Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #29

Seporsi Kekalahan

​Hari-hari di Sham Shui Po berlalu dalam ritme yang ganjil. Tinggal bersama Qiu Qiu bukanlah hal sulit; kami telah berbagi aroma kaus kaki berkeringat dan mi instan selama tiga tahun di asrama kampus. Rumah atap ini—sebuah kotak beton tambahan yang dibangun ilegal di atas gedung tua—memang panas menyengat saat siang dan berisik oleh deru mesin AC tetangga, tapi di sinilah aku menarik napas.

​Aku mengambil peran sebagai "penjaga rumah". Aku memasak nasi, menyapu lantai semen yang kasar, dan telaten menyirami tanaman-tanaman hijau milik Qiu Qiu di dek rooftop.  Namun, pekerjaan rumah hanya menghabiskan beberapa jam dalam sehari. Sisanya … adalah perang yang selalu berakhir dengan kekalahan.

Setiap pagi aku membuka laptop tua di meja lipat dekat jendela. Secangkir kopi hitam di sebelah kanan, buku catatan di sebelah kiri. Berbagai situs lowongan kubuka bersamaan. LinkedIn. JobsDB. Indeed. Portal-portal lokal Hong Kong yang bahkan baru pertama kali kudengar namanya.

Animator. Storyboard artist. Motion designer. Illustrator. Production assistant. Apa pun yang masih berhubungan dengan dunia yang kucintai.

Aku mengirim lamaran sebanyak mungkin. Satu. Lima. Sepuluh. Dua puluh. Portofolioku kukirim berulang-ulang, sampai aku hafal isi surel yang kutulis.

“Dear Hiring Manager ….”

Hari pertama, aku masih bersemangat. Hari ketiga, aku mulai rutin memeriksa kotak masuk setiap beberapa menit. Minggu kedua, balasan mulai berdatangan.

We regret to inform you ….”

Thank you for your interest ….”

We have decided to proceed with another candidate ….”

Ada juga yang bahkan tidak pernah membalas.

Aku terus memperbaiki CV. Mengubah tata letak. Mengganti foto. Menulis ulang deskripsi pengalaman kerja. Meminta Qiu Qiu memeriksa tata bahasa Inggrisku. Mengirim lagi. Menunggu lagi.

Tetap sama.

Tidak.

Tidak.

Tidak.

Suatu sore aku bahkan mendatangi beberapa studio animasi secara langsung. Mengenakan kemeja paling rapi yang kupunya, membawa map berisi portofolio cetak.

Resepsionis menerima berkas itu dengan senyum profesional.

“Kami akan menghubungi Anda.”

Kalimat yang sopan untuk mengatakan, jangan terlalu berharap. Aku pulang dengan langkah yang semakin berat.

Aku bahkan memperluas pencarian. Tidak harus animator. Kasir. Barista. Pelayan restoran. Petugas gudang. Admin. Apa saja. Aku hanya butuh pekerjaan. Namun, visa kerja dan pengalaman lokal selalu menjadi tembok yang terlalu tinggi untuk kupanjat.

Pagi itu Qiu Qiu pergi lebih awal.

“Aku sudah telat. Bisa tolong pergi ke pasar nanti?” ucapnya sambil menyodorkan catatan dan kartu uangnya.

Aku langsung mengangguk, meski menerima kartu itu memberatkanku.

“Sudah kucatat apa yang kuperlukan. Jangan melupakannya, terutama rumput laut.”

“Tenang. Aku nggak akan melupakan makanan favoritmu itu.”

Akhirnya dia pun pergi.

Aku langsung membersihkan rumah seperti biasa. Aku selalu menjaga jarak dengan barang-barangnya sebagai bentuk hormat. Qiu Qiu masih sama seperti dulu: perfeksionis dan sangat rapi.

Saat aku merapikan gantungan baju, aku meraih jaket kulit mahal yang dipakai Qiu Qiu saat malam di klub itu. Aku teringat Jiangxi. Si brengsek itu pernah memakai model yang persis sama. Namun, saat jemariku menyentuh tepian kerah, aku mengerutkan kening.

​Ada jahitan yang sedikit melenceng di bagian dalam. Kasar dan tidak simetris.

​Aku tahu satu atau dua hal tentang detail desain. Brand mewah sekelas itu tidak mungkin membiarkan satu senti pun benang keluar dari jalur. Ini barang palsu. Super fake, mungkin, tapi tetap saja palsu. Aku tertegun sejenak, lalu mengangkat bahu dan menggantungnya kembali. Aku tidak berhak menghakimi. Dikasih tumpangan saat aku hampir menjadi gelandangan sudah mukjizat; apa peduliku jika temanku ini hanya berpura-pura kaya?

​Jadwal kerja Qiu Qiu benar-benar aneh. Kadang ia menghilang seharian, kadang ia pulang di tengah siang bolong, lalu pergi lagi saat tengah malam.

​Menjelang sore aku keluar membeli beberapa kebutuhan dapur. Sekantung beras lima kilogram menggantung di tangan kanan, sementara kantong plastik berisi telur, sayuran, dan mi instan mengayun pelan di tangan kiri.

Lihat selengkapnya