “Presentasi tadi berantakan.”
Aku menunggu ia melanjutkan.
“Dosenku bilang analisisku kurang dalam. Minggu depan harus presentasi ulang.” Ia mengaduk pasta di piringnya tanpa benar-benar memakannya. “Belum lagi bikin laporan.”
Aku mengangguk pelan. “Pelan-pelan saja.”
Nala tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar hambar. “Kalau bisa pelan, semua orang juga mau pelan.”
Aku tersenyum tipis, mencoba mengalihkan pembicaraan. “Sudah dapat tempat magang?”
Sendok di tangan Nala seketika berhenti bergerak. Hanya sesaat, namun cukup lama untuk kusadari. Ia menyesap minumnya sebentar sebelum menjawab.
“Belum.” Jawabannya terdengar terlalu cepat. “Masih cari.”
Aku mengangguk tanpa berniat bertanya lebih jauh.
“Kamu beruntung jurusanmu nggak harus magang, kan?” gumam Nala kemudian.