Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #25

Dia Rumahku

​Pagi-pagi di flat kecil kami selalu dimulai dengan kekacauan yang sama. Nala akan lebih dulu bangun, rambutnya masih berantakan, lalu membuka tirai lebar-lebar hingga cahaya Hong Kong menyerbu masuk tanpa permisi. Sementara aku akan menggerutu pelan, menarik selimut lebih tinggi menutupi kepala.

​“Sayang, nanti telat kerja.”

​“Lima menit lagi.”

​“Lima menitmu itu setengah jam.”

​Aku hanya mendengus, membuatnya terkikik sebelum akhirnya menarik paksa selimutku. Hampir setiap pagi kami mengulang adegan yang sama, dan anehnya aku tidak pernah benar-benar keberatan.

​Sementara Nala bersiap di depan cermin, aku bertugas membuat sarapan. Menu kami sederhana—roti panggang, telur, atau mi instan kalau akhir bulan mulai datang. Kadang-kadang aku sengaja membuat bentuk hati dari telur mata sapi hanya untuk melihat Nala memutar bola mata sambil menahan senyum.

​“Kamu norak.”

​“Tapi kamu makan juga.”

​“Iya …, sayang kalau dibuang.”

​Aku tertawa melihatnya diam-diam memotret sarapan itu sebelum menyentuhnya. Kebiasaan yang tidak pernah hilang.

​Kami berangkat hampir bersamaan. Aku menuju studio animasi, sementara Nala ke gedung perkantoran tempatnya bekerja. Jika jadwal kami sama, kami akan naik MTR bersama. Di dalam gerbong yang penuh sesak, kami berdiri berdempetan, berpegangan pada tiang yang sama. Sesekali, saat kereta berguncang, jemarinya akan mencari tanganku. Tidak erat, hanya saling menggenggam sebentar, lalu melepaskannya lagi ketika kereta berhenti dan penumpang mulai berdesakan keluar.

​Rasanya sederhana, tapi cukup untuk membuat hari yang melelahkan terasa lebih ringan.

​Malam hari adalah bagian favoritku. Kami pulang hampir bersamaan, membawa kantong belanja kecil dari minimarket bawah apartemen. Nala memasak sambil mengomel karena dapur kami terlalu sempit, sementara aku mencuci piring bahkan sebelum piring itu selesai dipakai.

​“Geser sedikit.”

​“Kamu yang geser.”

​“El ….”

​“Iya, iya.”

​Flat itu terlalu kecil untuk dua orang. Jika salah satu membuka kulkas, yang lain harus menunggu. Kalau aku menarik kursi, Nala harus memiringkan tubuh agar bisa lewat. Anehnya, ruang sesempit ini justru terasa lebih seperti rumah daripada rumah mana pun yang pernah kutinggali.

​Kadang, setelah makan malam, kami tidak melakukan apa-apa. Nala membaca laporan kantor di sofa sambil memangku laptop, sementara aku menggambar storyboard di meja kerja. Tidak ada percakapan. Hanya suara keyboard, gesekan pensil, dan dengungan pendingin ruangan tua.

​Sesekali aku mengangkat kepala. Nala juga. Tatapan kami bertemu, kami saling tersenyum kecil, lalu kembali pada pekerjaan masing-masing. Tak perlu kata-kata. Kehadiran saja sudah cukup.

​Di akhir pekan, kami mencuci pakaian bersama, berdebat soal warna sprei baru, membeli tanaman kecil yang entah kenapa selalu mati dalam dua minggu, lalu berjalan kaki tanpa tujuan menyusuri jalan-jalan Hong Kong.

​Kadang kami hanya membeli es krim, duduk di taman, melihat orang-orang berlalu-lalang. Kadang kami berbagi satu payung saat hujan turun tiba-tiba. Kadang kami pulang membawa bunga, kadang hanya membawa kelelahan. Namun setiap kali pintu flat itu tertutup di belakang kami, dunia seolah ikut tertinggal di luar.

​Aku mulai percaya bahwa mungkin beginilah rasanya hidup yang normal. Pagi untuk bekerja, malam untuk pulang, dan seseorang yang menunggumu di rumah.

​Aku tidak tahu bahwa kebahagiaan sering kali tidak datang dengan suara yang keras. Ia datang dengan sangat pelan. Lalu, tanpa kita sadari … mulai menghitung mundur menuju akhirnya.

***

​Jam di sudut monitor baru menunjukkan pukul delapan malam ketika sebagian besar gedung perkantoran di seberang jendela mulai memadamkan lampunya. Namun di studio tempatku bekerja, layar-layar komputer masih menyala terang. Suara klik tetikus, denting keyboard, dan dengung pendingin ruangan bercampur menjadi irama yang melelahkan.

​Aku baru saja mengembuskan napas lega setelah mengekspor adegan terakhir. “Done ….” gumamku pelan.

​Belum sempat kusandarkan punggung ke kursi, sebuah map tipis menghantam mejaku. Plak!

​Aku mendongak. Bosku berdiri tepat di depanku dengan wajah merah. Ia memutar monitor ke arahnya, menggeser timeline animasi beberapa detik, lalu menunjuk sebuah frame dengan telunjuk yang nyaris menyentuh layar. “Zhèlǐ!

​Ia mengulang bagian itu berkali-kali. Karakter yang kubuat memang bergerak sedikit kaku saat melompat—kesalahan kecil, namun baginya itu seperti dosa besar.

​“Fèiwù!” Seluruh ruangan mendadak sunyi. Beberapa rekan kerja pura-pura sibuk menatap monitor mereka. “Tài lípǔ le!” Tangannya membanting stylus ke meja. “Nǐ nǎozi yǒu wèntí ma?”

​Aku hanya berdiri. “Ma … maaf.”

​“Chóngzuò!”

​Kerjakan ulang. Aku kembali duduk. Timeline yang tadi hampir selesai kembali kosong di kepalaku. Kursor bergerak lagi, frame demi frame, garis demi garis. Ketika akhirnya aku menyimpan revisi itu, jam di komputer menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh tiga menit malam.

Aku pulang dengan lesu.

​Lift apartemen membawaku naik dengan tubuh yang rasanya bukan lagi milikku. Pantulan wajahku di dinding stainless steel tampak asing; mata merah, rambut berantakan, leher pegal.

​Di depan pintu flat, tanganku berhenti di gagang. Aku menarik napas panjang, mengusap wajah, dan menepuk kedua pipi pelan untuk tersenyum. Barulah pintu kubuka. “Aku pulang.”

​Nala muncul dari dapur sambil membawa dua mangkuk mi hangat. “Kamu lapar?” Senyumnya tetap sama seperti dulu.

​Aku membalas senyum itu sebaik mungkin. “Banget.”

Nama mendekat. Mengendus jaketku. “Apa kamu merokok lagi?”

Aku tersenyum kecil.

Dia mendengus, lalu membuka jaketku. “Sudah kubilang, rokok nggak baik buat kamu. Biar langsung kucuci jaket ini.”

Lihat selengkapnya