Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #27

Hilang

Pasta gigi keluar bersamaan dari dua tube yang sama. Aku menggosok gigi di sisi kiri wastafel, sementara Nala berdiri di sebelahku dengan mata masih terpaku pada layar ponselnya. Pantulan kami bertemu di cermin hanya sepersekian detik, lalu sama-sama berpaling.

Tak ada lagi saling menyenggol bahu seperti dulu. Tak ada lagi protes karena aku terlalu lama berkaca atau sengaja mencipratkan air ke wajahnya.

Nala lebih dulu selesai. Ia berkumur, menyampirkan handuk kecil di pundak, lalu meraih tas kerjanya.

“Aku berangkat.”

Aku meludah ke wastafel sebelum menjawab pelan. “Hati-hati.”

Pintu flat tertutup.

Klik.

Suaranya terdengar begitu kecil, tetapi entah mengapa terasa seperti sesuatu yang perlahan patah di dalam dada.

Hubungan kami tidak hancur dalam semalam. Ia membusuk pelan-pelan.

Awalnya hanya percakapan yang semakin pendek. “Sudah makan?” “Sudah.” “Pulang jam berapa?” “Lembur.” Lalu berubah menjadi pesan-pesan yang dibalas berjam-jam kemudian, sampai akhirnya kami berhenti saling bertanya. Kami sama-sama tahu, apa pun jawabannya tidak akan mengubah apa pun.

Flat kecil yang dulu penuh tawa kini lebih mirip ruang transit. Kadang aku sudah tidur saat Nala pulang. Kadang justru aku yang baru membuka pintu ketika lampu kamar sudah padam. Kami tinggal di bawah atap yang sama, tetapi seolah hidup di dua dunia yang berbeda.

​​Bahkan makan malam pun mulai kehilangan maknanya. Aku memanaskan makanan di microwave, sementara Nala makan sambil membuka laptop kantor. Aku mencoba bercerita tentang proyek animasi yang sedang kukerjakan, tapi kalimatku berhenti di tengah ketika melihat matanya tetap terpaku pada laporan keuangan.

​“Kenapa?”

​“Hm?” Ia mendongak bingung.

​“Nggak jadi.”

​“Oh.”

​Lalu kami kembali diam. Suara microwave berbunyi lebih nyaring daripada percakapan kami.

​Di studio, keadaan tidak kalah buruk. Pagi itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat. Bos kami berdiri di depan layar presentasi dengan wajah kusut. Beberapa kursi kosong; dua animator senior bahkan tidak datang.

​“Investor utama menarik pendanaan.”

​Ruangan langsung sunyi. Slide berikutnya berganti, menampilkan angka-angka merah yang memenuhi layar.

​“Proyek dihentikan sementara.”

​Dadaku langsung mengencang.

​“Itu berarti …,” seseorang mulai bertanya.

​“Tidak ada lembur berbayar. Gaji bulan ini mungkin terlambat.”

​Mungkin. Satu kata yang paling kubenci.

​Aku keluar dari ruang rapat dengan langkah gontai. Di lorong, kulihat beberapa rekan kerja mulai memperbarui CV mereka. Ada yang menelepon istrinya, ada pula yang duduk memegangi kepala. Aku hanya menatap jendela. Gedung-gedung Hong Kong masih berdiri megah seperti biasa; tidak ada yang peduli bahwa hidup seseorang baru saja runtuh beberapa lantai di bawahnya.

​Malam itu aku pulang lebih larut dari biasanya. Lampu ruang tengah masih menyala. Nala tertidur di sofa dengan laptop yang masih terbuka di pangkuannya, menampilkan grafik-grafik yang memenuhi layar. Kacamata yang jarang ia pakai kini masih bertengger di hidungnya.

Lihat selengkapnya