Malam itu, bar kecil langganan kami di Mong Kok terasa lebih hangat dari biasanya. Musik jazz mengalun pelan dari pengeras suara tua di sudut ruangan. Lampu-lampu temaram memantulkan warna keemasan di permukaan gelas, sementara hujan tipis memburamkan kaca jendela yang menghadap langsung ke jalanan kota yang sibuk.
Aku dan Junjie duduk lebih dulu di sudut ruangan. Di atas meja kayu, hanya ada dua gelas bir dan sepiring kentang goreng yang mulai mendingin.
Junjie mengangkat gelasnya setinggi dada. “Untuk pertemanan kita.”
Aku menyenggolkan gelasku ke gelasnya hingga berdenting pelan. “Untuk kamar paling berisik di Hong Kong.”
Ia tertawa lepas.
Gelas kami kembali beradu. Untuk beberapa saat, kami hanya terdiam menikmati alun musik dan memperhatikan lalu-lalang orang di luar sana. Rasanya aneh sekaligus getir mengetahui bahwa ini adalah malam terakhir kami statusnya sebagai teman sekamar.
“Kau benar-benar pindah besok?” tanyaku memecah keheningan.
Junjie mengangguk mantap. “Lin Yue sudah dapat apartemen dekat kantornya.”
“Nekat juga.”
“Masih ingat aku pernah bilang kalau cinta di Hong Kong itu datang malam ini, lalu hilang besok pagi?” katanya sambil menyunggingkan senyum tipis.
Aku mengangguk kecil.
“Itu dulu.” Junjie menatap buih birnya cukup lama. “Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang mau pulang cepat setelah selesai kerja.”
Kalimat itu terdengar begitu sederhana, namun entah kenapa maknanya menghantam telak ke dadaku.
“Aku baru sadar …,” lanjutnya dengan suara yang merendah. “Rumah ternyata bukan tentang tempat, El. Rumah itu seseorang.” Ia mengangkat bahu sambil terkekeh pelan. “Dulu selesai kerja aku selalu bingung mau ke mana. Mau main game, nongkrong, atau cari perempuan. Sekarang?”
Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Layar kuncinya menampilkan foto dirinya bersama Lin Yue yang sedang tersenyum lebar.
“Aku cuma ingin cepat-cepat pulang.”
Aku menatap foto itu selama beberapa detik. Junjie yang kukenal dulu tak pernah sudi memajang foto perempuan mana pun di ponselnya. Orang yang paling takut terikat berkomitmen, sekarang malah pindah untuk tinggal serumah.
Rumah. Kata itu terus berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak. Aku juga pernah merasa telah menemukannya. Di sebuah flat kecil yang hangat bersama Nala. Namun belakangan ini … aku bahkan tidak yakin apakah kami masih berjalan ke arah rumah yang sama.
“El.”
“Hm?”
“Jangan sampai kehilangan rumahmu.”
Aku menatap dalam-dalam cairan keemasan di dalam gelasku. Bagaimana kalau rumah itu yang perlahan-lahan menjauh dariku?
Sebelum sempat kalimat itu lolos dari bibirku—
“WOII!”
Sebuah teriakan keras menggema, memotong atmosfer sendu di meja kami.
Viraj muncul di ambang pintu sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi, membuat beberapa pengunjung bar spontan menoleh terganggu.
“Maaf! Maaf! Meeting kantor benar-benar molor!” Ia langsung menarik kursi di sebelah Junjie dan duduk dengan napas yang masih memburu.
Junjie memukul pelan bahu Viraj dengan gusar. “Kenapa telat? Ini pesta perpisahanku, dasar.”
Viraj langsung merangkul bahu Junjie dengan cengiran tanpa dosa. “Makanya aku bela-belain datang.”
Seorang pelayan segera menghampiri meja kami dan meletakkan segelas bir dingin. Viraj langsung menyambarnya, meneguknya hingga tandas setengah gelas sekaligus. “Ah …, hidup.” Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling bar. “Eh, Qiu Qiu mana?”
Junjie langsung mendesah panjang, memutar bola matanya. “Lagi-lagi yang kau tanya pertama kali itu dia. Biasanya dia kan orang yang paling tepat waktu di antara kita.”
Aku mengangkat bahu samar. “Mungkin masih di kasino.”
“Masih kerja?”
Aku mengangguk. “Qiu Qiu sekarang kerja seperti orang kesurupan. Dia sering satu shift sama aku. Bahkan hampir tiap hari. Kadang selesai kuliah dia langsung lari ke tempat kerja. Selesai kerja besok paginya, dia langsung masuk kelas kuliah lagi.”
Viraj mengernyitkan dahi, wajah konyolnya berubah serius. “Masalahnya selalu saja uang. Kasihan sekali hidupnya.”
Kami bertiga mendadak bungkam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Di antara jeda itu, yang terdengar hanyalah denting gelas dari meja sebelah.
Lalu, tiba-tiba mata Junjie menyipit, meneliti penampilan Viraj dari atas ke bawah. “Ngomong-ngomong, kau cocok banget pakai setelan jas ini, Raj.”
Aku ikut menoleh dan baru menyadari detail itu. Malam ini, Viraj mengenakan kemeja biru muda yang disetrika sangat rapi, celana bahan hitam, bahkan sepasang sepatu kulit yang mengilap. Rambut keritingnya pun tersisir klimis. Ini jelas bukan gaya Viraj yang kami kenal.
Aku langsung tertawa tertahan. “Mana kaus bergambar aktor Bollywood kebanggaanmu itu?”
“Dan sandal jepit bulukmu?” tambah Junjie, ikut meledek.
Viraj mendengus jengkel, pura-pura tersinggung. “Kalian berdua cuma iri.”
“Kami prihatin, Raj.”
“Ini namanya profesional!” bela Viraj.
Junjie pura-pura memegang dadanya dengan dramatis. “Aku mendadak kangen Viraj yang kamarnya bau bumbu kari.”