Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #30

Dragon Moon

​Hari-hariku berubah menjadi pola yang membosankan. Pagi membagikan brosur, sore mengangkat kardus di gudang, dan kadang malam membantu membersihkan restoran kecil di Yau Ma Tei demi tambahan beberapa dolar.

​Tubuhku mulai mengenali rasa pegal sebagai keadaan normal. Telapak tanganku dipenuhi kapalan baru, bahuku selalu terasa berat. Bahkan saat tidur, aku masih bermimpi sedang mengangkat kotak-kotak besar atau mengejar orang-orang yang menolak menerima brosurku.

​Yang paling melelahkan bukan pekerjaannya, melainkan perasaan bahwa semua yang kulakukan tidak membawaku ke mana-mana. Aku hanya bertahan satu hari … untuk bertahan di hari berikutnya.

​Suatu malam aku pulang hampir tengah malam. Saat membuka pintu, Qiu Qiu sedang duduk di meja makan dengan laptopnya. Ia hanya mengangkat kepala sekilas ketika melihatku masuk.

​“Kau terlambat.”

​Aku mengangguk pelan. “Ada tambahan shift.”

​Aku meletakkan tas begitu saja di lantai. Bahuku langsung terasa ringan, tetapi kakiku justru semakin berat.

​Qiu Qiu menutup layar laptopnya. “Berapa jam hari ini?”

​“Dua belas.”

​“Berapa yang kau dapat?”

​Aku menyebut angkanya, dan ia menghitung cepat di kepalanya. “Lalu besok?”

​“Masih sama.”

​Qiu Qiu mengembuskan napas pendek. “Itu tidak cocok untukmu.”

​Aku terkekeh hambar. “Memangnya aku masih punya hak memilih?”

​“Bukan begitu.” ​Ia menatapku beberapa detik. Tatapannya datar seperti biasa, tapi kali ini terasa jauh lebih lama. “Setiap hari kau pulang dengan wajah yang semakin kosong.”

​Aku terdiam.

​“Kau berhenti menggambar. Kau berhenti membaca. Bahkan kau sudah berhenti melihat langit dari rooftop.”

​Kalimat terakhir itu membuatku mendongak. Aku bahkan tidak sadar, dulu hampir setiap malam aku naik ke atap hanya untuk melihat lampu-lampu Hong Kong. Sudah berapa lama aku tidak melakukannya?

​Qiu Qiu melipat kedua tangannya di atas meja. “El …. Aku pernah melihat orang bekerja karena ingin hidup. Aku juga pernah melihat orang bekerja karena takut mati.” Tatapannya tidak berpindah dariku. “Kau termasuk yang kedua.”

​Dadaku terasa sesak. “Aku hanya sedang berusaha bertahan.”

​“Tidak.” Jawaban itu datang terlalu cepat. “Kau sedang menghukum dirimu sendiri. Kau pikir dengan membuat dirimu selelah mungkin, semua rasa sakit itu akan hilang.” Ia mengangkat cangkir tehnya, lalu meletakkannya kembali. “Nyatanya tidak.”

​Aku menunduk. Tanganku masih gemetar karena seharian bekerja.

​Qiu Qiu kembali bicara, kali ini jauh lebih pelan. “Kau tahu kenapa aku mengizinkanmu tinggal di sini?”

​Aku menatapnya dalam.

​“Karena aku pikir kau hanya butuh waktu.” Ia menatapku lurus. “Tapi sekarang … kau hanya sedang menunggu dirimu habis.”

​Aku membeku. Tidak ada nada menghakimi, tidak ada kemarahan. Justru karena diucapkan setenang itu, kalimatnya terasa seperti pisau yang perlahan masuk ke dadaku.

​Qiu Qiu berdiri, meraih cangkirnya. “Sampai kapan kau mau hidup seperti orang yang sudah menyerah, El?”

​Ia berjalan menuju dapur. Sebelum menghilang di balik dinding, ia berhenti tanpa menoleh. “Kalau Nala melihatmu sekarang … dia mungkin tidak akan mengenalimu lagi.”

Lihat selengkapnya