Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #35

Panggilan dari Masa Lalu

​Suara hujan di luar seolah tenggelam oleh deru napas Tristan yang memburu. Air menetes dari ujung seragamnya, menciptakan genangan yang terus meluas di lantai.

​“Gue kehujanan, bakal gue bersihin lantainya nanti,” gumam Tristan. Tangannya memeras erat ujung seragamnya hingga buku jarinya memutih. Jaketnya naik-turun tak stabil, dan sorot matanya yang memerah itu gemetar hebat.

​Aku tahu getaran itu. Aku tahu persis rasanya saat seluruh dunia terasa menekan dadamu hingga kau ingin meledak. Tristan melangkah, mencoba melewatiku seperti bayangan.

​“Kenapa?” suaraku menghentikan langkahnya. Aku berbalik. “Kenapa kamu hujan-hujanan, Tris?”

​“Apa maksud lo?” Ia menoleh, tatapannya liar.

​“Kenapa kamu membiarkan dirimu basah kuyup? Apa yang coba kamu sembunyikan di bawah air itu? Air mata? Atau sesuatu yang lain?” tuntutku, suaraku mulai meninggi.

​Tristan terdiam. Wajahnya yang pucat kian memerah. “Lo … pengin jawaban apa?”

​Aku tak sempat menjawab.

Tristan maju satu langkah, menekan setiap kata dengan kebencian yang murni. “Udah gue bilang, jangan pura-pura peduli. Rumah ini nggak bakal jadi milik lo cuma dengan akting kakak teladan ini!”

​Ia berbalik, melangkah cepat menuju ruang keluarga. Jejak air di lantai semakin panjang, seperti luka yang diseret. Aku mengejarnya, amarah dan rasa iba bergejolak menjadi satu. “Kenapa? Mengapa kamu begitu penuh kebencian, Tris!”

​Tristan berbalik lagi. Kali ini dia berteriak, suaranya melengking menyakitkan. “Kenapa? Lo masih tanya kenapa?! Lo selalu menganggap gue nggak ada! Lo nyalahin gue atas segala yang menimpa lo, lalu pergi begitu saja! Lo buat Ayah hancur karena khawatir, dan sekarang lo pulang setelah dia meninggal dan tiba-tiba bersikap seperti kakak? Lo pikir apa yang sedang lo lakuin, bajingan!”

​Aku tercekat. Frustrasi di matanya, kegugupannya setiap malam, pandangan kosongnya … semuanya kini terbaca jelas. Dia sedang meniru jalanku. Dia sedang duduk di ruangan dan semua orang menghakiminya tanpa ada pertolongan, seperti aku dulu.

​Tanpa pikir panjang, aku melangkah maju dan menyambar tangannya. Tristan meronta, tapi aku lebih kuat. Aku menyibak lengan seragam olahraganya yang basah. Di pergelangan tangannya tak ada apa-apa, tapi saat aku membalikkan punggung lengannya ke atas, duniaku runtuh.

​Di sana, di kulit yang seharusnya mulus itu, berjajar sayatan-sayatan horor. Cukup banyak. Dua di antaranya masih merah meradang, seolah baru saja dibuat semalam. Dia menyakiti dirinya sendiri. Persis seperti yang kulakukan di saat remaja dulu.

​“Sedang apa lo?!” teriak Tristan sambil menarik tangannya kasar. Ia mundur hingga menabrak bufet kayu di ruang tengah.

​Aku menatapnya dalam. “Tenanglah … kita perlu bicara. Duduklah dulu.”

“AAAAGGGHHH!!!” Tristan menjerit. Dengan satu gerakan kalap, ia menyapu jejeran gelas kaca di atas bifet.

​Prannggg!

​Suara pecahan itu menggelegar, membangkitkan trauma masa kecilku yang terkubur dalam.

​“GUE NGGAK MAU DUDUK!”

Ingatan tentang malam kelahiran Tristan mendadak menyerbu; saat aku sendirian di rumah, memecahkan gelas karena ketakutan menanti kabar Ibu, dan berakhir meringkuk di pojok dapur. Dadaku naik-turun, napas mulai tersendat-sendat. Mataku terpaku pada pecahan kaca yang berserakan di lantai, mengkilap tajam di bawah lampu.

​“Jangan suruh gue duduk! Lo nggak berhak memerintah gue! Lo bukan Papa!” Tristan benar-benar meledak. Urat lehernya menonjol. “Lihat gue, bajingan! Lihat!”

Lihat selengkapnya