Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #24

Untuk Waktu yang Lama

​Napas sore berembus pelan di taman kecil dekat kampus. Pepohonan mulai menguning diterpa musim yang berganti, dan daun-daun berguguran membentuk hamparan tipis di jalur pejalan kaki. Aku berdiri sendirian, memandangi gedung-gedung kampus yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan.

​Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangku dari belakang.

​“Selamat atas pekerjaan barumu.”

​Aku langsung mengenali suaranya. “Nala.”

​Aku berbalik dan tanpa berpikir memeluknya balik. Tubuhnya hangat, aroma sampo yang selalu sama membuatku mengembuskan napas lega. “Makasih.”

​“Akhirnya tercapai juga, ya.” Nala tersenyum lebar. “Studio animasi impianmu.”

​Aku mengangguk. “Iya. Rasanya masih nggak percaya.”

​Nala memicingkan mata sambil menunjukku. “Berarti … kamu nggak akan datang ke kasino lagi, kan?”

​Aku tertawa kecil. “Tentu saja nggak.”

​“Kupikir kamu bakal kangen.”

​“Yang ada aku muak.”

​Ia terkekeh. “Muak sama pekerjaannya?”

​“Muak ketemu Jiangxi.”

​Senyum Nala perlahan memudar. Ia menundukkan pandangan beberapa detik sebelum kembali menggenggam tanganku.

​Kami berjalan menyusuri taman dalam diam. Jemari kami saling bertaut seperti biasa, namun entah kenapa rasanya tidak lagi seringan dulu. Setelah cukup lama, Nala membuka suara dengan hati-hati.

​“El ….”

​“Hm?”

​“Aku … sepertinya akan tetap bekerja di perusahaan ayahnya Jiangxi.”

​Langkahku langsung berhenti. Nala ikut berhenti. “Kita sudah sepakat, Nal. Kamu janji bakal cari tempat lain setelah lulus. Dan wisuda tinggal seminggu lagi.”

​“Aku tahu.” ​Nala mendekat. Kedua tangannya memeluk lenganku erat seperti anak kecil yang sedang membujuk. “Mencari kerja sekarang susah. Karierku di sana juga lagi bagus. Atasanku percaya sama aku. Aku nggak mau kehilangan kesempatan ini.”

​“Nala.” Nada suaraku terdengar jauh lebih berat daripada yang kuinginkan.

​Ia mengangkat wajahnya. “Jangan egois, El. Kamu sendiri yang minta kita tetap tinggal di Hong Kong setelah lulus.” Ia tersenyum kecil, tetapi matanya tampak lelah. “Kalau begitu … kita nggak punya banyak pilihan selain bertahan dengan pekerjaan yang ada.”

​Aku memejamkan mata sesaat. Pada akhirnya, aku hanya mampu mengembuskan napas panjang. “Baiklah.”

​Senyumnya kembali muncul, meski tidak benar-benar utuh. Kami kembali berjalan.

​Beberapa langkah kemudian, Nala kembali bersuara. “Ngomong-ngomong …, kamu sudah telepon Ayahmu? Beliau akan hadir di wisudamu, kan?"

​Aku mendadak terdiam.

​Nala berhenti menatapku. “Lakukanlah. Kamu harus telepon beliau.”

​Aku menggaruk tengkuk, lalu sengaja mengubah arah pembicaraan. “Kamu juga sudah janji pindah kerja.”

​Nala langsung mendesah pelan. “Kita bahas lagi nanti.”

***

​Flatku menyambut dengan kesunyian yang sudah mulai akrab. Ruangan itu tidak besar. Hanya ada sebuah sofa abu-abu yang mulai aus, meja kerja penuh sketsa dan tablet gambar, dapur mungil yang menyatu dengan ruang tamu, serta jendela lebar yang memperlihatkan deretan apartemen tua Tai Kok Tsui. Dari luar terdengar samar suara trem, klakson, dan dengung kota yang tidak pernah benar-benar tidur.

​Aku menjatuhkan tas ke lantai. Tidak langsung menyalakan lampu. Aku hanya duduk di sofa, membiarkan senja perlahan berubah menjadi malam.

​Ponselku berada di atas meja. Sudah hampir setengah jam aku hanya menatapnya. Akhirnya, aku mengambilnya dan membuka daftar kontak: Ayah.

​Jariku menggantung cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

​“Halo. Uhuk … uhuk ….” Suara itu masih sama. Tenang. Datar.

​“Yah ….”

​“El.”

​Beberapa detik kami hanya saling diam.

​“Ada apa?”

​“Aku … minggu depan wisuda. Tanggal dua puluh.”

​Di seberang sana terdengar tarikan napas pelan. “Syukurlah.”

​Tidak ada sorakan. Tidak ada tangisan. Hanya kata sederhana yang membuat dadaku mendadak sesak.

​“Kamu sudah makan?”

Aku tidak langsung menjawab. Entah kenapa rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Aku mengangguk tanpa sadar. “Ya ….”

​“Bagus.”

​Hening lagi.

“Uhuk! Uhuk!”

Aku mengernyit. “Ayah batuk?”

“Ya. Sedikit.”

​Percakapan kami kembali kehilangan arah, seolah kami hanya dua orang asing yang sedang memastikan administrasi berjalan baik.

​Tiba-tiba terdengar suara remaja dari kejauhan. “Ayah! Aku harus keluar sebentar.”

Otakku langsung menebak siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Tristan? ​Dadaku menegang. Tanpa sadar jemariku menggenggam ponsel lebih erat.

​“El?” Suara Ayah memanggilku lagi.

​“Aku … cuma mau kasih kabar itu.”

​“Kalau begitu—”

​“Duluan ya, Yah.” Aku buru-buru mengakhiri panggilan.

​Layar ponsel kembali gelap, memunculkan pantulan wajahku yang samar di sana. Entah sejak kapan, satu panggilan singkat dengan Ayah selalu berhasil membuat seluruh ruangan terasa jauh lebih sepi daripada sebelumnya.

***

​Hari wisuda akhirnya tiba.

Lihat selengkapnya