Mungkin Akulah Masalahnya

Ulat Bulu
Chapter #36

Aku Seorang Kakak

​Bau antiseptik dan aroma terapi lavendel di klinik ini masih sama, sebuah kombinasi yang dulu sangat kubenci karena mengingatkanku pada kerapuhan. Aku berdiri di resepsionis dan Tristan di sebelahku dengan tudung sweter menutupi kepalanya. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menunggu vonis.

​“Elias?”

​Suara itu membuatku mendongak. Seorang wanita dengan rambut yang kini disanggul rapi berdiri di ambang pintu ruangan. Erika.

​“Mbak Erika?” aku tercengang, nyaris tak percaya.

“Elias?” Mbak ​Erika tersenyum, sebuah senyuman tenang yang dulu menjadi jangkar dalam badai mentalku. Dia mendekat. ​“Kau sudah besar.”

“Mbak masih mengenaliku?”

​“Aku tidak akan pernah melupakan pasien pertamaku,” jawabnya tulus.

​Seorang perawat menghampiri Mbak Erika dan menyerahkan sebuah berkas. Mbak Erika membukanya, membacanya sekilas, lalu keningnya berkerut. Ia menatapku dengan tatapan menyelidik. “Kau tidak datang untuk dirimu sendiri?”

​Aku tersenyum kecil, sebuah senyuman yang penuh arti. Aku melirik ke arah Tristan yang masih menunduk. “Aku datang sebagai walinya, Mbak.”

Mbak ​Erika terdiam sejenak, matanya beralih ke arah Tristan, lalu kembali padaku. Ada kilatan haru sekaligus prihatin di matanya. Ia mengangguk pelan. “Mari, Tristan. Masuklah bersamaku.”

Mereka pun masuk.

​Aku duduk di kursi tunggu. Menit demi menit terasa seperti jam. Ingatan masa kelam saat aku duduk di sini dengan seragam SMA, sendirian, ketakutan, dan hancur, mulai menghantuiku. Rasanya seperti melihat diriku sendiri yang sedang masuk ke tempat itu.

​Setelah hampir dua jam, pintu terbuka. Durasi yang tidak kuduga sama sekali.

Tristan keluar dengan wajah yang lebih tenang namun tetap kosong. Mbak Erika menyusul di belakangnya, lalu menatapku dan mengangguk.

​Aku menyuruh Tristan menunggu di ruang depan. Dengan langkah berat, aku masuk.

​“Duduklah,” Erika mempersilakan. Ia bersandar di kursinya, menatapku dengan santai namun dalam. “Aku tak menyangka. Elias yang dulu datang ke sini tanpa wali, kini justru menjadi wali untuk seseorang.”

​Aku tersenyum mungil, pahit. “Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Mbak.”

Mbak ​Erika menunduk, menatap papan dokumen di pangkuannya. Ekspresinya berubah serius. “Elias, Tristan mengalami depresi. Sama sepertimu dulu, tapi kemungkinannya … ini lebih parah.”

​Jantungku rasanya berhenti berdetak. “Apa maksudnya lebih parah?” tanyaku terbata.

​“El, kau ingat saat kau datang ke sini dulu? Kau datang sendiri. Itu adalah sebuah keberanian. Kau tahu kau terluka dan kau tahu kau butuh bantuan. Kau lebih kuat dari yang kau duga saat itu,” Mbak Erika menatapku lekat.

​Aku menunduk, teringat betapa aku dulu merasa sangat kerdil.

​“Tristan tidak seperti itu,” lanjut Mbak Erika. “Dia memendam semuanya sendiri. Dia terus menyalahkan dirinya atas kematian ibu kalian, yang bahkan tidak pernah ia kenal, dan dia merasa bertanggung jawab atas kepergianmu ke Hong Kong. Dia merasa dirinya adalah penyebab hancurnya keluarga ini.”

​Rasa sesak kembali menghantam dadaku. Jadi selama ini, dia memikul beban yang aku tinggalkan?

​“Dia harus istirahat dari semua aktivitas,” ujar Mbak Erika tegas. “Dia harus bertemu psikiater. Tristan butuh pertolongan klinis lebih lanjut, Elias. Ini bukan permintaan.”

​Aku memeras wajahku dengan kedua tangan. Kelu. “Tapi Mbak … ujian akhir sekolahnya minggu depan. Dia harus lulus.”

​“Itu masalahnya,” Mbak Erika menggeleng pelan. “Aku khawatir jika dia dipaksa menghadapi tekanan ujian sekarang, dia akan semakin stres. Kondisinya sangat tidak stabil. Dia sudah melakukan self-harm. Akan selalu ada kemungkinan dia melakukan lebih dari menyakiti.”

Lihat selengkapnya